Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

Spirituality vs Tindakan Medis; Uji coba Janin, Hak Hidup
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 05 June 2017
kategori : Spirituality in Nursing - 0 komentar

Manipulasi dan uji coba pada janin

Manipulasi dan uji coba pada janin, immunisasi, test kesuburan, sterilisasi, bahkan proses penyembuhan adalah merupakan berbagai alternatif tindakan medis yang sering menimbulkan konflik dengan kayakinan spiritual. Tindakan ini bertujuan sangat baik, tetapi prosedur, hasil dan dampaknya dapat bertentangan dengan keyakinan.

Dengan perkembangan teknologi, komputerisasi, dan peralatan medis, kondisi janin dalam perut ibu dapat dimonitor dengan jelas. Kedaan ini dapat memberi kabar gembira kepada semua pihak untuk untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janin, tetapi ketika  tampak ada gangguan pada janin, dilema etik dapat terwujud. Diteruskan kehamilan salah, diakhiri juga salah, seperti pada pembehasan pemeriksaan cairan amnion diatas.

Immunisasi merupakan tindakan untuk melatih bayi beradaptasi terhadap penyakit tertentu yang sangat bebahaya. Immunisasi dilakukan dengan memberikan bibit penyakit yang sudah dilemahkan, dimasukkan dalam tubuh bayi, agar terbentuk zat anti terhadap penyakit tersebut. Tindakan ini jika berhasil membuat anak dapat kebal atau bebas dari bibit penyakit yang dilemahkan. Tetapi ketika kondisi bayi kurang fit, atau kemampuan adaptasi tidak berhasil, malah menimbulkan masalah bagi si bayi. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap kondisi bayi sebelum vaksinasi tetap diperlukan.

Test kesuburan, sangat diperlukan bagi pasangan keluarga yang telah lama menikah dan belum mempunyai anak. Berbagai tindakan medis dapat dilakukan agar gangguan proses kehamilan dapat ditangani dengan baik. Tetapi semua tindakan ini hanyalah upaya manusia, keputusan tetap pada sang pencipta. Ketika upaya tidak berhasil, permasalahan tetap akan timbul. Oleh karena itu, kesiapan keluarga yang akan melakukan pemeriksaan kesuburan tetap harus diutamakan. Kesiapan untuk menerima kenyataan bahwa siapa yang tidak subur, suami atau istri, harus keduanya disiapkan, tidak boleh malah menimbulkan keresahan, saling menuduh dan berakhir dengan perceraian. Siapkan lembar persetujuan (informed concent) bahwa semua pihak dapat menerima hasil pemeriksaan.

 

Hak hidup

Hak hidup,  hak untuk mati dan upaya memperpanjang kehidupan adalah sebuah upaya tindakan medis yang sering dijumpai pada kondisi kritis atau menjelang ajal. Pasien dalam kondisi kritis, tidak sadar, dirawat di ruang perawatan intensif, dapat tetap dipertahankan hak hidupnya dengan memberikan alat bantuan pernafasan (respirator), monitor jantung, tekanan darah, suhu, nadi dan lain-lain. Kebutuhan cairan elektrolit tetap terpenuhi dengan memberikan cairan infus dan sonde untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi, eliminasi menggunakan keteter dan sebagainya.

Permasalahannya adalah, sampai kapan kita boleh mempertahankan berbagai alat canggih tersebut dipasang untuk memperpanjang kehidupan, apakah benar kita menolong, sementara pasien dalam kondisi tidak sadar. Selama peralatan tersebut terpasang, pasien masih tetap menunjukkan tanda-tanda kehidupan, ada denyut nadi, jantung, sirkulasi darah, pernafasan, bahkan rekam otak masih tetap menunjukkan aktifitas kehidupan. Tapi hanya kehidupan vegetatif, tergantung pada alat dan pemenuhan kebutuhan dasar oleh care giver yang ada. Pasien hidup, tapi tidak dapat berbuat apa-apa, tidak mengenali orang disekitarnya, tidak melihat, tidak pula tersenyum. Apakah bermanfaat, sementara harapan untuk sembuh sangat minimalis. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk sewa alat dan pemenuhan kebutuhan dasar oleh care giver. Tetapi, melepaskan alat, akan sama dengan menghentikan semua bantuan kebutuhan hidup dasar, dan akan berahir dengan kematian. Wallahu ‘alam, hanya Tuhan yang mengetahui kapan kita hidup atau mati. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknolgi, para ahli dapat menciptakan alat khusus yang dapat memperpanjang kehidupan, tetapi Tuhan jua lah yang akan menentukan.  

sumber: Yusuf, dkk, 2016, Kebutuhan Spiritual Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

478255