Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Spirituality vs Tindakan Medis; Transfusi, Khitan
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 05 June 2017
kategori : Spirituality in Nursing - 0 komentar

Tranfusi darah

Setetes darah Anda adalah nyawa bagi mereka yang memerlukan. Statement ini sangat tepat bagi kita agar berkenan membantu saudara kita yang sedang terkena musibah dan memerlukan tambahan darah dengan segera. Darah adalah komponen vital tubuh yang menjadi sarana transportasi dan sirkulasi semua kebutuhan fisiologis tubuh. Pada kondisi perdarahan masif dapat menimbulkan kematian, sehingga tranfusi darah dengan segera sangat diperlukan untuk membantu menyelamatkan kehidupan.

Konflik keyakinan yang sering timbul adalah terkait dengan komposisi essensial darah. Sebagian agama mengajarkan bahwa sifat, perilaku atau bahkan penyakit seseorang tergantung pada apa yang dimakan. Semua essensi nutrisi diangkut dan di distribusikan ke seluruh tubuh oleh darah sampai terjadi proses fisiologis selanjutnya untuk dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Pertanyaannya, bagaimana jika makanan yang dikonsumsi oleh pendonor tercampur dengan makanan bersifat subhat, tidak jelas halal atau haram. Makanan haram akan berpengaruh buruk terhadap sifat dan perilaku seseorang. Apakah ada jaminan bahwa darah yang didonorkan tidak mengandung bibit penyakit yang membahayakan, apakah darah pendodonor bisa langsung di adaptasi oleh penerima secara langsung tanpa ada reaksi negatif yang tidak diinginkan. Oleh karena itu wajib hukumnya bagi lembaga pengelola donor darah untuk melalukan skreening detail tentang berbagai kemungkinan negatif, sehingga donor darah dapat memberikan bantuan yang aman dalam menyelamatkan nyawa penderita.

 

Khitan

Khitan adalah tindakan memotong  atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan dari penis. Khitan pada laki-laki diwajibkan pada agama Islam dan Yahudi dengan berbagai alasan keagamaan, kesucian, bahkan kesehatan. Sebenarnya menurut agama Islam laki-laki boleh saja tidak khitan, asal setiap akan menjalankan ibadah shalat wajib membersihkan semua najis dari tubuhnya, termasuk berbagai kotoran dan sisa urine yang tertinggal diantara lipatan glan penis. Bayangkan, apa yang akan terjadi seandainya setiap laki-laki harus membuka kulit penutup depan penis untuk dibersihkan lima kali seharai selama seumur hidup. Oleh karena itu, khitan selain karena alasan agama juga karena alasan kesehatan bahkan alasan estitika alat genetalia.

Konflik keyakinan yang sering timbul adalah terkait teknik melakukan khitan, rasa sakit yang ditimbulkan dengan kewajiban keagamaan. Bagaimana jika seorang pria tidak melakukan khitan, bagaimana dampak sosial di masyarakat dan sebagainya. Beberapa budaya di Indonesia juga pernah menganjurkan khitan pada bayi wanita baru lahir, tetapi setelah dilakukan kajian ilmiah mendalam, dampak negatifnya lebih banyak dari pada dampak positinya. Oleh karena itu, sekitar tahun 2000-an Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan fatwa dan melarang khitan pada bayi wanita baru lahir.

 

Sumber: Yusuf, dkk, 2016, Kebutuhan Spiritual Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

478264