Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Strategi Mempersiapkan Tenaga Kesehatan yang Berkualitas dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 10 January 2017
kategori : Nursing Board - 0 komentar

Pendahuluan

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah merupakan gabungan sekumpulan warga negara (masyarakat) dari seluruh wilayah Negara Asia Tenggara yaitu Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, Philipina, Indonesia dan Brunai Darussalam. Bersamaan dengan berlakunya Asean Free Trade Area (AFTA) 2015, maka seluruh masyarakat se Asia Tenggara telah mengambil kesepakatan untuk membangun bersama dalam semua bidang secara global.

Kesepakatan untuk membangun bersama dalam semua bidang secara global ini membawa konsekwensi yang sangat tinggi, bahwa semua negara wajib patuh pada aturan bersama juga. Jumlah seluruh masyarakat di wilayah Asia Tenggara ini encapai lebih dari 600 juta manusia,  sementara beberapa negara di Asia Tenggara ini merupakan wilayah yang berbeda, dengan berbagai etnis dan karakter masyarakat yang berbeda pula. Sejarah dan budaya nya sangat beragam dengan menyisakan beberapa sejarah kusam masa lalu. Ada banyak masalah yang mungkin dapat terjadi, mengingat mayoritas negara Asia Tenggara dulunya adalah merupakan satu wilayah Nusantara, terus berkembang dan merdeka sesuai karakter penjajah masing-masing.

Perbedaan sistem politis kenegaraan (Demokrasi, Sosialis, dan Monarchi) dapat memicu perselisihan dan perbedaan pendapat yang dapat membahayakan integritas antar negara. Perbedaan budaya dan agama yang dianut dengan berbagai perbedaan ritual keagamaan dapat menjadi potensial konflik yang harus dicegah bersama-sama. Kebersamaan adalah sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, tetapi potensial konflik juga harus diantisipasi, sehingga semua masyarakat dapat menjunjung tinggi semua kesepakatan yang telah dibangun dan disetujui bersama.

Kesepakatan bersama ini akan menimbulkan tantangan sekaligus peluang bagi semua pihak untuk dapat bersaing, beradaptasi, dan mengembangkan diri, mengambil peluang mensejahterakan diri, tanpa harus melemahkan, mencurangi atau mengabaikan pihak lain yang telah menjalin kesepakatan bersama.    

 

Tantangan Global bagi Tenaga Kesehatan

Tantangan global dalam bidang kesehatan sangat terkait dengan berlakunya AFTA pada akhir Desember 2015. Globalisasi pada dasarnya adalah merupakan proses integrasi Internasional yangterjadi karena adanya pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan berbagai aspek budaya lainnya. Aspek dasar globalisasi adalah pembebasan ilmu pengetahuan, perdagangan dan transaksi, pergerakan modal dan investasi, migrasi dan perpindahan manusia bagi seluruh anggota masyarakat ekonomi Asean. Semua kesepuluh Negara Asia Tenggara ini telah sepakat untuk melaksanakan berbagai keputusan terkait dengan General Agreement on Tarif and Trade (GATT) dan General Agreement on Trade and Services (GATS).

Globalisasi di Bidang Kesehatan merupakan perlusan globalisasi bidang ekonomi (WTO), Indonesia telah meratifikasi WTO dengan undang-undang nomor 7 tahun 1994, Indonesia adalah anggota WTO, maka otomatis harus taat pada aturan main Internasional. WTO adalah merupakan perdagangan Internasional.

Beberapa penawaran yang sudah ditawarkan dan disepakati dalam perdangan bebas antara lain tentang pelayanan dokter spesialis, dokter gigi  spesialis, pelayanan rumah sakit, pelayanan lain termasuk keperawatan.

Memperhatikan berbagai sektor yang telah ditawarkan ini maka setiap orang dan profesi di Indonesia wajib dapat bersaing dengan semua penyedia layanan yang ada, termasuk layanan perawatan. Saat ini, persaingan perawat tidak hanya datang dri dalam negeri, tetapi juga pesaing yang datang dari 10 Negara Asia Tenggara, dengan berbagai kompetensi dan keahliannya.

Meskipun demikian, era global ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi perawat untuk turut ambil bagian, meningkatkan kompetensi, dan keterampilan. Berbagsi keterampilan yang wajib dikuasai perawat adalah keterampilan intelektual, teknikal dan interpersonal. Keterampilan intelektual meliputi semua dasar ilmu tentang perawat dan keperawatan, upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam pelayanan keterampilan dan semua dasar tindakan asuhan keperawatan. Keterampilan teknikal meliputi semua tindakan teknis keperawatan. Keterampilan interpersonal adalah ciri khas kepribadian Perawat Indonesia harus di munculkan. Apabila perawat Indonesia dapat memiliki 3 keterampilan dasar ini, Insya Allah masih tetap akan mampu bersaing dengan seluruh perawat Asia Tenggara.

 

Persaingan yang akan Muncul 

Persaingan yang akan muncul terkait adanya kesepakatan perdagangan bebas adalah akan terjadi cross border provider, consumption abboard, commercial present dan movement of natural person.

Cross Border Provider

Cross border provider adalah bebas melintas batas bagi semua provider (penyedia layanan kesehatan atau keperawatan). Kondisi ini melibatkan seluruh sarana dan metoda pelayanan kesehatan, termasuk didalamnya adalah tele-health (pelayanan kesehatan jarak jauh). Dengan kemajuan teknologi saat ini, pemberian telehealth sangat dimungkinkan, sehingga bisa jadi suatu rumh sakit di Surabaya, melakukan tindakan operasi khusus dengan instruktur dari luar negeri.

Keadaan ini digunkan untuk meningkatkan layanan rumah sakit di Surabaya tetapi menjadikan pelayanan terstandar luar negeri. Oleh karena itu, apabila rumh sakit tidak siap bersaing, maka kita akan ditinggalkan oleh pelanggan. Jika memungkinkan setiap rumah sakit, harus mampu memberikan pelayanan berstandar luar negeri, sehingga operasi yang canggih sekalipun dapat dilaksanakan di Surabaya. Dengan demikian kita sudah mampu bersaing dalam bidang cross border provider.

 

Consumption Abboard

Budaya sebagian masyarakat Indonesia yang sedikit-sedikit ketikasakit harus berobat ke Luar Negeri sepertinya merupakan budaya yang sulit di cegah perkembangannya, apabila rumah sakit dalamnegeri tidak segera meningkatkan standar mutu layanannya. Bagi para pengusaha rumah sakit, buatlah pelayanan kita tidak kalah dengan luar negeri. Jadikanlah rumah sakit kita menjadi rumah sakit yang bergengsi, sehingga masyarakat bisa bangga apabila dirawat di rumah sakit yg mempunyai ciri khas.

Dengan kesiapan ini, kita akan dapat meminimalkan budaya berobat ke luar negeri, jika memang semua masalah dapat diatasi di dalam negeri. Masyarakat kita saat ini sudah sangat jeli memilih pelayanan, mahal tidak jadi hambatan. Bahkan mereka lebih suka dirawat di rumah sakit yang sangat mahal, karena dapat mengindikasikan status sosial ekonomi mereka. Buatlah rumah sakit kita menjadi rumah sakit berdaya saing tinggi dan membuat bangga bagi pasien yang dilayani.

 

Commercial Present

Commercial present merupakan suatu upaya penyedia jasa layanan rumh sakit yang membuka usaha di Indonesia. Keadaan ini tidak dapat kita halangi karena mutual recogmition agreement yang ada memang telah mengijinkan kegiatan ini. Oleh karena itu, sekali lagi kemampuan rumah sakit dalam negeri untuk mampu bersaing menjadi utama dalah menghadapi tantangan commercial present.

 

Movement of Natural Person

Movement of natural person adalah kebebasan setiap orang untuk mencari pekerjaan diamana saja sesuai dengan kesepakatan yang telah terjadi dalam globalisasi. Berbagai persyaratan diperlukan untuk dapat mengambil tantangan ini, antara lain kesiapan bahasa, budaya kerja, mental dan keterampilan yang harus dimiliki. Belum lagi masalah regulasi yang harus dijalani untuk mendapatkan pekerjaan di negeri yang dituju.

Setiap negara mempunyai aturan yang berbeda, budaya kerja yang berbeda, standar gaji yang berbeda, tetapi tetap sesuai kesepakatan bersama, oleh karena itu, kesiapan tenaga kerja muda untuk bersaing dalam kancah ini menjadi sangat penting. Bagi siapa yang menginginkan memperoleh peluang lebih baik, harus menyiapkan diri lebih dariyang lain. Inilah kunci utama meraih sukses dalam menghadapi tantangan globalisasi.

 

 

Strategi Menghadapi Persaingan di Era MEA

Semua tenaga profesional harus mengadakan perbaikan di semua bidang untuk menghadapi persaingan di era masyarakat ekonomi Asean. Arsitektur dan Insinyur harus mengadakan peningkatan kinerja untuk memperoleh pengakuan dan registrasi minimal setara atau diatas level kompetensi insinyur dan arsitek di tingkat Asean.

Perawat harus mengadakan peningkatan kemampuan dan keahlian, pengalaman dan kinerja nyata dalam memberikan asuhan keperawatan. Dokter spesialis, dokter gigi spesialis, termasuk akuntan harus mendapatkan pengakuan registrasi bilateral yang dapat diakui oleh kedua negara penyedia dan yang dituju.

            Semua profesi harus mematuhi segala kesepatan yang telah ditanda tangani dalam memorandum yang berbentuk mutual recognition agreements / arrangement (MRA), mulai dari kualifikasi tenaga, kompetensi yang dipersyaratkan, prosedur untuk memperoleh movement of natural person sampai berbagai aturan perekonomian serta pajak yang harus ditanggung ketika menyelenggarakan movement of natural person. Indonesia sendiri telah sepakat dengan isi smua MRA yang telah ditanda tangani. Telah ditetapkan berbagai syarat tenaga kerja asing yang akan memasuki wilayah Indonesia, antara lain diawali dengan tenaga ahli terlebih dahulu. Setiap tenaga ahli yang masuk ke Indonesia, harus didampingi minimal 2 personal ahli dari Indonesia untuk mendampingi dan menyebarkan keterampilan dan keahlian kepada seluruh tenaga kerja Indonesia. Batas maksimal diijinkan kerja di Indonesia adalah dua tahun, meskipun pada beberapa kondisi masih boleh diperpanjang. Sebagian mempersyaratkan harus bisa bahasa Indonesia, dan sebagainya.

            Berikut adalah beberapa strategi yang dapat dikembangankan oleh profesi perawat agar dapat melalui tantangan era global dengan baik, antara lain kuasai keterampilan dasar keperawatan dan selalu up-date kemampuan dasar keperawatan.

Kuasai keterapilan dasar keperawatan meliputi keterampilan intelektual, teknikal dan interpersonal. Keterampilan intelektual adalah segala ilmu yang mendasari asuhan keperawatan mulai dari ilmu-ilmu dasar (alam, sosial dan perilaku), ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu dasar keperawatan, ilmu keperawatan klinik, dan ilmu keperawatan komunitas, yang pada aplikasinya menggunakan pendekatan dan metoda penyelesaian masalah secara saintifik, ditujukan untuk mempertahankan, menopang, memelihara, dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia.

Semua ilmu dasar keperawatan ini mutlak harus ditingkatkan penguasaannya oleh setiap perawat, jika ingin mampu bersaing dengan para perawat dari sepuluh negara Asia Tenggara. Hal ini mutlak diperlukan karena, obyek studi yang menjadi bidang garapan ilmu keperawatan penyimpangan atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, mulai dari kebutuhan biologis, psikologis, sosial, kultural bahkan kebutuhan spiritual. Kebutuhan itu dipelajari mulai dari tingkat individu utuh, mencakup seluruh siklus kehidupan sampai pada tingkat masyarakat, yang juga mencerminkan pada tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pada tingkat sistem organ fungsional sampai molekuler.

Penguasaan keterampilan intelektual membuat perawat dapat mandiri dalam melaksanakan pekerjaan profesinya, dapat menjelaskan semua masalah keperawatan yang terjadi, mencari alternatif solusi untuk diwujudkan dalam berbagai tindakan dalam asuhan keperawatan. Dengan penguasan keterampilan intelektual ini perawat menjadi profesi yang handal dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia akibat penyakit yang dialami. Meskipun demikian, penguasaan keterampilan intelektual saja tidak cukup, perawat harus menambahkan keterampilan teknikal.

Profesi keperawatan adalah sebuah profesi yang menggunakan “Applied Science”, suatu ilmu yang harus diterapkan. Oleh karena itu, hanya menguasai kemampuan intelektual belum cukup, harus menguasai kemampuan teknikalnya juga. Seorang perawat harus dapat menghitung kebutuhan cairan elektrolit. Ketika diagnosis keperawatan sudah ditegakkan dan harus diberikan tambahan cairan melalui pemberian infus, maka sorang perawat dituntut mampu memilih pembuluh darah vena yang akurat untuk memasukkan jarum infus, yakinkan sekali tusuk tepat pada sasaran, jangan sampai ditusuk sampai tiga kali karena kurang akuratnya pemilihan pembuluh darah vena dan kurang terlatihnya perawat dalam memasukkan jarum infus. Perawat harus dapat menghitung kebutuhan oksigenasi, harus mengetahui disistem atau organ mana yang terganggu, tetapi juga harus mempu melaksanakan secara teknis bagaimana membantu memenuhi kebutuhan oksigenasi vias hidup, tenggorokan, dengan masker atau dengan teknik yang lain. Perawat harus mengetahui adangan gangguan nutrisi, eliminasi, aktifitas istirahat dan tidur, gangguan rasa nyaman dan nyeri, tetapi yakinkan perawat dapat memenuhi tindakan teknikal dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar manusia yang terganggu tersebut.

Perawat yang telah menguasai keterampilan intelektual dan teknikal membuat dia menjadi perawat yang terbaik. Tetapi dua keterampilan ini belum cukup, karena manusia bukanlah robot, ketika perawat akan memberikan bantuan tindakan asuhan keperawatan harus diadakan komunikasi interpersonal yang memadai. Perawat harus menyadari bahwa semua tindakan yang diberikan kepada pasien dapat menimbulkan gangguan rasa nyaman atau  nyeri, dipasang infus nyeri, di suntik nyeri, rawat luka dan semua tindakan keperawatan nyaris menimbulkan gangguan rasa nyaman pada pasien, oleh karena itu, dalam melaksanakan keterampilan intelektual dan teknikal tadi masih harus ditambahkan dengan keterampilan interpersonal yang baik. Sebelum diberikan tindakan, ajaklah pasien untuk berbicara, tanyakan kondisi pasien terahir sebelum tindakan diberikan, jelaskan tentang tindakan yang akan diberikan, mulai dari jenis tindakan, cara melakukan, mekanisme kerja asuhan keperawatan, manfaat dan kemungkinan alternatif yang terjadi. Setelah yakin pasien dapat berkolaborasi secara positif, barulah tindakan asuhan keperawatan dapat dilaksanakan. Jangan lupa perhatikan aspek verbal dan non verbal pasien untuk memastikan adanya kesesuaian antara apa yang dirasakan, diucapkan dan diekspresikan oleh pasien. Dengan berbekal penguasaan 3 keterampilan dasar ini Insya Allah perawat mampu bersaing di era global.

Tantangan dan peluang akibat persaingan global ini bukan hanya sebatas pada wilayah Negara Republik Indonesia, tetapi juga mencakup sepuluh negara Asia Tenggara. Oleh karena itu, perawat jika menginginkan dapat mengambil peluang kerja ke luar negeri, maka minimal harus ditambah dengan penguasaan bahasa, budaya, dan sistem kemasyarakatan yang berlaku di wilayah negara tujuan. Beberapa kemampuan tambahan yang harus dimiliki perawat agar dapat bersaing di era MEA antara lain; bahasa, pelayanan atau asuhan, dokumentasi, penampilan dan pemikiran.

Bahasa, mutlak harus dikuasai perawat terkait dengan komunikasi dan strategi pelaksanaan asuhan keperawatan. Ada beberapa bahasa yang harus dikuasai perawat antarai meliputi bahasa daerah dimana perawat akan bekerja dan memberikan asuhan keperawatan, dan bahasa komunikasi antar tenaga kesehatan. Bahasa daerah dimana perawat akan bekerja adalah bahasa sehari-hari dimana masyarakat akan dilayani. Keadaan ini diperlukan agar perawat dapat melakukan pengkajian, pemeriksaan fisik, dan melaksanakan asuhan keperawatan. Behasa antara tenaga kesehatan umumnya adalah bahasa Internasional, dapat menggunakan bahasa Inggris, Arab, atau bahasa yang disepakati sebagai bahasa internasional. Apabila perawat tidak menguasai dua jenis bahasa ini, dipastikan perawat akan sulit dapat bersaing dengan masyarakat ekonomi Asean.

Pelayanan atau asuhan harus memiliki ciri atau pendekatan khusus agar perawat dapat bersaing. Dampak pertama yang akan muncul dalam persaingan global adalah adanya cross border provider, termasuk disitu adalah tele-health. Dengan keadaan ini, tidak bisa perawat memberikan asuhan keperawatan hanya dengan kemampuan apa adanya, tetapi harus dapat minimal sama dengan standar Internasional, bahkan harus lebih tinggi dari kompetensi perawat dari negara tetangga yang juga merebut persaingan. Sampai sejauh ini, menurut pengamatan kami adalah; kemampuan intelektual, teknikal dan interpersonal perawat Indonesia tidak kalah jika dibanding perawat dari negara tetangga, mayoritas kekurangan perawat Indonesia adalah pada komponen bahasa.

Dokumentasi pemberian asuhan keperawatan merupakan bukti autentik kompetensi dan tindakan apa yang telah dilakukan oleh seorang perawat. Kemampuan penguasaan menuliskan dokumentasi asuhan keperawatan menjadi sangat penting sebagai aspek legal dari tindakan yang telah diberikan. Saat ini terdapat perkembangan pesat dari teknologi, dampaknya penulisan dokumentasi perawatanpun harus beradaptasi dengan perkembangan ini. Perawat harus menguasai dengan media apa dia harus mendokumentasikan, tentang apa saja yang harus didokumentasikan, bagaimana aspek tanggung jawab dan tanggung gugat dokumentasi yang telah dibuat, serta bagaimana dokumentasi asuhan keperawatan ini dapat bermanfaat sebagai media informasi dan komunikasi antar tenaga kesehatan yang sama-sama memberikan pelayanan kepada pasien.

Penampilan perlu diperhatikan agar dapat membat kesan khusus bagi penerima asuhan keperawatan. Penampilan juga perlu digunakan sarana komunikasi non verbal untuk menunjukkan bahwa perawat Indonesia adalah merupakan sosok yang dapat dipercaya (trustworthy). Sosok yang dapat dipercaya ini, dapat ditampilkan perawat melalui penampilan yang mengesankan perawat adalah seorang yang jujur, tanggung jawab, perhatian, peduli, caring, ramah dan komunikatif. Apabila perawat dapat menampilkan dirinya sebagai seorang yang dapat dipercaya, insya Allah perawat Indonesia akan mampu bersaing di kancah persaingan global.

Pemikiran perawat yang ingin bersaing di era MEA harus disesuaikan dengan azas terjadinya globalisasi yaitu adanya proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan berbagai aspek budaya lainnya. Aspek dasar dari globalisasi adalah pembebasan ilmu pengetahuan, perdagangan dan transaksi, pergerakan modal, investasi, migrasi dan perpindahan manusia. Apabila perawat tidak dapat meng-upgrade pemikiran, sudah dipastikan akan kalah bersaing dengan para perawat asing yang dengan pemikiran global.

 

 

Penutup

Persiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi tantangan global lebih difokuskan pada pengembang sumber daya manusia tenaga kesehatan, agar dapat meingkatkan kompetensi sehingga dapat bersaing dalam kancah persaingan global sebagai konsekwensi dari kesepakatan Masyarakat Ekonomi Asean yang telah berlaku sejak tanggal 31 Desember 2015.

Globalisasi adalah merupakan tantangan sekaligus peluang bagi semua pihak untuk mampu bersiang dan berhasil sukses dalam merebut persaingan global. Modal utama yang harus disiapkan adalah kemampuan bahasa, intelektual, teknikal dan interpersonal yang handal, sehingga dpat mengalahkan semua pesain di kawasan Asean.

 

Bacaan

  1. Undang-undang No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
  2. Bahan Sosialisasi Perdangan Bebas (AFTA, 2015) Kementerian Keuangan Republik Indonesia (tidak dipublikasikan)
  3. Yusuf, 2014, Kesiapan Perawat dalam Mengahadapi Masyarakat Ekonomi Asean, Disampaikan pada Seminal Nasional Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Madiun (tidak di publikasikan)
  4. Bahan Sosialisasi Rapat Kerja Tim Satgas AFTA Propinsi Jawa Timur, 2015, Pemerintah Propinsi Jawa Timur (tidak dipublikasikan)


Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

437637