Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Stigma Keluarga Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 01 December 2016
kategori : Umum - 0 komentar

Stigma Keluarga Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia

 

 

Ah. Yusuf1*, Rr. Dian Tristiana1, Hanik Endang Nihayati1, Rizki Fitryasari1, Nurullia Hanum Hilfida2

1Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas,  Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Kampus C Mulyorejo Surabaya 60115

2Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

*Korespondensi: ah-yusuf@fkp.unair.ac.id

 

Kata kunci: stigma, keluarga, gangguan jiwa

 

Pendahuluan

Jiwa adalah unsur manusia yang bersifat non materi, tetapi fungsi dan manifestasinya sangat terkait dengan materi. Gangguan jiwa merupakan sebuah sindroma perilaku, berkaitan dengan gejala penderitaan, keterbatasan, ketidakmampuan dalam menjalankan fungsi penting manusia [1], sehingga dapat menimbulkan stigma. Stigma tidak hanya terjadi pada penderita gangguan jiwa, tetapi keluarga sangat merasakan dampaknya [2, 4]. Stigma adalah persepsi negatif, perasaan, emosi, dan sikap menghindar dari masyarakat yang dirasakan keluarga sehingga menimbulkan konsekuensi baik secara emosional, sosial, interpersonal dan finansial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran stigma keluarga yang memiliki salah satu anggota keluarga mengalami gangguan jiwa.

 

Metode 

Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologis dengan 8 orang partisipan yang memiliki anggota keluarga gangguan jiwa,  lama menderita minimal 3 tahun, tinggal bersama pasien, dipilih dengan purposif sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, menggunakan media player recorder (MP 4) dan catatan lapangan, data diolah dengan analisis tematik menurut Colaizzi [3].

 

Hasil dan Pembahasan

Stigma yang dirasakan keluarga terdiri dari 23 tematik, meliputi; sikap keluarga, persepsi, pengetahuan, jenis perawatan, sumber daya pendukung, kepatuhan terhadap aturan perawatan, upaya keluarga, respon kehilangan, beban keluarga, respon masyarakat, penyesuaian diri, stigma masyarakat, stigma keluarga, sikap masyarakat ke keluarga, beban keluarga, keretakan hubungan keluarga, gangguan aktivitas, status kesehatan, hubungan sosial, kesembuhan, menjalankan peran, tetap merawat, keyakinan, dan mewujudkan keinginan.

Stigma keluarga terdiri dari perasaan keluarga dan sikap masyarakat. Respon masyarakat yang dirasakan keluarga antara lain menghindar, menyalahkan, menghina, tidak menghargai, dijauhi, tidak suka dan membicarakan kepada orang lain di belakang keluarga. Akibatnya respon keluarga menjadi malu dan membatasi hubungan sosial dengan masyarakat.

Keluarga merasa disalahkan dinyatakan oleh partisipan sebagai berikut:

“....... ya itu aku ya itu wes kesalahan disalahno sama saudara-saudara sama temen-temen, “kamu memange salahmu, arek durung kerjo gurung kuliah sekolah gurung mari kok ngerabino, gak kuat (menggelengkan kepala) pikirane iku gurung waktue, nanggung beban.....” (P1)

Keluarga merasa dihina, tidak dihargai dan diajuhi,  dinyatakan oleh partisipan melalui transkrip wawancara berikut:

“.......kadang-kadang lewat gitu ...duduk gitu tau-tau itu (keluarga) dikasih tetangga makanan basi gitu... itu orang tua kan sakit...” (L5), “....kalo saya sapa itu “mbak..” gak ada respon e ngono loh mbak.. mek mensem tok biasa wes mari ngono...” (P8), “...... mangkae saudara-saudaraku tuh ndak mau semua deket sama saya ...” (P1), “....dadi gak seneng saya toh,, ada yang nggak suka...”.“....iya beda ya pandangannya, jarang nyapa...” (P8), “...kalo yang tidak menyadari ya kadang ya kalo mengolok sih gak pernah.. cuma di belakang itu ngomel...“, mereka juga (tangan menunjuk) “adek e kok gak di..,. padahal nggak tahu,, Cuma sekedar ngomong...” (L5), dan sebagainya.

Berikut merupakan rangkaian tematik stigma masyarakat yang dirasakan keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Simpulan

Sampai saat ini stigma masyarakat tentang gangguan jiwa masih dirasakan oleh keluarga, menyebabkan beban keluarga, keluarga merasakan keretakan hubungan keluarga, gangguan aktivitas keluarga, penurunan status kesehatan dan hubungan sosial terbatas. Harapan keluarga adalah anggota keluarga sembuh dan dapat hidup menjalankan aktivitas dengan normal, menjalankan peran sesuai dengan struktur keluarga, tetap merawat, keyakinan/spiritualitas yang meningkat, dan dapat mewujudkan keinginan keluarga. Oleh karena itu, perlu dikembangkan model holistik dalam merawat pasien gangguan jiwa.

 

Daftar Pustaka

[1]  Yusuf, A., Rizky F. PK., Hanik EN. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

[2]  Smith, A & Caswellc C. 2010. Stigma and Mental Illness: Investigating Attitudes of Mental Health and Non-Mental Health Professionals and Trainees, Journal of Humanistic Counselling, Education and Development, vol. 9, no. 2.

[3]  Smith, J. A., Flowers, P & Larkin, M. 2009. Interpretative Phenomenological Analysis: Theory, Method  and Research. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore, Washington: Sage.

[4]   Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

566176