Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Occupational Health Literacy
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 06 April 2017
kategori : Buku - 0 komentar

Occupational Health literacy juga mengandung makna bahwa masyarakat pekerja mau mengakses dan mengerti tentang informasi K3, berbagai jenis penyakit akibat pekerjaan dan prevensinya, antisipasi bahaya kesehatan kerja. Selanjutnya setelah cukup memahami K3 maka masyarakat pekerja dapat memanfaatkan pengetahuan K3 tersebut dalam pengambilan keputusan atau suatu tindakan terkait dengan kesehatan kerja. Kemudian diharapkan masyarakat pekerja tersebut bersedia mengkomunikasikan atau advokasi tentang K3 kepada orang lain (Nutbeam, 2000, Notoatmodjo, 2005, Kemkes RI, 2012, Sholihah dan Kuncoro 2014).

Keselamatan dan kesehatan kerja dipengaruhi oleh berbagai potensial hazard dan risiko akibat dari cara kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan, faktor manusia dan lingkungan kerja. Potensial Occupational hazard merupakan suatu potensi yang dapat menimbulkan penyakit atau cedera, kerusakan atau kerugian sedangkan risiko adalah kemungkinan timbulnya potensi bahaya. Jika pengendalian dilaksanakan dengan baik maka hazard ataupun risiko tidak menjadi bahaya. Untuk mengidentifikasi bahaya/resiko di tempat kerja bisa dilakukan dengan Walk Through Survey (WTS) atau disebut juga Survei Jalan Selintas (Kurniawidjaya, 2011).

Bahayayang dapat menimbulkan penyakit adalah adanya bahaya dari aspek sanitasi yakni terjadinya pencemaran lingkungan, pembuangan sampah benang kain, kekurangan air bersih dan toilet yang kurang saniter. Selain itu masalah gaya hidup seperti tidak terbiasa sarapan pagi sehingga ada gangguan gizi pekerja, perilaku merokok dan tidak pernah berolah raga serta kelalaian pekerja dalam bertindak sehingga menimbulkan insiden kecelakaan kerja dan cedera.

Keluhan sakit anggota badan sebanyak 17,5%  adalah insiden muskuloskeletal akibat terlalu lama berdiri, duduk, selonjor kaki, melepas benang jelujur, mengangkat barang berat, sedangkan accident yang sering terjadi adalah pada unit produksi bagian pencelupan zat pewarna yang mengandung bahan kimia sebesar (47,5%). Ketika kegiatan pencelupan zat warna ini, ada beberapa pekerja tidak memakai Alat Pelindung Diri (sarung tangan, masker dan sepatu bot) bahkan diantaranya tidak memakai baju saat bekerja karena temperature udara yang terasa panas.

Kecelakaan kerja seperti terkena bahan kimia dan terpercik air panas mengindikasikan adanya perilaku pekerja yang kurang hati-hati atau tindakan tidak aman (unsafe act). Hal ini sesuai dengan teori accident/ Swis Cheese Model yang dicetuskan James Rason (1990) bahwa unsafe act adalah penyebab terbesar kecelakaan kerja. Tindakan yang tidak aman penyebabnya adalah perilaku pekerja, kondisi lingkungan yang kurang aman dan  pengawasan yang jelek karena di sektor informal memang belum ada yang melakukan pengawasan secara resmi selain pemilik kerja sendiri atau kepedulian terhadap keselamatan pekerja belum membudaya, selama ini mereka hanya fokus untuk memproduksi dan menjual kain Sasirangan saja.

Industri Sasirangan yang ada di Kalimantan Selatan, sudah lebih dari sepuluh tahun berproduksi namun sampai sekarang belum terwujud budaya K3 diantara pekerja. Budaya K3 dianggap sebagai suatu semboyan saja dan rambu peringatan tanda hazard juga belum ada pada setiap unit kerja atau tahapan proses produksi sedangkan beberapa insident dan accident sering terjadi dan menimbulkan cedera pada pekerja. Hal ini mengindikasikan belum adanya kepedulian aktif (actively caring) terhadap K3 baik dari pihak pemilik kerja maupun pekerjanya sendiri.

Bertolak dari semua hal tersebut di atas maka studi ini dilakukan untuk menjawab tantangan adanya kebutuhan akan suatu konsep yang dapat menginformasikan K3 semaksimal mungkin kepada masyarakat pekerja dengan mengembangkan suatu model kepedulian aktif untuk K3 yang jika diterapkan bisa mewujudkan budaya K3 pada sektor informal industri Sasirangan. Pengembangan model dan integrasi teori budaya K3 keseluruhan (Total Safety Culture) dengan Actively Caring for Safety untuk mendukung lingkungan kerja yang aman sehingga masyarakat pekerja terhindar dari kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja.

Sumber: Yusida H, Suwandi T, Yusuf A, Sholihah Q, 2017, Kepedulian Aktif untuk K3 Sektor Informal, ULM Press.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

478212