Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Aspek Legal dan Etik dalam Keperawatan Jiwa
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 10 February 2017
kategori : Keperawatan Jiwa - 0 komentar

ASPEK LEGAL DAN ETIK DALAM KEPERAWATAN JIWA
Pokok bahasan aspek legal dan etis dalam keperawatan jiwa diawali dengan pembahasan peran fungsi perawat jiwa, domain aktivitas keperawatan jiwa, standar praktik keperawatan jiwa, dan penerapan konsep etika dalam keperawatan jiwa.
Peran dan fungsi perawat jiwa saat ini telah berkembang secara kompleks dari elemen historis aslinya (Stuart, 2002). Peran perawat jiwa sekarang mencakup parameter kompetensi klinik, advokasi pasien, tanggung jawab fiskal (keuangan), kolaborasi profesional, akuntabilitas (tanggung gugat) sosial, serta kewajiban etik dan legal. Dengan demikian, dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa perawat dituntut melakukan aktivitas pada tiga area utama yaitu:
1. aktivitas asuhan langsung,
2. aktivitas komunikasi, dan
3. aktivitas pengelolaan/penatalaksanaan manajemen keperawatan.

Meskipun tidak semua perawat berperan serta dalam semua aktivitas, mereka tetap mencerminkan sifat dan lingkup terbaru dari asuhan yang kompeten dari perawat jiwa. Selain itu, perawat jiwa harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Membuat pengkajian kesehatan biopsikososial yang peka terhadap budaya.
2. Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan untuk pasien dan keluarga dengan masalah kesehatan yang kompleks dan kondisi yang dapat menimbulkan sakit.
3. Berperan serta dalam aktivitas pengelolaan kasus, seperti mengorganisasi, mengkaji, negosiasi, koordinasi, dan mengintegrasikan pelayanan serta perbaikan bagi individu dan keluarga.
4. Memberikan pedoman pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, dan kelompok untuk menggunakan sumber yang tersedia di komunitas kesehatan mental termasuk pemberi pelayanan terkait, teknologi, dan sistem sosial yang paling tepat.
5. Meningkatkan, memelihara kesehatan mental, serta mengatasi pengaruh penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling.
6. Memberikan asuhan kepada mereka yang mengalami penyakit fisik dengan masalah psikologik dan penyakit jiwa dengan masalah fisik.
7. Mengelola dan mengoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga, staf, dan pembuat kebijakan.
Dalam menjalankan peran fungsinya, perawat jiwa harus mampu mengidentifikasi, menguraikan, dan mengukur hasil asuhan yang mereka berikan pada pasien, keluarga, dan komunitas. Hasil adalah semua hal yang terjadi pada pasien dan keluarga ketika mereka berada dalam sistem pelayanan kesehatan, dapat meliputi status kesehatan, status fungsional, kualitas kehidupan, ada atau tidaknya penyakit, jenis respons koping, serta kepuasan terhadap tindak penanggulangan.
Evaluasi hasil dapat berfokus pada kondisi klinik, intervensi, dan proses pemberian asuhan. Berbagai hasil dapat dievaluasi mencakup indikator-indikator klinik, fungsional, finansial, serta perseptual kepuasan pasien dan keluarga seperti pada tabel berikut.

Sumber secara lengkap lihat di:

Yusuf, A., Fitryasari R., Nihayati N., 2015, Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Salemba Medika, Jakarta.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

561382