Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Budaya K3
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 06 April 2017
kategori : Buku - 0 komentar

Budaya K3

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 245/Men/1990 tanggal 12 Mei 1990, tertulis bahwa: 1) Budaya K3 adalah perilaku kinerja, pola asumsi yang mendasari persepsi, pikiran dan perasaan seseorang yang berkaitan dengan K3; 2)  Memberdayakan adalah upaya untuk mengembangkan kemandirian yang dilakukan dengan cara menumbuhkan kesdadaran, kemauan dan kemampuan dalam bertindak dan mengerti suatu permasalahan; 3) Pembudayaan adalah upaya memberdayakan pekerja sehingga mereka mengetahui, memahami, bertindak sesuai norma dan aturan serta menjadi panutan atau acuan bagi pekerja lainnya (Kurniasih, 2013). 

Budaya K3 (safety culture) merupakan bagian dari kepercayaan dan nilai yang berhubungan dengan personal control dan struktur organisasi yang membentuk norma perilaku. Budaya K3  adalah serangkaian kepercayaan, norma, perilaku, nilai sesuai tujuan organisasi, fungsi, prosedur, aturan dan praktik, teknis serta sosial yang sangat berhubungan dengan upaya meminimalkan kecelakaan kerja yang akan menimpa pekerja, manajer, pelanggan dan masyarakat. Budaya K3 adalah suatu sub komponen dari budaya organisasi yang terkait dengan individu (psychological), pekerjaan (behaviorals) dan sifat organisasi (situational) yang berdampak dan mempengaruhi keselamatan (Cooper, 2002).

Tujuan Budaya K3 adalah agar semua orang berkontribusi dan bertanggung jawab atas keselamatan pekerja dalam melaksanakan kegiatan. Pengetahuan tentang K3 ini penting karena banyak kecelakaan terjadi disebabkan oleh kurangnya kepedulian (caring) terhadap keselamatan kerja. Penerapan kepedulian aktif untuk K3  akan berpengaruh terhadap keselamatan pekerja, masyarakat dan lingkungan. Penerapan budaya K3 ini dapat meningkatkan jiwa gotong royong; kebersamaan, saling terbuka satu sama lain; rasa kekeluargaan: komunikasi; produktifitas kerja dan responsif terhadap perkembangan dunia luar (Geller, 2002; 2009, Sholihah, Kuncoro, 2014). Definisi budaya K3 intinya mereflekasikan Bandura’s model dari Social Cognitive Theory. Social Cognitive Theory berfokus pada kognitif berdasarkan anteseden (tujuan), behaviors dan consequences reward evaluasi diri), tidak terlepas dari segitiga: pekerja, lingkungan dan perilaku.

Budaya K3 dapat dilihat dari tiga komponen utama budaya keselamatan yaitu bersifat psikologis, situasional dan perilaku (Cooper, 2002; Sholihah dan Kuncoro, 2014) yaitu:

  1. Aspek psikologis pekerja terhadap K3 (psychological aspects, what people feel, what is believe);
  2. Aspek perilaku K3 pekerja (behavioral aspects, what people do, what is done);
  3. Aspek situasi atau organisasi yang berkaitan dengan K3 (situational aspects, what organizational has, what is said).

 

Cooper (2002) menyatakan bahwa Budaya K3 (safety culture) juga merupakan bagian dari manajemen yang terdiri atas sistem keselamatan dalam organisasi, iklim K3 melekat pada personal dan uraian tugas pekerjaan.

Menurut Cooper (2002) dan Guldenmund (2000) bahwa ada tiga faktor yang dinamis dan saling berinteraksi dalam Budaya K3 (Safety Culture) yaitu:

  1. Person adalah faktor pekerja yang mempengaruhi keselamatan ditempat kerja termasuk sikap dan keyakinan yang berupa pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), kemampuan (abilities), kecerdasan (intelligence), dorongan (motives), kepribadian (personality).
  2. Behaviour adalah faktor perilaku yang mempengaruhi keselamatan yaitu perilaku sehari-hari di tempat kerja, pelatihan (complying), bimbingan keselamatan (coaching), pengenalan (recognizing), komunikasi inter personal (communicating), demonstrating active caring (kepedulian secara aktif).
  3. Environment adalah faktor lingkungan kerja yaitu prosedur kerja, perlengkapan (equipment), peralatan (tools), mesin (machines), tata letak barang (housekeeping), suhu (heat/cold) dan Sistem Manajemen K3 serta iklim K3.

Geller (2001) menggambarkan personal pekerja, lingkungan dan perilaku saling berinteraksi untuk membentuk apa yang dinamakan The Safety Triad yang di dalamnya terdapat budaya keselamatan (safety culture). Ketiganya harus seimbang agar pekerja dapat terhindar dari cedera atau kecelakaan kerja.

Faktor-faktor tersebut berinteraksi, dinamis dan saling mempengaruhi satu sama lain. Lingkungan yang aman, bebas dari kecelakaan atau cedera dapat dicapai dengan mengingatkan pekerja (peduli) agar setiap harinya memperhatikan faktor-faktor tersebut (lingkungan, perilaku atau tindakan dalam bekerja dan kondisi pekerja) dalam pengembangan, implementasi dan evaluasi dengan melakukan strategi intervensi untuk mengurangi hazard dalam lingkungan kerja, mencegah perilaku berisiko, meningkatkan perilaku aman dan menggunakan peralatan yang baik atau sesuai ergonomik (Geller, 2001: 2002).

Sumber: Yusida H, Suwandi T, Yusuf A, Sholihah Q, 2017, Kepedulian Aktif untuk K3 Sektor Informal, ULM Press.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

478209