Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Spiritualitas; Syukur, Sabar dan Ihlas
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 10 May 2017
kategori : Spirituality in Nursing - 0 komentar

Spiritualitas; Syukur, Sabar dan Ihlas

Syukur adalah menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah karunia dan pemberian Tuhan, Allah SWT.   Manusia yang bersyukur adalah manusia kaya sebenarnya, hatinya lapang dan jiwanya bersih dari angan kosong dan impian yang melemahkan gairah hidup. Tidak ada waktu baginya memikirkan apa yang dimiliki orang lain, selalu sibuk dengan berbagai nikmat Allah yang dia dapatkan. Bersyukur bukan hanya dengan ucapan Alhamdulillah di bibir, tetapi harus ditampakkan dalam sikap hidup menjaga dan memanfaatkan sebaik mungkin nikmat dan karunia  Allah, dengan cara dan tujuan yang baik pula. Tidak iri dan dengki terhadap anugerah yang Allah  titipkan kepada orang lain, serta adanya perbaikan dalam kualitas hubungan dengan Allah (ibadah) dan hubungan dengan manusia (sosial). Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim, 7).

Dalam sebuah hadist ‘Aisyah RA, menceritakan tentang ibadah Rasulullah, bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri pada shalat malam (tahajud) sampai bengkak kedua kakinya, lalu aku berkata kepadanya: “Kenapa kau lakukan ini wahai Rasulullah? Padahal Allah telah mengampunimu baik dosa yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab: “Tidakkah aku suka jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

Hidup di dalam rasa bersyukur adalah jalan pintas menuju kebahagiaan lahir bathin dan menghadirkan banyak “keajaiban” yang menyenangkan dalam hidup. Allah telah berjanji dalam Al-Qur’an; “Apabila kita dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikan, Tuhan akan menambah rizki kita dari sisi yang tak terduga”. Joseph R. Murphy dalam bukunya  Your Infinite Power to be Rich mengatakan “Seluruh proses menuju kekayaan mental, material, dan spiritual dapat diringkas dalam satu kata; ‘Syukur’.”

Sabar adalah luas hati, tidak mudah marah (Kamus Besar Bahasa Indonesia), orang yang sabar adalah orang yang bersikap luas hati, tabah, tenang dalam menghadapi masalah. Hakikat sabar menurut Imam Al Ghazali adalah tahan menderita dari gangguan dan tahan menderita dari ketidak senangan orang. Sabar adalah kunci dari kesulitan, barang siapa bersabar menghadapinya dia akan berhasil mengatasi berbagai masalah dalam kesulitan itu.

Sabar memang berat, karena sabar bukanlah kelemahan, justru sabar adalah kekuatan, sabar bukan kelesuan tetapi semangat hidup, sabar bukan kecengengan tetapi ketegaran, sabar bukanlah pesimis tetapi optimis, dan sabar bukanlah diam membisu tetapi sabar adalah berjuang pantang menyerah (Al-Hamid, 1995; Nahrowi, 2010) . Orang sabar bukan sekedar tidak menangis ketika mendapatkan musibah, bukan pula sekedar tidak mengeluh ketika tertimpa kesulitan, sebab itu barulah tahapan awal kesabaran. Allah SWT berfirman: `Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak patah semangat,  dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang yang sabar. (QS. Ali Imran, 146).

Ikhlas adalah keterampilan untuk berserah diri, menyerahkan segala pikiran (keinginan, harapan, cita-cita) dan perasaan (ketakutan, kecemasan, kekhawatiran) kembali kepada sumbernya Allah (Nahrowi, 2010). Kita harus memahami, bahwa semua ini milik Allah, hanya karena Allah kita hidup dan untuk Allah kita hidup. Ikhlas merupakan kompetensi tertinggi manusia yang dipedomankan oleh Allah untuk dimiliki setiap manusia yang ingin berhasil meraih kesuksesan. Fitrah manusia yang sempurna, akan tercemar saat dia tidak ikhlas. Ketika kita ikhlas, kita hidup hanya mengandalkan bimbingan-Nya untuk memberikan manfaat terbesar bagi setiap orang. Dalam hati kita selalu sukses merasakan syukur, sabar, yakin, tenang dan bahagia dalam menerima apapun yang dialami selama proses menuju yang di inginkan. Tidak ada yang bisa membuat kita bahagia atau kecewa, kecuali diri kita sendiri. Jika kita memutuskan untuk menilai hal yang terjadi sebagai sesuatu yang membahagiakan, maka kita akan bahagia. Ketika kesadaran kita akan rasa ikhlas telah terbangun dengan kuat, kita akan lebih mudah untuk ikhlas dan menyerahkan semua urusan kepada yang maha kuasa. Inilah yang membuat urusan kita menjadi lebih mudah.

Secara global kehidupan semua manusia adalah sama, mereka hanya akan melewati dua sisi hidup yang Tuhan pasangkan, bahagia-bencana, mudah-sulit, suka-duka. Kita pun sudah, sedang, dan akan terus merasakan keduanya silih berganti. Kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, kadang posisi kita di atas dan kadang di bawah, semua akan mendapatkan gilirannya. Allah SWT berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia, agar mereka mendapat pelajaran ..” (QS. Ali Imran, 140).

Demikianlah hidup, meskipun tidak sedikit manusia yang tidak terima kenyataan ini. Keinginan mereka adalah semua hari adalah bahagia, semua cuaca adalah cerah, semua tanah adalah subur, semua air adalah jernih. Tidak demikian, manusia semacam ini akan terombang ambing oleh impian dan dipenjara oleh fatamorgana yang hanya dapat berubah jika mereka mau menerima kenyataan hidup dan siap mengarunginya. Bagi seorang beriman, mereka akan menyikapi dua sisi hidup ini secara ikhlas dan penuh ridha. Mereka meyakini, baik atau buruk dari apa yang dialami manusia, pastilah memiliki pelajaran berharga dan rahasia manis yang dapat diketahui cepat atau lambat, tidak ada yang sia-sia. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, siang dan malam, terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Maha suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran, 190-191).

Semua keadaan pasti membawa manfaat untuk kita, sebab Allah tidaklah mengadakannya untuk main-main dan kesia-siaan. Oleh karena itu, sikap terbaik terhadap bencana adalah ihlas menerima, bersabar dalam menjalani, dan sikap terbaik terhadap kebahagaiaan adalah bersyukur.

Akhir-akhir ini, telah banyak berkembang penelitian dan publikasi tentang keterkaitan spiritualitas, sehat, sakit dan proses penyembuhan. Berbagai bukti fisik, psikologis, immunologis, sosial dan kultural  banyak dijelaskan oleh kajian psikoneoroimmunologi.

Sumber: Yusuf, dkk, 2016, Kebutuhan Spiritual; Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan, Mitra Wacana Media, Jakarta.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

478256