Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Perubahan Neurofisiologis Berhubungan Dengan Praktik Religius dan Spiritual
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 10 May 2017
kategori : Spirituality in Nursing - 0 komentar

Perubahan Neurofisiologis Berhubungan Dengan Praktik Religius dan Spiritual

Sejumlah perubahan neurofisiologis tampak pada berbagai praktik religius dan spiritual. Studi tentang brain imaging memberi kesan bahwa tindakan yang disengaja dan tugas yang memerlukan perhatian terus-menerus diinisiasi oleh aktivitas di prefrontal cortex (PFC) dan anterior cingulate cortex. Oleh karena praktik religius seperti meditasi dan doa memerlukan fokus perhatian yang intensif, kegiatan tersebut juga menunjukkan aktivasi area otak yang sama. Selain itu, studi brain imaging juga menunjukkan adanya peningkatan aktivasi thalamus yang dimediasi oleh neurotransmiter eksitatori glutamat yang mungkin sebanding dengan aktivitas di PFC. Sistem dopaminergik melalui ganglia basal diyakini terlibat dalam regulasi sistem glutamat dan interaksi antara PFC dan struktur subkortikal (Newberg, 2011).

Studi yang dilakukan oleh Kjaer (2002) pada meditasi Yoga Nidra menunjukkan adanya peningkatan level dopamin selama praktik. Dopamin adalah bagian dari reward system di otak. Hal ini mungkin dapat menjelaskan beberapa elemen emosional positif sebagai hasil dari praktik meditasi dan doa. Struktur otak lain, yakni lobus parietal, dimungkinkan juga terlibat dalam aktivitas meditasi, doa, dan pengalaman spiritual lainnya. Regio parietal sangat terlibat dalam analisis dan integrasi high-order dari sensori penglihatan, pendengaran, dan informasi somatik. Selain itu juga merupakan bagian dari jaringan atnesi yang komplek, meliputi PFC dan thalamus. Fungsi dari lobus parietal adalah membedakan antara diri (self) dan dunia luar. Beberapa studi menunjukkan penurunan aktivitas di lobus parietal selama meditasi yang berhubungan dengan perubahan rasa (sense) diri dan lingkungan sekitarnya.

Komplek aktivitas kortikal-thalamus dalam praktik meditasi juga dianggap mengubah aktivitas dalam sistem limbik. Lazarus (1984) membuktikan adanya peningkatan aktivitas pada regio amigdala dan hippokampus selama meditasi. Hipotalamus secara luas berkaitan dengan sistem limbik. Stimulasi pada amigdala lateral kanan menunjukkan adanya stimulasi bagian ventromedial dari hipotalamus, yang selanjutnya menstimulasi sistem parasimpatik perifer. Peningkatan aktivitas parasimpatik seharusnya berhubugan dengan sensasi subjektif berupa relaksasi dan ketenangan yang lebih mendalam. Aktivasi sistem parasimpatis juga dapat mengurangi denyut jantung dan frekuensi pernapasan. Namun, studi terkini tentang meditasi menunjukkan adanya interaksi yang dinamis antara sistem simpatis dan parasimpatis, sebagaimana ditunjukkan dengan peningkatan heart rate variability.

Konsep dan paradigma psikoneoroimmunologi inilah yang akan banyak digunakan sebagai dasar pemikiran dan pembahasan pada berbagai hasil penelitian yang disajikan dalam buku ini. Selian itu tetap menggunakan berbagai referensi spiritual dalam pemikiran dan pembahasannya.

Sumber: Yusuf, dkk, 2016, Kebutuhan Spiritual; Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan, Mitra Wacana Media, Jakarta.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

475719