Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

UAS KPJ 605 2017
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 13 July 2017
kategori : MA KPJ 605 - 20 komentar

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

UJIAN AKHIR SEMESTER

 

Mata Kuliah  : Pengembangan Keperawatan Kesehatan Jiwa

Hari, Tanggal: Kamis, 13 Juli 2017

Waktu             : Jam 08.00 sampai selesai (Maks. 24 jam)

 

Petunjuk:

ü  Kerjakanlah soal berikut berdasarkan hasil presentasi dan diskusi klasikal serta pengalaman selama aplikasi klinik di RS Jiwa Menur.

ü  Anda dapat mengerjakan soal ini di kampus atau dimanapun Anda berada.

ü  Jawaban singkat (Resume) dikumpulkan melalui Blog Dosen, masuk memalui ners.unair.ac.id, blog ners, ah-yusuf, artikel terbaru, UAS KPJ 605, tulislah komentar Anda sebagai jawaban singkat.

ü  Jawaban lengkap (soft copy) kirim ke e-mail:  ah-yusuf@fkp.unair.ac.id oleh masing-masing orang.

ü  Print-out jawaban lengkap dikumpulkan paling lambat Jumat, tanggal 14 Juli 2017, jam 08.00 WIB.

ü  Terimakasih.

 

Naskah Soal:

  1. Tuliskan pengalaman Anda selama menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa di RS Jiwa Menur Surabaya.
  2. Bagaimana kesimpulan Anda tentang Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa, dapatkah memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan pasien, berikan contohnya.
  3. Menurut Anda, faktor yang paling besar kontribusinya terhadap terjadinya gangguan jiwa. Bagaimana keperawatan jiwa dapat berkontribusi mengatasi masalah tersebut.
  4. Jelaskan secara singkat “Rencana Tindak Lanjut” Anda setelah menempuh pendidikan S2 Keperawatan Minat Studi Keperawatan Jiwa, dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa.

 

 

 

 

 

Terimakasih, selamat mengerjakan.



20 Komentar

1. Sri Widowati

pada : 13 July 2017

"1.Tujuh minggu menjalani aplikasi klinik membuat saya belajar banyak hal tentang penderita gangguan jiwa.Apa yang ada d teori tidaklah semudah pada saat menghadapi pasien secara langsung.Meskipun cara berkomunikasi terapeutik sudah dterapkan akan tetapi hasilnya tidak seperti evaluasi di teori.Bahkan saya sering terbawa emosi dalam menghadapi pasien, dan tentunya membutuhkan waktu yang relatif lama untuk dapat membuat pasien trust sejati terhadap perawat.
2.Kontribusi terbesar dalam penyembuhan tetap berada pada pengobatan antipsikotik.Di ruangan tidak banyak kegiatan yang diterapkan untuk pasien yang berhubungan dengan terapi modalitas.Hal ini pasti berhubungan dengan banyak faktor.Belum lagi masalah Hak Asasi manusia (HAM) dan yang lainnya, faktor lingkungan dalam hal ini tatanan RS perlu ada perubahan untuk memberikan arti millue teraphy bagi pasien.Interaksi pasien dengan perawat masih sangat kurang, perlu strategi untuk dapat menghafal ke 52 pasien yang ada di ruangan, karena memanggil dengan nama mempunyai makna terapeutik bagi pasien.Hal lain lagi yang positif adalah tiap hari ada saja pasien yang dijenguk oleh keluarga dan inilah kesempatan perawat untuk memberikan psikoedukasi.
3.Saat ini melihat begitu kompleksnya permasalahan yang ada, maka semua faktor mempunyai peran yang saling mendukung dalam mencetuskan gangguan jiwa.Faktor psikologis misalnya, pola asuh, kepribadian, pola koping yang kurang begitu bagus akan memicu perubahan neurotransmitter di otak, perubahan ini lama kelamaan akan membuat perubahan dalam struktur sel otak terutama di lobus frontalis. Saat struktur sel berubah maka selanjutnya perubahan dalam mekanisme kerja di otak juga berubah, apalagi didukung dengan lingkungan yang kurang memadai bagi perkembangan otak dan psikologis seseorang.
Oleh karena itu penelitian dalam keperawatan jiwa akan lebih baik jika diawali dengan topik yang berhubungan dengan etiologi gangguan jiwa, selanjutnya diteruskan dengan intervensi dan tindak lanjut terhadap temuan-temuan di lapangan.
4.Menindaklanjuti hasil tesis dalam pengembangan di masyarakat, dengan mengawali membentuk daerah binaan, melanjutkan S3 dan meneruskan penelitian-penelitian yang bermanfaat bagi penderita gangguan jiwa"


2. gandes widya hendrawati

pada : 13 July 2017

"Jawaban/komentar:
1.ini adalah pengalaman baru praktek di RSJ Menur, karena sebelumnya prakteknya di RSJ Lawang.(lebih lengkap di email)
2. praktek keperawatan kesehatan jiwa sangat besar kontribusinya terhadap proses penyembuhan penyakit. sebagai contoh adalah pasien yang kami pilih sebagai obyek terapi inovasi yang menunjukkan progress yang baik dan hasilnya lebih bagus (lebih lengkap di email)
3. faktor yang paling besar kontribusinya terhadap gangguan jiwa adalah: lingkungan sosial dan koping individu yang tidak bagus). keperawatan jiwa dapat membantu individu dalam hal pencegahan maupun mengatasi gangguan jiwa dengan meningkatkan sistem koping individu agar adekuat untuk menghadai stressor.
4. setelah lulus, rencana saya adalah: melanjutkan studi S3 (inshaallah), mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu saya agar bisa membantu dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. banyaknya kasus gangguan jiwa membuat saya prihatin dan semoga saya bisa membantu dalam hal pencegahan dan perawatannya.
terima kasih"


3. Rustafariningsih

pada : 13 July 2017

"Penyebab gangguan jiwa secara garus besar dibagi menjadi menjadi 3 yaitu faktor biologis, psikologis dan lingkungan. Salah satu terapi yang bisa diberikan pada pasien gangguan jiwa adalah melalui pendekatan psikoterapi baik secara individu maupun kelompok.
Saat aplikasi klinik saya melihat perlu adanya pengembangan lebih lanjut untuk manajemen keperawatan melalui MPKP dan manajemen pelayanan dengan pengembangan terapi individu lanjutan yang dilakukan dalam suatu kelompok pasien.
Salah satu terapi kelompok yg dikembangkan saat aplikasi klinik salah adalah terapi suportif. Sedangkan terapi individu yang dikembangkan salah satunya adalah terapi asertif pada pasien perilaku kekerasan. Dalam pengembangan selanjutnya terapi individu dapat dilakukan dlm suatu kelompok suportif, sehingga dalam satu kegiatan perawat bisa melakukan intervensi pada beberapa pasien sekaligus.
Rencana tindak lanjut yang bisa dilakukan di RSJ setelah menempuh pendidikan antara lain dengan pengembangan MPKP, pengembangan terapi lanjutan individu dan kelompok dan pengembangan kesehatan jiwa masyarakat yg bekerjasama dengan puskesmas serta pengembangan penelitian di bidang klinik keperawatan."


4. wildan akasyah

pada : 13 July 2017

"1. Pada minggu pertama tugas kami adalah pengkajian yang meliputi M1-M5, data pasien, demografi pasien, data kasus gangguan jiwa terbanyak di rumah sakit jiwa. Setelah selesai pengkajian data yang kami peroleh selanjutnya di analisis untuk menentukan prioritas yang nantinya akan dilakukan intervensi pemecahan masalah. Masalah yang kami temukan selam pengkajian adalah sebagian besar pasien ( 90%) memiliki behavior yang kurang tepat salah satunya adalah kurang baiknya dalam adab makan. Berdasarkan paparan masalah diatas kelompok kami sepakat untuk mengambil topik tersebut. Topik yang kami ambil untuk mengatasi masalah tersebut adalah Cognitive Behaviour Reward Therapy. Kognitif dilakukan dengan cara penyampaian informasi/ penyuluhan kepada pasien pada saat jam makan siang (jam 12.30). Inti isi materinya adalah penyampaian adab makan Meliputi cuci tangan 6 langkah sesuai standar WHO sebelum makan, menempati meja makan dengan tertib, menunggu makanan dibagikan dan menunggu semua makanan selesai dibagikan kepada pasien, berdoa secara Bersama-sama dipimpin oleh perawat/ pasien lama, makan secara Bersama-sama, membersihkan meja makan setelah selesai makan, membuang sampah ke tempat yang disediakan, mencuci dan memersihkan alat makan, mengembalikan alat makan ke petugas , cuci tangan, dan minum obat. Kegiatan ini dilaksanakan selama 6 minggu. Selanjutnya kami evaluasi di minggu ke 7.

2. Kesimpulan saya adalah bahwa psikoterapi yang diterapkan pada area keperawatan khususnya pasien dengan gangguan jiwa sangat membantu dalam mengatasi masalah pasien. Karena bila hanya farmakologi yang diterapkan sebagai terapi, tidak akan mengubah pola pikir pasien. Obat- Obatan sangat efektif digunakan untuk mengatasi kelebihan hormone dopamine sebagai pencetus aktivitas yang kurang terkontrol pada pasien gangguan jiwa. Maka dari itu selain obat-obatan pasien harus diarahkan , dididik, dicontohkan, diajari, dibetulkan, diawasi oleh perawat agar menunjang kesembuhannya.

3. faktor somatik(somatogenik), faktor psikologik( psikogenik) faktor sosial budaya. Kontribusi Keperawatan jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri secara teraupetik dalam meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental masyarakat dimana klien berada (American Nurses Associations). Oleh Karena itu setiap perawat jiwa dituntut mampu menguasai bidangnya dengan menggunakan ilmu perilaku sebagai landasan berpikir dan berupaya sedemikian rupa sehingga dirinya dapat menjadi alat yang efektif dalam merawat pasien.

4. Melakukan penelitian/riset dan pengembangan terapi, membagi ilmu dan informasi kepada mahasiswa, dan praktisi."


5. Henry Wiyono

pada : 13 July 2017

"1. banyak mendapatkan pengetahuan yang sebelumnya belum pernah pernah saya dapatkan waktu masih duduk sebagai mahasiswa S1. Pengetahuan yang saya maksud dalam hal ini yaitu tentang terapi - terapi spesialis dan penerapannya pada pasien dengan berbagai jenis gangguan mental seperti perilaku kekerasan, harga diri rendah, dan menarik diri (lebih lengkapnya ada dalam bentuk hardcopinya)

2. Bahwa Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa merupakan suatu olmu yang sangat bermanfaat untuk diterapkan untuk menunjang kesehatan baik fisik maupun mental seseorang baik dalam aspek resiko, gangguan maupun sehat (lebih lengkap ada di hardcopi)

3. Faktor yang paling dominan terhadap gangguan jiwa yaitu faktor lingkungan yang sifatnya maladaptif atau buruk (lengkapnya da di harcopinya)

4. RENCANA TINDAK LANJUT
ada di hardcopi lengkapnya ,

terima kasih Pak Yusuf .."


6. NIKODEMUS SILI BEDA

pada : 13 July 2017

"1. Selama beberapa minggu prktek di RSJ Menur banyak pengalaman yang menjadi pelajaran dan begitu banyak pengalaman baru yang saya dapat selama perakti.
2. Prektik keperawatan jiwa sangat besar kontribusinya dalam proses penyembuhan klien. contoh dalam prosesnya kami melaksanakan terpi untuk beberapa pasien dan memberikan dampak yang sangat baik dalam proses penyembuhan klien.
3.Yang menjadi faktor adalah koping individu, faktor dukungan kluarga dan pengaruh dari lingkungan sekitra. kontribusi keperawatan jiwa alalah bagimana terapi yang yang sudah dikembangkan harus diterapkan kepada klien, kluarga dan masyarakat itu sendiri.
4. Setelah menempuh pendidikan ini dalam meningkatkan pelayanan keperawatn jiwa dengan menerapkan terapi, melakukan penelitian dan pengembangan ilmu khususnya didalam keperawatan jiwa."


7. Siti Kotijah

pada : 13 July 2017

"1.Pengalaman saya menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa yang dilaksanakan selama tujuh minggu di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya memberikan pengalaman baru yang sangat berharga dan menantang. Melalui aplikasi tersebut bagaimana kita bisa mengembangkan terapi spesialisasi keperawatan dan juga dapat mengaplikasikan secara langsung serta mengevaluasi perubahan perilaku yang terjadi pada pasien gangguan jiwa.
2. Praktik keperawatan kesehatan jiwa yang di lakukan di RSJ Menur memberikan dampak yang sangat positive dan kontribusi yang sangat baik pada ruangan.Selain itu, praktik keperawatan jiwa yang kami lakukan juga memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan pada pasien. Melalui interaksi antara pasien dan mahasiswa pola pikir mereka terbentuk dengan baik.
3.Menurut saya faktor yang paling besar kontribusinya terhadap gangguan jiwa yaitu depresi sosial. Setiap manusia memiliki permasalahan kehidupan yang menimpa seseorang yang disebut sebagai stressor psikososial, yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh yang menyebabkan reaksi tubuh (fisik) dinamakan stress. Potensi stress utama juga datang dari pikiran yang terus-menerus menginterpretasikan isyarat-isyarat dari lingkungan secara tidak tepat.Bagaimana seseorang menginterpretasi peristiwa-peristiwa yang terjadi menentukan apakah ia akan mengalami stress atau tidak. Ini sangat dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang dari yang bersifat sederhana sampai yang filosifis menyangkut pandangan hidup. Pandangan hidup seseorang sangat berpengaruh pada bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya. Pandangan hidup yang materialistis tentu akan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku seseorang. Tolok ukur keberhasilan dan kesuksesan hidup jadinya bersifat material. Akibatnya, jika kebutuhan itu tidak terpenuhi, akan timbul kegelisahan yang luar biasa. Ketika orang kehilangan pangkat, jabatan, status sosial, uang, kekuatan fisik, intelektual, cinta, perhatian, dan lain-lain yang bersifat lahiriah, maka ia bisa merasa tak berguna lagi. Apabila ini dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan harga diri rendah yang selanjutnya berkembang menjadi gangguan jiwa. Disini peran keperawatan jiwa dapat berkontribusi mengatasi masalah tersebut dengan cara memberikan terapi psikososial.Terapi psikososial juga perlu dilaksanakan dirumah. Oleh karena itu, peranan keluarga dalam membantu pemulihan gangguan jiwa sangatlah besar. Tanpa dukungan psikososial dari keluarga, sangat sulit seseorang bisa pulih dari gangguan jiwa.
4.Rencana tindak lanjut setelah saya selesai menempuh pendidikan S2 Keperawatan minat studi keperawatan jiwa yaitu membuka praktik klinik jiwa Klinik jiwa ini nantinya tidak hanya diperuntukkan untuk orang sakit jiwa saja tetapi untuk orang yang sehat, resiko dan sakit.Metode pengobatan yang akan dilakukan yaitu dengan pendekatan klien dari sisi psikologis dengan menggunakan terapi spesialis yang akan dikombinasikan dengan terapi komplementer keperawatan yaitu akupuncture"


8. Siti Kotijah

pada : 13 July 2017

"1. Pengalaman saya menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa yang dilaksanakan selama tujuh minggu di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya memberikan pengalaman baru yang sangat berharga dan menantang. Melalui aplikasi tersebut bagaimana kita bisa mengembangkan terapi spesialisasi keperawatan dan juga dapat mengaplikasikan secara langsung serta mengevaluasi perubahan perilaku yang terjadi pada pasien gangguan jiwa.
2. Praktik keperawatan kesehatan jiwa yang di lakukan di RSJ Menur memberikan dampak yang sangat positive dan kontribusi yang sangat baik pada ruangan. Selain itu, praktik keperawatan jiwa yang kami lakukan juga memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan pada pasien. Melalui interaksi antara pasien dan mahasiswa pola pikir mereka terbentuk dengan baik.
3. Menurut saya faktor yang paling besar kontribusinya terhadap gangguan jiwa yaitu depresi sosial. Setiap manusia memiliki permasalahan kehidupan yang menimpa seseorang yang disebut sebagai stressor psikososial, yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh yang menyebabkan reaksi tubuh (fisik) dinamakan stress. Seseorang yang mengalami stress dapat diartikan bahwa orang itu memperlihatkan berbagai keluhan fisik, kecemasan, dan juga depresi. Faktor-faktor psikososial seperti masalah keuangan, pekerjaan, keluarga, hubungan interpersonal dan sebagainya cukup menjadi pemicu terjadinya stress atau depresi pada seseorang. Potensi stress utama juga datang dari pikiran yang terus-menerus menginterpretasikan isyarat-isyarat dari lingkungan secara tidak tepat. Bagaimana seseorang menginterpretasi peristiwa-peristiwa yang terjadi menentukan apakah ia akan mengalami stress atau tidak. Ini sangat dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang dari yang bersifat sederhana sampai yang filosifis menyangkut pandangan hidup. Pandangan hidup seseorang sangat berpengaruh pada bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya. Pandangan hidup yang materialistis tentu akan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku seseorang. Tolok ukur keberhasilan dan kesuksesan hidup jadinya bersifat material. Akibatnya, jika kebutuhan itu tidak terpenuhi, akan timbul kegelisahan yang luar biasa. Ketika orang kehilangan pangkat, jabatan, status sosial, uang, kekuatan fisik, intelektual, cinta, perhatian, dan lain-lain yang bersifat lahiriah, maka ia bisa merasa tak berguna lagi. Apabila ini dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan harga diri rendah yang selanjutnya berkembang menjadi gangguan jiwa. Disini peran keperawatan jiwa dapat berkontribusi mengatasi masalah tersebut dengan cara memberikan terapi psikososial. Terapi psikososial juga perlu dilaksanakan dirumah. Oleh karena itu, peranan keluarga dalam membantu pemulihan gangguan jiwa sangatlah besar.
4. Rencana tindak lanjut setelah saya selesai menempuh pendidikan S2 Keperawatan minat studi keperawatan jiwa yaitu membuka praktik klinik jiwa di daerah saya. Klinik jiwa ini nantinya tidak hanya diperuntukkan untuk orang sakit jiwa saja tetapi untuk orang yang sehat, resiko dan sakit. Metode pengobatan yang akan dilakukan yaitu dengan pendekatan klien dari sisi psikologis dengan menggunakan terapi spesialis yang akan dikombinasikan dengan terapi komplementer keperawatan yaitu akupuncture. akupuncture juga sangat efektif untuk menjaga stabilisasi mood dan memberikan efek rileks jika titik-titik meridian tertentu di tusuk.

"


9. Endri Eka Y

pada : 13 July 2017

"1. Selama menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa di Rumah Sakit Jiwa menur Surabaya, banyak cerita yang saya dapat bersama ODGJ. Praktik ini merupakan pengalaman pertama untuk saya dapat mengaplikasikan terapi dari teori yang sudah kami dapatkan. Dan dalam aplikasi kemarin kami mencoba menerapkan terapi idividu SST yang kami kembangakan menjadi terapi kelompok. Banyak hal yang kami dapatkan dalam pelaksanaan terapi SST tersebut.
2. Psikoterapi merupakan salah satu terapi yang sudah banyak dikembangkan saat ini, dan sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa psikoterapi sangat efektif dalam membantu penyembuhan pasien dengan gangguan jiwa. Dan praktik keperawatan kesehatan jiwa sangat memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan, akan tetapi psikofarmaka masih menjadi rujukan pertama pada orang dengan gangguan jiwa.
3. Menurut saya faktor yang paling besar kontribusinya terhadap terjadinya gangguan jiwa adalah adanya stresor dari lingkungan sekitar termasuk keluarga, jika individu mendapat tekanan dan tidak bisa menggunakan koping secara efektif bisa mengakibatkan gangguan jiwa. Maka disinilah peran kita sebagai perawat jiwa untuk bisa membantu klien dalam meningkatkan koping yang adekuat sehingga bisa menghadapi stressor dari luar dirinya.
4. Tentu saja untuk selanjutnya saya ingin terus mengembangkan keilmuan yang sudah saya miliki dengan melakukan berbagai riset di bidang keperawatan jiwa dan juga melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi.
"


10. Titik Nuryanti

pada : 13 July 2017

"1. pengalaman kami pada aplikasi klinik kami mencoba mengaplikasikan terapi spesialis SST dan ACT. banyak pasien yang antusias mengikuti program kami.
2. sangat berkontibusi dalam proses penyembuhan, sebagai contohnya setelah dilakukan kegiatan terapi aktivitas kelompok pasien banyak mengenal satu sama lain dan mampu diajak kerjasama
3. faktor sosial ekonomi adalah salah satu faktor yang mampu menyebabkan gangguan jiwa. dengan adanya perawat jiwa di komunitas mampu mencegah atau memberi pengetahuan sehingga masyarakat awam mengetahui tentang gejala-gejala gangguan jiwa
4. membuat sekolah dalam memantau pertukem dan deteksi dini pada anak"


11. Hanim Nur Faizah

pada : 13 July 2017

"1. pengalaman selama praktik di RSJ
- yg ada di teori tidak sama dg yg ada dilahan
- 2) Saya belajar mengenal karakter dari masing-masing pasien yang ada di ruangan yang saya tempati, yaitu ruang Kenari. Masalah pasien sebenarnya sangat kompleks, 1 pasien tidak hanya terdapat 1 diangnosa, tapi terdapat beberapa diagnosa bila mau mengkaji lebih dalam lagi
- Komunikasi (verbal/non verbal)adalah satu-satunya alat yg dibutuhkan untuk melakukan BHSP dan terapi pada px gangguan jiwa. tanpa komunikasi BHSP tdk akan terjalin dan terapi pun tdk akan berhasil
- 6) Dan yang membuat sangat berkesan saat praktik di RSJ Menur, ketika kelompok kami menerapkan program CBRT (Cognitive Behaviour Reward Therapy) di ruang kenari dengan tujuan untuk merubah perilaku klien dari negative menjadi positif. Memang yang kami ajarkan pada pasien diruang kenari hanya berupa perilaku sederhana yaitu tentang adab sebelum dan sesudah makan. Yang semula bila pasien makan 90% tidak ada yang cuci tangan dan makannya acak-acakan, sesudah makan pun langsung ditinggal., tapi setelah kami menerapkan program tersebut perilaku pasien yang semula negative menjadi perilaku positif.

2. terapi modalitas mempunyai peran andil dalam proses kesembuhan pasien. Sebagai contoh yang kami terapkan dalam kelompok kami di ruang kenari yaitu berupa CBRT (adab sebelum dan sesudah makan), walaupun kelihatannya sangat sederhana, tetapi terlihat dari perilaku pasien yang semula negative menjadi perilaku yang positif dan pengetahuan pasien tentang adab sebelum dan sesudah makan juga bertambah lebih baik setelah diadakan program tersebut. Dan pasien yang semula pasif pun, bisa ikut andil dalam program tersebut

3. faktor lingkungan (intern/ ekstern) karena dilingkungan lah berbagai macam masalah bisa datang

4. keinginan setelah lulus s2 keperawatan minat jiwa:
- membuat Desa binaan yg selanjutnya menjadi DSSJ di masing2 daerah yg ada di Tuban
- bersama2 dg perawat desa dan kader mengaktifkan scanning di masing2 daerah, shg prevalensi kelompok Sehat/Resiko/Gangguan di Tuban terdeteksi dg baik.

- mempelajari ttg STigma masyarakat ttg Gx jiwa, karna ternyata stigma itu bukan hanya pada masyarakat awam tapi org kesehatan yg berpendidikan tinggi juga sangat kuat
- Dan keinginan besar saya, saya ingin membuat pesantren yang disitu hanya menangani orang-orang dengan gangguan jiwa dari berbagai kelompok umur, mulai anak-anak sampai lansia. Dengan harapan mereka yang mempunyai gangguan jiwa bisa tertangani dengan baik di pesantren itu dengan menerapkan terapi spiritual sebagai penatalaksanaannya.
"


12. Muhammad Luthfi

pada : 13 July 2017

"1. Pertama kali saya dinas keperawatan jiwa di RSJ Sungai bangkong (Kalimantan Barat), lalu di RSJ Cisarua (Jawa Barat) dan sekarang saya menceritakan pengalaman di RSJ Menur (Jawa Timur). Seperti biasanya disana terdapat nuansa berbeda dari rumah sakit yang mengatasi penyakit dari orang tidak dengan ODGJ yaitu bukan fisiknya yang sakit, bukan patah tulang, bukan kanker stadium sekian, bukan sakit malaria atau sejenisnya tapi jiwanyalah yang sedang sakit. Maka dari itu pengalaman yang saya dapatkan setelah menjalani dinas di RSJ Menur itu sangat banyak sekali, terutama untuk menambah ilmu untuk diri saya pribadi dan belajar kultur budaya baru yang setiap provinsi beda kebiasaan. Sekian adalah pengalaman saya selama dinas di RSJ Menur untuk pengembangan keperawatan jiwa.
2. Dalam aplikasi klinik, kami telah diberikan pembekalan pelajaran terapi modalitas oleh pihak institusi Universitas Airlangga Surabaya, dalam pembekalan tersebut kami mencoba mengaplikasikan kepada rumah sakit, dikarenakan kami di ruangan flamboyan terdapat banyak pasien dengan PK (prilaku kekerasan) maka dari itu kelompok kami mencoba untuk mengaplikasikan terapi modalitas AT (assertive Therapy) dan ST (supportive therapy).
Didalam mengaplikasikan terapi tersebut, sebelumnya kami memcoba berikan pembekalan terapi modalitas AT (assertive Therapy) dan ST (supportive therapy) kepada ruangan flamboyan, alhamdulilah dari kepala ruangan, ci ruangan dan perawat pelaksana bisa hadir dalam persentasi kelompok kami. Setelah memberikan persentasi dan materi kepada ruangan, kami mencoba mengaplikasikan kepada pasien dengan diikutsertakan dengan perawat ruangan yang dinas pada hari kami memberikan terapi, Alhamdulillah dari hasil AT dan ST, pasien memberikan kemajuan untuk bertindak assertive yang signifikan, jika diberikan kisaran persentase yaitu dari 20% dapat memberikan kemajuan hingga 60-70%.
3. Menurut saya pribadi factor yang paling besar terjadinya gangguan jiwa adalah komunikasi yang terjadi biasanya kurang baik, antara keluarga masing masing maupun teman sekitar, didasari dari hal tersebut lah kebanyakan pasien memendam perasaannya sendiri yang seharusnya lebih baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga pada saat strees memuncak dan kesehatan jiwanya menurun maka mendapati sakit gangguan jiwa, lalu bagaimana saya sendiri menjadi seorang perawat khususnya keperawatan jiwa, dengan mengembangkan lagi cara komunikasi saya sendiri yang lebih baik lagi dan mudah dipahami oleh klien untuk memulihakan sedikit demi sedikit dalam memenuhi kesehatan jiwanya tersebut.
4. Rencana tindak lanjut saya pribadi dalam mengembangan kesehatan jiwa dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa adalah dengan mencoba mengkaji lebih dalam untuk mengetahui factor pencetus terjadinya gangguan jiwa, dan mencoba mencari alternative terbaik untuk bagaimana mengobati orang dengan gangguan jiwa, untuk sekrang mungkin lebih memperdalam cara berkomunikasi lebih baik, dan mempelajari terapi terapi apa saja yang lebih bisa mengubah prilaku positif pasien agar sedikit demi sedikit pasien bisa mengurangi stress dan kesehatan jiwanya tersebut

--- Terima Kasih ---

"


13. Ira Ayu Maryuti

pada : 13 July 2017

"1. Pengalaman saya selama menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa di RS Jiwa Menur surabaya selama tujuh (7) minggu sangat menyenangkan, karena disini saya dan teman-teman diberi kesempatan untuk melaksanakan inovasi terapi keperawatan jiwa secara langsung kepada pasien, yang selama ini kami hanya bisa mempelajarinya dengan praktik antar teman.
2. Untuk mengetahui apakah praktik keperawatan Kesehatan Jiwa memberikan kontribusi dalam penyembuhan pasien masih perlu adanya tidak lanjut lagi, (misalnya: terapi supportif bertujuan untuk mencegah kekambuhan dan mempersingkat lama perawatan di RS, tetapi kami belum tahu apakah tujuan tersebut tercapai, karena belum melakukan evaluasi). Sehingga menurut saya masih perlu diadakan tindak lanjut (penelitian)
3. faktor yang paling besar konstribusinya terhadap terjadinya gangguan jiwa adalah stressor internal. keperawatan jiwa dapat berkontribusi dalam tindakan preventif, yaitu: edukasi masyarakat.
4. Rencana setelah lulus s2: mengaplikasikan ilmu yang saya dapat selama proses perkuliahan kedalam pekerjaan saya dalam upaya peningkatan pendidikan Keperawatan Jiwa di Institusi tempat saya bekerja, melanjutkan penelitian-penelitian yang lebih mendalam tentang keperawatan jiwa dalam upaya pengembangan ilmu Keperawatan Jiwa, mengaplikasikan hasil penelitian ke dalam pengabdian masyarakat dallam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa, serta melanjutkan s3 Keperawatandalam upaya pengembangan diri."


14. Nansy Delia Pangandaheng

pada : 13 July 2017

"1. Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang unik karena masalah kesehaan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung, saperti pada masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan bermacam gejala dan disebabkan berbagai hal. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi mungkin muncul gejala yang berbeda dan kontradiksi
2. Perawat memberi stimulus yang konstruktif sehingga akhirnya klien belajar cara penanganan masalah yang merupakan modal dasar dalam menghadapi berbagai masalah, melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan, mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa klien (individu, keluarga, kelompok komunitas ).
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai manusia. Dalam keperawatan jiwa, perawat memandang manusia secara holistik dan menggunakan diri sendiri secara terapeutik
3. Faktor yang paling besar terjadinya gangguan jiwa yaitu dari lingkungan yang dialami klien itu sendiri dan penyebabnya juga bisa dari dalam keluarga maupun diluar lingkungan keluarga. Kontribusi keperawatan kesehatan jiwa pada pelayanan kesehatan jiwa dapat dibagi melalui tatanan pelayanan kesehatan yaitu rumah sakit jiwa, rumah sakit umum dan masyarakat
4. Melakukan Tridharma perguruan tinggi lewat ilmu pengetahuan yang di miliki.

Terima Kasih Pak..
"


15. Dhia Diana Fitriani

pada : 13 July 2017

"1. Pengalaman saya dalam menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa di RS Jiwa Menur Surabaya yaitu tampak berbeda dengan RS Jiwa yang pernah saya datangi sebelumnya, RS Jiwa Ernaldi Bahar di Palembang (Sumatera Selatan. Pertama tampak dari jumlah mahasiswa yang praktik di RS Jiwa Menur, Perbedaan kedua yang saya temukan adalah jumlah pasien wanita di ruang rawat inap RS Jiwa Menur dua kali lebih banyak dibandingkan dengan yang saya temukan di RS Jiwa Ernaldi Bahar Palembang

2. Kesimpulan saya setelah saya melakukan praktik keperawatan kesehatan jiwa di RS Jiwa Menur dan memberikan kontribusi berupa pelaksanaan assertive training therapy dan supportive therapy beserta modul pelaksanaannya, kami berharap hal ini akan dapat meningkatkan penyembuhan pasien serta mengurangi tingkat kekambuhan (relaps) pasien untuk kembali di rawat inap di RS Jiwa Menur

3. Menurut saya, faktor yang paling besar kontribusinya dalam terjadinya gangguan jiwa adalah faktor psikologis. Pada faktor psikologis terdapat konsep diri yang merupakan awal dari segala sesuatu dalam diri individu untuk memandang dirinya sendiri, kemampuannya beradaptasi terhadap lingkungan, mekanisme koping dalam menghadapi masalah, dan lain-lain. Konsep diri dibentuk dari sejak kanak-kanak, berdasarkan pola asuh orang tua, interaksi anak-ibu maupun anak-ayah, pandangan anak terhadap interaksi ibu-ayah, dan kemampuan anak mencontoh lingkungan. Konsep diri inilah yang membuat seorang individu berbeda dalam menghadapi masalah yang ada meskipun masalah yang dihadapi (stressor) sama

4. Rencana Tindak Lanjut saya setelah menempuh pendidikan S2 Keperawatan Minat Studi Keperawatan Jiwa dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa adalah melakukan penelitian/riset dan pengembangan terapi dan membuat sebuah panti rehabilitasi pasien jiwa, dengan memberdayakan pasien jiwa untuk melakukan kegiatan positif seperti menganyam, merajut, merias, dan sebagainya agar pasien bisa kembali ke masyarakat dengan modal kemampuan diri serta rasa percaya diri yang juga didapatkan dari asuhan keperawatan jiwa yang telah diberikan"


16. Agung Eko H.

pada : 13 July 2017

"1. Selama di RSJ Menur Surabaya sangat menarik dan berkesan. Kebetulan kami berkelompok aplikasi klinik di Ruang Kenari. Pemberian program intervensi keperawatan pada individu yang diberikan diantaranya adalah asertif terapi, ACT, cognitive behavior terapi, dan cbrt (cognitive reward behavior terapi) yang merupakan inovasi dari kelompok. Saat pasien diberikan kesempatan untuk berekspresi dan berkomunikasi dengan perawat, pasien sering dilibatkan dalam komunikasi atau interaksi dengan perawat mampu berdampak beda.
Berusaha berbagi dan berinteraksi serta menyiapkan kepulangan pasien yang kita sebut discharge planning. Kita menyampaikan kebutuhan aktifitas sehari – hari pasien mulai dari makan, minum, kebersihan diri dan komunikasi dengan sesama.
2. Pasien dengan gangguan jiwa selain mendapatkan psikofarmaka juga membutuhkan psikoterapi, melalui peran perawat yang professional dan care dengan pasien melalui asuhan keperawatan maka hal tersebut akan dapat dirasakan oleh pasien. Pada akhirnya pasien dapat sembuh dengan optimal. Program discharge planning yang diberikan terutama saat ada anggota keluarga pasien berkunjung di Kenari, saya dan kelompok manfaatkan untuk mengcroscek, mengkaji, identifikasi serta memberikan edukasi guna persiapan keluarga jika sewaktu – waktu pasien sudah kembali di rumah.
3. Aspek terbesar yang menjadi penyebab gangguan jiwa adalah Aspek psikologis: yang dimaksud adalah aspek yang didapatkan oleh seseorang setelah ia lahir. Seorang anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang salah, persaingan dengan saudara kandung, tingkat perkembangan emosi, pekerjaan, IQ, konsep diri dan lain – lain.
Di lingkungan RSU kontribusi perawat jiwa, mampu memberikan support berupa emosi dan psikis, sehingga pasien dengan penyakit fisik lebih mampu mengendalikan kejiwaan saat dalam keadaan sakit.
4. Berusaha menjadikan desa binaan khusus keperawatan jiwa. Jika desa siaga, desa binaan memiliki kekhasan masing – masing, maka desa binaan sehat jiwa juga memiliki karakteristik jiwa. Hal ini dapat diaplikasi pada desa yang sehat, beresiko maupun desa dengan gangguan jiwa. Tdak lupa menggandeng dinas terkait, dinas sosial, bappeda, kesehatan. Pasien yang telah sembuh, diberikan subsidi ekonomi atau ketrampilan tertentu maka pasien mampu survive atau bertahan hidup dengan keluarga dengan layak. Semoga dengan optimalisasi program tersebut, mampu meningkatkan tingkat kesehatan jiwa dan masyarakat menjadi produktif dan sejahtera.
"


17. ZULVANA

pada : 14 July 2017

"1. Saya bisa belajar cara berkomunikasi terapeutik dengan klien yang memiliki diagnosa yang berbeda-beda. Ternyata berkomunikasi terapeutik sangat sulit untuk diterapkan. Misalnya saat saya bertemu klien dengan isolasi sosial, awalnya saya sangat susah mengajaknya berbicara, tidak cukup bertemu 1 kali untuk membuat klien bersedia mengungkapkan unek-uneknya. Setelah beberapa kali bertemu baru klien tersebut bersedia berbicara dengan saya.
Pada saat aplikasi klinik kelompok saya melakukan terapi lanjutan SST. Terapi ini sebenarnya bagus untuk diterapkan. Pada saat melakukan terapi ini tampak perubahan pada klien di setiap sesi yang kami lakukan. Ada salah satu klien, awalnya untuk menatap orang saja klien tersebut badannya gemetar dan bicaranya kurang jelas tetapi setelah mengikuti SST sampai akhir sesi, klien tersebut sudah mulai berani mengungkapkan pendapatnya tanpa ditunjuk serta tidak gemetar saat diajak berbicara.
2. Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa yang sudah kami lakukan menurut saya dapat memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan klien.
Terapi SST ini sebenarnya bagus untuk diterapkan tetapi sangat sulit untuk dilakukan karena terkait jumlah perawat ruangan yang masih sedikit dan kemauan perawat untuk melakukan terapi tersebut masih kurang.
3. Menurut saya bedasarkan hasil pengkajian ke beberapa klien faktor yang paling besar kontribusinya terhadap terjadinya gangguan jiwa adalah adanya hubungan dalam keluarga yang kurang harmonis serta faktor ekonomi. Keperawatan jiwa dapat berkontribusi mengatasi masalah tersebut dengan cara melakukan edukasi ke keluarga yang bermasalah, kemudian untuk upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara penyuluhan ke setiap daerah tentang keperawatan jiwa keluarga.
4. Upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa yaitu dengan melakukan penelitian untuk mengembangkan keperawatan jiwa serta melakukan peyuluhan ke daerah-daerah tentang topik-topik yang berhubungan dengan keperawatan jiwa dan membuat desa binaan sehingga terbentuklah masyarakat yang mulai tertarik untuk melakukan upaya kesehatan jiwa. "


18. Nurul Arifah

pada : 14 July 2017

"1. Pengalaman selama menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa di RS Jiwa Menur Surabaya adalah menambah wawasan mengenai rutinitas dalam ruang perawatan pasien dengan gangguan jiwa di RS, bentuk kebijakan RS terkait, kelebihan dan kekurangan dalam proses pelayanan keperawatan jiwa di RS, pemberdayaan tenaga perawat, pembuatan modul, diskusi pakar, dan sosialisasi sekaligus (percobaan) penerapan terapi spesialis di ruangan, serta pelaporan tanggungjawab dari program aplikasi pada pihak RS dan akademik.
2. Dari modul dan aplikasi 2 terapi individu dan kelompok yang dilaksanakan di ruangan sebagai bentuk praktik keperawatan kesehatan jiwa di RS dapat memberikan kontribusi sebagai langkah awal dalam membantu proses penyembuhan pasien dan juga kontribusi ke pihak RS sebagai ngurangan masa rawat pada kasus gangguan jiwa.
3. Faktor yang paling besar pengaruh pada terjadinya gangguan jiwa adalah ketidakefektifan mekanisme koping dari individu, keluarga dan masyarakat dalam merespon stressor yang ada disekitar. Keperawatan jiwa berkontribusi dalam mengatasi hal tersebut dengan pendekatan secara holistik dan komprehensif pada individu, keluarga, dan masyarakat sehingga dapat mencapai target mekanisme koping adaptif terhadap suatu masalah/kasus.
4. Setelah menempuh pendidikan S2 Keperawatan Minat Studi Keperawatan Jiwa, ada beberapa hal yang sebagai rencana tindak lanjut dari apa yang akan saya lakukan dalam sisi upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa, yaitu berupa pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (3P). Pendidikan dengan terus memperbaharui ilmu (terutama keperawatan jiwa) sekaligus menyebarluaskannya pada banyak orang, penelitian dengan mengambil topik bahasan kasus yang terjadi di klinik/masyarakat untuk dilakukan penelusuran lebih lanjut, juga pengabdian masyarakat berupa sosialisasi dan penerapan keilmuan dan hasil penelitian mengenai keperawatan jiwa.
"


19. Maulana Rahmat Hidayatullah

pada : 14 July 2017

"1. Pengalaman saya selama menjalani program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa di RS Jiwa menur Surabaya adalah selama hampir tujuh minggu berinteraksi dengan klien jiwa membuat lebih akrab, dan mengurangi stigma saya terhadap RSJ menur, ada rasa cemas yang mengiringi saat membayangkan akan praktik di ruang perawatan RSJ Menur. Secara jujur memang sebelumnya saya belum pernah praktik atau masuk di RSJ Menur Surabaya. Adapun saya pernah profesi di RSJ Lawang itupun sudah lama sekali hampir satu tahun lebih dan selama itu pula saya tidak pernah bercakap, bertegur sapa bahkan bertemu dengan klien jiwa. Saya bersyukur, melalui program aplikasi klinik pengembangan keperawatan jiwa ini Allah telah menunjukkan kepada saya bahwa banyak “saudara-saudara” kita yang mendapat ujian hidupnya lebih berat daripada kita. Setidaknya melalui aplikasi klinik ini perasaan cemas yang saya rasakan yang mengarah ke stigma terhadap klien jiwa menjadi menurun. Menurut Link dan Phelan (dalam Scheid & Brown, 2010) proses terjadinya stigma diantaranya adalah karena : labelling, aspek kognitif atau keyakinan budaya yang mengarah kepada timbulnya stereotype, separation, dan diskriminasi. Menurut saya jika perasaan cemas saya ini berlanjut berlarut-larut maka akan mengarah kepada stereotype akibat aspek kognitif yang mengarah kepada stigma. Namun demikian, perawat-perawat dan petugas yang bekerja di sana saya lihat juga tidak lepas dari stigma ini. Menurut pengamatan saya mereka melakukan proses stigma berada pada tahapan yang lebih yaitu separation. Para petugas dan perawat membedakan pemisahan “kita” (sebagai pihak yang tidak memiliki stigma atau pemberi stigma) dengan “mereka” (kelompok yang mendapatkan stigma). Hal ini salah satunya tampak saat interaksi dengan klien, petugas dan perawat tidak jarang membentak, bermuka masam dan bersuara dengan nada tinggi.
2. Kesimpulan saya tentang praktik keperawatan kesehatan jiwa, berpotensi mampu memberikan kontribusi dalam proses penyembuhan klien. Sebagai contoh melalui interaksi mahasiswa klien menjadi mampu melatih kemampuan bersosialisasinya belum lagi dengan adanya inovasi-inovasi yang dilakukan oleh mahasiswa keperawatan dapat menjadi sarana memperbaiki perilaku klien. Salah satu contohnya adalah di ruangan saya praktik, kenari, sudah ada jadwal kegiatan harian klien yang sejak dulu sudah ditetapkan di ruangan. Entah kenapa jadwal kegiatan tersebut tidak dilakukan di ruangan. Melalui inovasi mahasiswa inilah kami menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan atau minimal adab melakukan kegiatan yang benar yang sesuai norma dan nilai di masyarakat. Dengan harapan melalui proses ini klien mampu lebih mandiri dan mengurangi risiko dikucilkan saat kembali ke masyarakat.
3. Menurut saya, faktor yang paling besar kontribusinya terhadap terjadinya gangguan jiwa adalah ketidakmampuan seseorang untuk menghadirkan koping yang sesuai terhadap stressor yang ia hadapi. Sesuai dengan teori Sister Callista Roy, 2009 tentang stress adaptasi menyatakan bahwa seseorang akan mengalami berbagai stresor atau stimulus yang dapat mempengaruhi mekanisme koping, stimulus atau input yang masuk diantaranya adalah stimulus fokal, stimulus konstektual dan stimulus residual sehingga ODGJ membutuhkan mekanisme koping yang tepat untuk upaya yang diarahkan pada pengelolaan stressor. Cara keperawatan jiwa dapat berkontribusi mengatasi masalah tersebut adalah mengaplikasikan teori-teori keperawatan yang telah ada dengan mengembangkan sebuah model aplikatif seputar area garap keperawatan jiwa yang lebih mudah diaplikasikan di area klinis.
4. Penjelasan secara singkat “Rencana Tindak Lanjut” saya setelah menempuh pendidikan S2 Keperawatan Minat Studi Keperawatan Jiwa, dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan jiwa adalah membuka klinik jiwa yang bekerjasama dengan posyandu jiwa di puskesmas daerah saya. Selain itu juga saya ingin mengaplikasikan hasil tesis saya yang insyaallah nanti akan membahas tentang pemodelan pencegahan stigma atau relaps kekambuhan ulang pasien. Saya rasa ini sangat perlu untuk digarap karena fenomenanya stigma dan kekambuhan pasien hingga saat ini masih tinggi dan menjadi focus perhatian kita sebagai perawat jiwa."


20. Sahriana

pada : 14 July 2017

"1. Aplikasi selama 7 minggu memberikan tantangan tersendiri kepada saya. tantangan berupa bahasa, namun setelah beberapa hari saya mulai terbiasa dan mulai mengerti apa yang disampaikan oleh pasien.
2. Terapi yang dilakukan di ruangan bisa memberikan kontribusi terhadap kesembuhan pasien. terjadi perubahan pola perilaku pasien, yang awalnya tidak memperhatikan kebersihan sesudah dan sebelum makan, setelah diberikan intervensi pasien mulai menunjukkan perubahan perilaku yang diharapkan (adab makan)
3. Perawat perlu berkolaborasi dengan puskesmas dan perawat komunitas dalam memantau perkembangan pasien jiwa yang telah mendapatkan perawatan
4. Rencana tindak lanjut yakni melakukan penelitian - penelitian yang dapat menunjang pengembangan terapi jiwa.
"


Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

478189