Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Spirituality vs Tindakan Medis; Donor Organ Tubuh, Inseminasi Buatan
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 05 June 2017
kategori : Spirituality in Nursing - 0 komentar

Donor organ tubuh

Pemberian salah satu atau sebagian dari organ tubuh seseorang kepada orang lain yang tidak memiliki organ dimaksud, atau memiliki organ tetapi sudah mengalami gangguan adalah sebuah tindakan mulia, dapat membantu orang lain memperoleh kembali fungsi organ yang mengalami gangguan. Bagi pendonor masih tetap dapat hidup dengan salah satu organ tersisa, seperti ginjal, bola mata, sumsum tulang dan sebagainya.

Permasalahannya adalah benarkah organ tubuh seseorang boleh di donorkan ? jika boleh, kepada siapa boleh diberikan ?, kapan waktunya diambil untuk di donorkan ?, ketika pendonor masih hidup ? atau ketika menjelang ajal ?. jika menjelang ajal, siapa yang mengetahui ajal seseorang akan tiba, bagaimana proses pengambilan dan pemindahan organ bagi pendonor yang menjelang ajal. Donor organ memang sebuah pengorbanan, tindakan untuk kemanusiaan, tetapi bagaimana proses, konsekwensi yang akan terjadi sering menimbulkan konflik keyakinan. Seseorang dapat hidup normal dengan hanya memiliki satu ginjal, satu bola mata. Tetapi bagaimana prosedur untuk melakukan donor organ tetap masih dapat menimbulkan konflik keyakinan. Bahkan terkadang ada yang disalahgunakan dengan secara sengaja menjual organ tubuh untuk memperoleh sejumlah finansial yang diinginkan.

 

Inseminasi buatan

Inseminasi buatan adalah sebuah kegiatan pemberian bantuan kepada suami istri dalam proses pembuahan agar terjadi kehamilan. Tindakan ini sangat diperlukan bagi keluarga yang sudah lama menikah tetapi belum memiliki keturunan dan ingin segera memiliki keturunan. Berbagai penyebab dari suami atau istri dapat mempengaruhi keluarga sangat lama belum memiliki keturunan, seperti kondisi kesehatan sperma, ovum (sel telur), rahim, dan berbagai organ reproduksi lainnya. Proses inseminasi buatan dilakukan sesuai hasil pemeriksaan yang temukan.

Keturunan adalah sebuah aset keluarga yang tidak ternilai harganya, diharapkan dapat menjadi generasi penerus dalam mengembangkan harkat dan martabat keluarga. Sayangnya beberapa keluarga mengalami kesulitan untuk memperoleh keturunan. Disinilah peran inseminasi buatan diperlukan. Memperhatikan penyebab gagalnya proses vertilisasi, maka berbagai pertimbangan dan syarat yang boleh dilakukan dalam inseminasi buatan adalah sperma harus dari suami (bukan donor sperma), sel telur dan rahim harus dari istri. Apabila ketiga syarat ini mengalami gangguan, maka akan menimbulkan konflik dalam pengambilan keputusan. Misal, bolehkah donor sperma ?, jika boleh bagaimana status anak yang akan dihasilkan ? siapa yang berhak menjadi ayah ?, suami atau pendonor sperma ? jika anaknya wanita, siapa yang berhak menjadi wali nikah, dan seterusnya. Bagaimana dengan donor sel telur (ovum) ?, bolehkah donor ovum ?, siapa yang akan menjadi ibu, dan seterusnya. Bagaimana jika rahim istri tidak sehat ?, bolehkah ada persewaan rahim, dan seterusnya. Demikianlah konflik yang dapat ditimbulkan dari salah satu alternatif inseminasi buatan, yang meskipun tindakan ini sangat diperlukan bagi keluarga yang lama belum memiliki keturunan.

Sumber: Yusuf, dkk, 2016, Kebutuhan Spiritual Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

475727