Mental Health, Begins with Me

Ah-Yusuf, Nursing, Universitas Airlangga

RPS KPJ 606
diposting oleh ah-yusuf-fkp - 23 August 2017
kategori : MA KPJ 606 - 6 komentar

Mata ajar ini berisi tentang berbagai teori stress, penyebab, tanda dan gejala, manifestasi terhadap tubuh manusia, cara mengkaji dan alternatif solusi dalam mengelola stress. Setelah mengikuti mata ajar ini, diharapkan mahasiswa mampu memberikan kontribusi berupa publikasi ilmiah tentang stress pada berbagai kasus dan penatalaksanaannya.

Aoabila ada umpan balik atau ingin berdiskusi tentang mata kuliah ini... silahkan tulis di komentar dibawah.

RPS secara lengkap silahkan download disini.....



6 Komentar

1. Galih Noor Alivian

pada : 29 October 2017

"NIM 131614153081
Manajemen Stres

Autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik merupakan salah satu contoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri (Stetter, 2002).
Menurut Aryanti (2007) dalam Pratiwi (2012), relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Widyastuti (2004) menambahkan bahwa relaksasi autogenik membantu individu untuk dapat mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah. Luthe (1969) dalam Kang et al (2009) mendefinisikan relaksasi autogenik sebagai teknik atau usaha yang disengaja diarahkan pada kehidupan individu baik psikologis maupun somatik menyebabkan perubahan dalam kesadaran melalui autosugesti sehingga tercapailah keadaan rileks.
Relaksasi autogenik akan membantu tubuh untuk membawa perintah melalui autosugesti untuk rileks sehingga dapat mengendalikan pernafasan, tekanan darah, denyut jantung serta suhu tubuh. Imajinasi visual dan mantra-mantra verbal yang membuat tubuh merasa hangat, berat dan santai merupakan standar latihan relaksasi autogenik (Varvogli, 2011). Sensasi tenang, ringan dan hangat yang menyebar ke seluruh tubuh merupakan efek yang bisa dirasakan dari relaksasi autogenik. Tubuh merasakan kehangatan, merupakan akibat dari arteri perifer yang mengalami vasodilatasi, sedangkan ketegangan otot tubuh yang menurun mengakibatkan munculnya sensasi ringan. Perubahan33 perubahan yang terjadi selama maupun setelah relaksasi mempengaruhi kerja saraf otonom. Respon emosi dan efek menenangkan yang ditimbulkan oleh relaksasi ini mengubah fisiologi dominan simpatis menjadi dominan sistem parasimpatis (Oberg, 2009).
Pada kasus pre operasi, terapi telaksasi autigenik ini dilakukan oleh terapis atau perawat yang sudah menguasai teknik relaksasi autogenik, pasien di atur posisi tubuh setelah itu Konsentrasi dan kewaspadaan, pernapasan dalam sambil dihitung 1 hingga 7 dilakukan guna meyakinkan. Ada lima langkah dalam relaksasi autogenik yaitu perasaan berat, perasaan hangat, ketenangan dan kehangatan pada jantung, perasaan dingin di dahi, dan ketenangan pernafasan."


2. Diana Pefbrianti

pada : 30 October 2017

"Nama : Diana Pefbrianti
NIM : 131614153014
Kelas : M9 (KMB)
Fasilitator : Dr. Ah. Yusuf., S.Kp., M.Kes
Tugas : Relaksasi Autogenik pada Pasien Pre Operasi yang Mengalami Stres

1. Apakah autogenik itu?
Relaksasi adalah suatu keadaan dimana seseorang merasakan bebas mental dan fisik dari ketegangan dan stres. Teknik relaksasi bertujuan agar individu dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa ketegangan dan stres yang membuat individu merasa dalam kondisi yang tertekan (Potter & Perry, 2005). Relaksasi psikologis memiliki manfaat bagi kesehatan yang memungkinkan tubuh menyalurkan energi untuk perbaikan dan pemulihan, serta memberikan kelonggaran bagi ketegangan akibat pola-pola kebiasaan (Goldbert, 2007).
Autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik adalah salah satu contoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri (Stetter, 2002). Menurut Aryanti (2007) dalam Pratiwi (2012), relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Widyastuti (2004) menambahkan bahwa relaksasi autogenik membantu individu untuk dapat mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah. Luthe (1969) dalam Kang et al(2009) mendefinisikan relaksasi autogenik sebagai teknik atau usaha yang disengaja diarahkan pada kehidupan individu baik psikologis maupun somatik menyebabkan perubahan dalam kesadaran melalui autosugesti sehingga tercapailah keadaan rileks.
2.Bagaimana relaksasi autogenik dapat menurunkan stres pada pasien pre operasi?
Hasil penelitian tim dokter dan ahli psikologis mengenai penyebab pasien pre operasi melakukan penundaan perawatan operasi dan medis, menyimpulkan sebanyak 42% dari 200 pasien yang diamati melakukan penundaan operasi karena faktor-faktor psikologis, psikodinamis dan emosional sebelum operasi. Adapun Yulanda (2003) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa sebanyak 91,43% pasien pre operasi mengalami kecemasan.
Menurut Jong (2008) mengungkapkan bahwa dalam keadaan cemas, tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan yang akan meningkatkan tekanan darah, sesak dan emosi tidak stabil. Akibat dari kecemasan pasien preoperasi yang sangat hebat maka ada kemungkinan operasi tidak bisa dilaksanakan karena pada pasien yang mengalami kecemasan sebelum operasi akan muncul kelainan seperti tekanan darah yang meningkat, sehingga apabila tetap dilakukan operasi akan dapat mengakibatkan penyulit terutama dalam menghentikan perdarahan, dan bahkan setelah operasipun akan mengganggu proses penyembuhan. Menurut National Safety Council (2004), untuk mengembalikan tubuh kekondisi yang tenang atau hemostasis harus dilakukan sesuatu agar dapat menurunkan rangsangan yang ditangkap oleh pancaindra melalui penggunan tehnik relaksasi, salah satu bentuk tehnik relaksasi yang dapat digunakan adalah tehnik relaksasi autogenik.
Beech dkk (dalam Subandi, 2002), menyebutkan relaksasi berusaha mengaktifkan kerja syaraf parasimpatetis. Keadaan rileks menurunkan aktivitas amygdala, mengendurkan otot, dan melatih individu mengaktifkan kerja sistem syaraf parasimpatetis sebagai counter aktivitas sistem syaraf simpatetis. Relaksasi selama ini telah terbukti dapat mengurangi kecemasan. Pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap penurunan tingkat kecemasan, stress & kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di PERSADIA Unit RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Subjek penelitian sebanyak 20 orang dengan membagi menjadi dua kelompok, yaitu kontrol dan eksperimen. Hasil menyatakan bahwa pelatihan teknik relaksasi progresif dapat menurunnkan tingkat stres dan kadar gula.
3.Bagaimana relaksasi pada pasien pre operasi, bagaimana mobilisasinya dan cara melakukannya?
Perawat dapat memberikan informasi pre operasi yang detail dan dapat juga melakukan terapi berupa teknik-teknik yang bertujuan untuk merileksasikan pasien sebelum menjalani operasi salah satunya ialah teknik relaksasi autogenik. Pada awalnya perawat mengajarkan untuk prosedur melakukan relaksasi autogenik kemudian selanjutnya pasien sendiri yang akan melakukannya.

DAFTAR PUSTAKA
Aryanti, NP. 2007. Terapi Modalitas Keperawatan. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Beck, A.T. 2001. Coqnitive Therapy and Emotional Disorders. New York : International Universities Press.

Kang, E., Park, J., Chung C., Yu, B. 2009. Effect of Biofeedback Assissted Autogenic Training on Headache Activity and Mood States in Korean Female Migraine Patients. Journal Korean Medicine Sciences. Vol. 24: 936-40.
National Safety Council, T.C Gilchrest. 2004. Manajemen Stres. Jakarta: EGC.

Potter, PA, Perry AG. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4 Vol. 2. Jakarta: EGC

Pratiwi. 2012. Penurunan Intensitas Nyeri Akibat Luka Post Sectio Caesarea Setelah Dilakukan Latihan Teknik Relaksasi Pernapasan Menggunakan Aroma Terapi Lavender di rumah Sakit Al Islam Bandung. Skripsi, FIK Unpad.

Stetter. 2002. Autogenic Training : A Meta Analysis of Clinical Outcome Studies. 27 (1) Germany: Plenum Publishing Corporation.

Subandi. 2002. Psikoterapi Pendekatan Konvensional dan Kontemporer. Yogyakarta: Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM
"


3. IFA NOFALIA NIM

pada : 30 October 2017

"1. Apa bedanya life review therapi dan reminiscence therapi?
Therapy reminiscence adalah suatu terapi yang ditujukan untuk memulihkan depresi perasaan stress pada pasien. Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963). Terapi ini pada dasarnya menekankan individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang kembali memori masa lalu. Melalui refleksi ini individu untuk menyelesaikan konflik, mengatasi pengalaman masa lalu yang menyakitkan sehingga individu tersebut mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi saat ini. Life review menurut Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) adalah suatu proses “melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini. Wheeler (2008) secara terperinci memberikan perbedaan therapy reminiscence dan life review yang disajikan berikut :
a. Sifat
1) Live review: Dilakukan antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1, Proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan, Daya ingat (recall) harus berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang, dan Mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang.
2) Reminiscence therapy: Interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori, Melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan, Tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan, Berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman masa lalu bukan kejadian-kejadian sekarang.
b. Kejadian yang diingat kembali
1) Live review: Waktu bahagia dan sedih
2) Reminiscence therapy: Waktu bahagia dan sedih
c. Batasan Waktu
1) Live review: Biasanya menggunakan 4-6 minggu
2) Reminiscence therapy: Tidak ada alokasi waktu yang spesifik
d. Tujuan
1) Live review: Integritas, Meningkatkan harga diri, Menurunkan depresi, Meningkatkan kepuasan hidup, dan Kedamaian
2) Reminiscence therapy: Menurunkan isolasi, Meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, Meningkatkan harga diri, dan Meningkatan kepuasan hidup.
e. Karakteristik Pasien
1) Live review: Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan, Berfokus pada diri sendiri, dan Biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup.
2) Reminiscence therapy: Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang, Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok, Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati.
Dari perbedaan yang dikemukan Wheeler diatas, life review hanya dapat dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Secara khusus terapi ini belum memberikan kesempatan pada penderita untuk meningkatkan interaksi dengan orang lain, sehingga penyelesaian masalah isolasi sosial belum tentu dapat tercapai secara optimal. Untuk membedakan terapi ini dari reminiscence, Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) juga mengatakan bahwa life review merupakan suatu tipe dari therapy reminiscence. Frazer, Christensen dan Griffiths (2005) menyatakan bahwa life review serupa dengan reminiscence. Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan therapy life review lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu.
Therapy reminiscence merupakan salah satu intervensi keperawatan spesialis yang dapat dilaksanakan secara individu maupun kelompok. Terapi ini lebih utama ditujukan pada penderita yang mengalami depresi. Therapy reminiscence yang dilakukan secara kelompok akan lebih memberikan kesempatan kepada sesama pasien untuk saling berbagi pengalaman masa lalu untuk mencapai integritas diri.
2. Teori keperawatan apa yang cocok/berkaitan?
Teori Betty Newman:
Alasannya, Betty Neuman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka. Bagi Neuman manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis, fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dan disesuaikan oleh lingkungan yang digambarkan sebagai stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Dengan menggunakan perspektif sistem ini, maka kliennya bisa meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau kumpulan agregat lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan.
Tujuan ideal dari model ini adalah untuk mencapai stabilitas sistem secara optimal. Apabila stabilitas tercapai maka akan terjadi revitalisasi dan sebagai sistem terbuka maka klien selalu berupaya untuk memperoleh, meningkatkan, dan mempertahankan keseimbangan diantara berbagai faktor, baik didalam maupun diluar sistem yang berupaya untuk mengusahakannya. Neuman menyebut gangguan-gangguan tersebut sebagai stressor yang memiliki dampak negatif atau positif. Reaksi terhadap stressor bisa potensial atau aktual melalui respon dan gejala yang dapat diidentifikasi. Neuman menggunakan sejumlah orang untuk melakukan pendekatan. Yang termasuk dalam konsep mayor menurutnya adalah: Tekanan (intrapersonal, interpersonal dan ekstra personal), Struktur Pokok Sumber Energi, Tingkat Ketahanan, Garis Normal Pertahanan, Gangguan Pertahanan, Tingkat Reaksi
Intervensi, Tingkat-Tingkat Pencegahan (primer, sekunder dan tersier), dan Penyesuaian Kembali.
Model konseptual dari Neuman memberikan penekanan pada penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan terfokus pada empat intervensi yaitu : Intervensi yang bersifat promosi, Intervensi yang bersifat preventif, Intervensi yang bersifat kuratif, dan Intervensi yang bersifat rehabilitative.
Model Sistem Neuman (1982) dapat digunakan untuk menjelaskan kerangka konsep duka cita. Variabel yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem klien, yaitu : fisiologis, psikilogis, rohani, perkembangan, dan sosial budaya, dapat digunakan untuk menguraikan atribut dari duka cita. Kehilangan di masa lalu dapat dijelaskan sebagai sebuah stressor, dan akibat dari duka cita diartikan sebagai suatu proses yang serupa dengan konsep Neuman yaitu rekonstitusi. Intervensi untuk membantu klien dalam menghadapi pengalaman duka cita dapat dikatagerikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Reed, 2003).
Penggunaan terminologi dari teori Neuman untuk menguraikan konsep duka cita dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam terminologi Neuman, kejadian di masa lalu merupakan stressor, dan dalam kasus duka cita, stressor adalah perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan mugkin bersifat intra-personal (misalnya : kehilangan salah satu anggota badan. Kehilangan peran atau fungsi), interpersonal (misalnya : berpisah dengan pasangannya, anak, atau orangtua), atau ekstra-personal (misalnya : hilangnya pekerjaan, rumah, atau hilangnya limgkungan yang dikenal).Neuman (1995) menyatakan bahwa dampak dari stressor dapat didasarkan pada dua hal, yaitu : kekuatan stressor dan banyaknya stressor.
Modifikasi terhadap respon duka cita diidentifikasi sebagai kombinasi dari beberapa pengalaman yang bersifat individual dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang terdiri dari hubungan antara orang yang berduka dengan objek yang hilang, sifat alami dari kehilangan, dan kehadiran sistem pendukung (support system). Faktor-faktor lain memiliki efek yang kuat pada perasaan duka cita, seeperti pengalaman individu yang sama sebelumnya, kepercayaan spiritual dan budaya yang dianut. Penjelasan mengenai modofikasi respon duka cita sama halnya dengan gagasan Neuman mengenai interaksi antar variabel (fisik, psikologis, sosial budaya, perkembangan , dan rohani). Kombinasi beberapa variabel yang unik pada diri seseorang (pengalaman sebelumnya dengan duka cita, nilai-nilai, kepercayaan spiritual, status fisiologis, batasan sosial budaya, dan yang lainnya) dapat dibandingkan dengan variabel-variabel yang menyusun garis pertahanan normal (normal lines of defense) dan garis perlawanan. Masing-masing garis pertahanan dan garis perlawanan memodifikasi pada tingkatan tertentu dimana stressor mempumyai efek yang negatif pada diri seseorang. Garis pertahanan normal membantu sistem klien untuk menyesuaikan dengan stres akibat kehilangan ; garis perlawanan bertindak sebagai kekuatan untuk membantu klien kembali ke kondisi yang stabil. Faktor yang lain, seperti pengalaman individu sebelumnya dengan perasaan kehilangan dan duka cita, budaya, dan kepercayaan religius menjadi bagian dari struktur dasar individu. Garis pertahanan dan perlawanan melindungi struktur dasar dari gangguan stres yang menimpa individu (Reed, 1993).
Analisis konsep keperawatan menurut Neuman bahwa keperawatan memperhatikan semua hal dan stressor-stressor pontensial kaitannya dengan penggunaan pengaruh dan potensial dampak stressor lingkungan. Tujuan keperawatan adalah menjaga stabilitas system klien, membantu klien untuk mengurus diri yang mana hal – hal sebagai persyaratan untuk mencapai tahap kesehatan yang optimum. Memfasilitasi kesehatan yang optimum untuk pasien melalui memperkuat atau memelihara stabilitas system klien. Sehat adalah keadaan baik. Saat semua bagian pada klien berada dalam keadaan harmonis atau seimbang ketika semua dibutuhkan untuk bertemu, kesehatan optimal tercapai. kesehatan adalah juga energi. Manusia terdiri dari Fisiologi, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Diwakili untuk struktur sentral, garis pertahanan dan garis perlawanan. Klien adalah manusia yang diancam atau diserang oleh stressor lingkungan. Lingkungan adalah semua faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi klien dan system klien. Tiga type lingkungan yang telah diidentifikasi ; internal, eksternal dan , lingkungan yang diciptakan. Stressor adalah bagian dari lingkungan, lingkungan internal berisi dalam batas system klien. Lingkungan eksternal berisi kekuatan-kekuatan diluar system klien. Lingkungan yang diciptakan merupakan mobilisasi yang tidak disadari klien terdiri dari struktur komponen-komponen sebagai faktor energi, stabilitas dan integritas. Masalah keperawatan merupakan kesehatan system klien yang terancam atau manifestasi aktual respon terhadap stressor.
3. Kalau masa lalu seseorang buruk, efektif atau tidak terapi ini?
Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan membantu individu mencapai kesadaran diri dan memahami diri, beradaptasi terhadap stress dan melihat bagian dirinya dalam konteks sejarah dan budaya. Sedangkan menurut Nussbaum, Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher, 2003) therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok dan meningkatkan keintiman sosial. Frisch dan Frisch (2006) juga menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan sosialisasi. Tujuan lain dilakukannya therapy reminiscence adalah untuk meningkatkan fungsi kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi perilaku (RIPFA, 2006). Boyd dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et all., 2005) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Terapi kelompok reminiscence mempunyai potensi untuk menurunkan isolasi sosial, memperbaiki fungsi kognitif dan depresi dan meningkatkan harga diri, perasaan berharga, keterampilan sosial dan kepuasan hidup (Chao, et al., 2006; Lin, et al., 2003), dalam Parese, Simon & Ryan, 2008). Tetapi, jika seseorang mempunyai banyak kejadian traumatik maka melakukan reminiscence therapy harus berhati-hati karena mungkin lebih sulit, dan kefektifannya masih diperdebatkan.
"


4. Nurul Hikmatul Qowi

pada : 01 November 2017

"Stress pada mahasiswa keperawatan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, tekanan agar menjadi sukses dari keluarga karena satu-satunya anggota keluarga yang bisa menempuh pendidikan di universitas, koping mahasiswa yang rendah, dan praktek klinik (Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon, 2015). Berdasarkan hasil review artikel, dapat diketahui bahwa mindfulness dapa digunakan pada mahasiswa yang mengalami stres karena kegiatan akademik (Song & Lindquist, 2015), praktik klinik (Song & Lindquist, 2015; Kang, Choi, dan Ryu, 2009).
Menurut Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon (2015) mindfulnesss yang dapat menurunkan stres dilakukan selama 7 minggu. Mindfulnesss-based stress reduction (MBSR) efektif dilakukan selama dua jam perminggu selama 8 minggu (Song & Lindquist (2015) atau 90 menit setiap sesi selama 8 minggu (Kang, Choi, dan Ryu, 2009).

Mindfulness merupakan kemampuan seorang manusia untuk sepenuhnya menyadari keberadaannya, dimana seseorang berada, apa yang dilakukannya, dan tidak bereaksi berlebihan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Pada dasarnya terdapat dua macam mindfulness, yaitu formal dan nonformal. Menurut saya pribadi, jenis mindfulness mana yang lebih efektif dalam mengurangi stres pada mahasiswa adalah tergantung pada karakter mahasiswa itu sendiri. pada mahasiswa dengan pola hidup yang sudah tertata rapi, maka alangkah baiknya memakai mindfulness yang formal, yaitu melakukan mindfulness secara terprogram, baik dilakukan mandiri maupun mengikuti meditasi, yoga secara berkelompok. Bagi mahasiswa dengan banyak aktivitas atau dengan hobi-hobi tertentu, maka dapat memilih mindfulness informal, yang mana mindfulness dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari atau hobi tersebut.Apapun jenis mindfulness yang digunakan, yang paling penting adalah kemampuan seseorang tersebut dalam mengelola pikirannya selama proses mindfulness berlangsung. Dengan pengelolaan pikiran yang baik, maka hasil yang diharapkan untuk mengurangi stres juga akan lebih baik.
Apabia seseorang masih terpapar stressor, maka stres pasti akan tetap terjadi, dengan adanya manajemen stres yang dilakukan, paling tidak, dapat mengurangi stres yang dirasakan.
"


5. Amita Audilla

pada : 01 November 2017

"1. Apa bedanya life review therapi dan reminiscence therapi?
Wheeler (2008) secara terperinci memberikan perbedaan therapy reminiscence dan life review yang disajikan berikut :
1) Sifat
a. Life Review Therapy :
- Dilakukan antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1.
- Proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan, daya ingat (recall)
- Berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang
- Mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang
b. Reminiscence therapy :
- Interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori,
- Melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan,
- Tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan
- Berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman masa lalu bukan masa sekarang.

2) Kejadian yang diingat
a. Life Review Therapy : Waktu bahagia dan sedih
b. Reminiscence therapy : Waktu bahagia dan sedih
3) Batasan waktu
a. Life Review Therapy :
- Biasanya menggunakan 4-6 minggu
b. Reminiscence therapy :
- Tidak ada alokasi waktu yang spesifik

4) Tujuan
a. Life Review Therapy :
Integritas, meningkatkan harga diri, menurunkan depresi, meningkatkan kepuasan hidup, dan kedamaian
b. Reminiscence therapy :
Menurunkan isolasi, meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, meningkatkan harga diri, dan meningkatan kepuasan hidup

5) Karakteristik Pasien
a. Life Review Therapy :
- Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan
- Berfokus pada diri sendiri, dan biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup
b. Reminiscence therapy :
- Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang.
- Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok.
- Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati

Dari perbedaan yang dikemukan Wheeler diatas, Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan life review therapy lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu. Life review therapy hanya dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Sedangkan terapi reminiscence dapat dilakukan secara berkelompok maupun secara individu. Therapy reminiscence yang dilakukan secara kelompok dapat memberikan kesempatan kepada sesama pasien untuk saling berbagi pengalaman masa lalu untuk mencapai integritas diri.

2. Teori keperawatan apa yang cocok dengan kasus tersebut?
Teori Betty Newman:
Betty Neuman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka. Bagi Neuman manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis, fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dan disesuaikan oleh lingkungan yang digambarkan sebagai stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Dengan menggunakan perspektif sistem ini, maka kliennya bisa meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau kumpulan agregat lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan.
Model Sistem Neuman (1982) dapat digunakan untuk menjelaskan kerangka konsep duka cita. Variabel yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem klien, yaitu : fisiologis, psikilogis, rohani, perkembangan, dan sosial budaya, dapat digunakan untuk menguraikan atribut dari duka cita. Kehilangan di masa lalu dapat dijelaskan sebagai sebuah stressor, dan akibat dari duka cita diartikan sebagai suatu proses yang serupa dengan konsep Neuman yaitu rekonstitusi. Intervensi untuk membantu klien dalam menghadapi pengalaman duka cita dapat dikatagerikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Reed, 2003).
Penggunaan terminologi dari teori Neuman untuk menguraikan konsep duka cita dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam terminologi Neuman, kejadian di masa lalu merupakan stressor, dan dalam kasus duka cita, stressor adalah perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan mugkin bersifat intra-personal (misalnya : kehilangan salah satu anggota badan. Kehilangan peran atau fungsi), interpersonal (misalnya : berpisah dengan pasangannya, anak, atau orangtua), atau ekstra-personal (misalnya : hilangnya pekerjaan, rumah, atau hilangnya limgkungan yang dikenal).Neuman (1995) menyatakan bahwa dampak dari stressor dapat didasarkan pada dua hal, yaitu : kekuatan stressor dan banyaknya stressor.

3. Jika masa lalu seseorang buruk, apakah terapi reminiscence dapat dikatakan efektif atau tidak?
Menurut Nussbaum, Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher, 2003) therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok dan meningkatkan keintiman social. Boyd dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et all., 2005) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Reminiscence therapy merupakan terapi mengingat memori masa lalu baik itu kenangan yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, sehingga dalam pelaksanaannya harus diperhatikan betul tentang masa lalu klien apakah lebih banyak pengalaman buruk atau baik. Jika klien lebih banyak mengalami kejadian yang buruk, maka sebagai perawat harus lebih berhati-hati dalam pelaksanaannya. Pemilihan terapi lainnya dapat dilakukan, hal ini bertujuan untuk menghindari dampak yang ditimbulkan apabila kenangan buruk klien nantinya justru dapat memperburuk keadaan klien.
"


6. Irwina Angelia Silvanasari

pada : 06 November 2017

"1. Apa perbedaan reminiscence therapy dan life review therapy?
Reminiscence therapy pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiatrik ternama yaitu Robert Butler pada tahun 1960. Reminiscence therapy digunakan dengan tepat seperti menggunakan photo, musik atau benda-benda yang sangat familiar pada masa lalunya, untuk mendorong pasien untuk berbicara mengenai memori mereka sebelumnya. Menurut Bluck dan Levine (1998, dalam Collings, 2006) reminiscence adalah proses yang dikehendaki atau tidak dikehendaki untuk mengumpulkan kembali memori-memori seseorang pada masa lalu. Memori tersebut dapat merupakan suatu peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan atau peristiwa yang sudah terlupakan yang dialami langsung oleh individu, kemudian memori tersebut dapat sebagai kumpulan pengalaman pribadi atau “disharingkan” dengan orang lain. Life review menurut Butler (1963, dlam Wheeler, 2008) adalah suatu proses “melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini.
Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963). Terapi ini pada dasarnya menekankan individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang kembali memori masa lalu. Melalui refleksi ini individu untuk menyelesaikan konflik, mengatasi pengalaman masa lalu yang menyakitkan sehingga individu tersebut mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi saat ini. Perbedaan therapy reminiscence dan life review yaitu:
a. Sifat
1) Life review: dilakukan per individu (antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1); proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan,; daya ingat (recall) harus berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang; dan mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang.
2) Reminiscence therapy: interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori; melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan;,tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan; berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman masa lalu bukan kejadian-kejadian sekarang.
b. Batasan Waktu
1) Life review: Biasanya menggunakan 4-6 minggu
2) Reminiscence therapy: Tidak ada alokasi waktu yang spesifik
c. Tujuan
1) Life review: Integritas, Meningkatkan harga diri, Menurunkan depresi, Meningkatkan kepuasan hidup, dan Kedamaian
2) Reminiscence therapy: Menurunkan isolasi, Meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, Meningkatkan harga diri, dan Meningkatan kepuasan hidup.
d. Karakteristik Pasien
1) Life review: Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan, Berfokus pada diri sendiri, dan Biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup.
2) Reminiscence therapy: Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang, Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok, Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati.

Dari perbedaan tersebut dapat disimpulkan bahwa, life review hanya dapat dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Terapi ini belum memberikan kesempatan pada penderita untuk meningkatkan interaksi dengan orang lain, sehingga penyelesaian masalah isolasi sosial belum tentu dapat tercapai secara optimal. Dalam membedakan terapi ini dari reminiscence, Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) juga mengatakan bahwa life review merupakan suatu tipe dari therapy reminiscence. Frazer, Christensen dan Griffiths (2005) menyatakan bahwa life review serupa dengan reminiscence. Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan therapy life review lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu.

2. Teori keperawatan apa yang cocok/berkaitan dengan reminiscence therapy?
Teori yang cocok untuk digunakan adalah Model Health Care System dari Betty Newman. Model Health Care System dari Betty Neuman berkaitan dengan penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri yang bersifat fleksibel, normal, dan resisten. Asumsi yang dikemukakan Neuman tentang 4 konsep utama dari paradigma keperawatan adalah manusia, lingkungan, sehat, dan keperawatan.
Neuman menjelaskan bahwa manusia merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari keseimbangan dari harmoni dan merupakan satu kesatuan dari variabel-variabel yaitufisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Lingkungan didefinisikan yaitu meliputi semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh-pengaruh dari sekitar klien atau sitem klien. Sehat yaitu suatu kondisi terbebasnya dari ganguan pemenuhan kebutuhan. Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan menghindari / mengatasi stressor. Sehat menurut Model Neuman adalah suatu keseimbangan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal, dan resisten. Keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus pada empat intervensi yaitu intervensi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative. Intervensi keperawatan bertujuan untuk menurunkan stressor melalui pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pemberian reminiscence therapy dapat digunakan sebagai bentuk intervensi keperawatan sesuai dengan model Neuman. Penggunaannya diharapkan dapat menyeimbangkan harmoni klien berdasarkan stressor yang mengarah pada gangguan dalam garis pertahanan klien.



3. Apabila masa lalu seseorang buruk, apakah penggunaan reminiscence terapi efektif atau tidak untuk diberikan?
Therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok, meningkatkan keintiman sosial, meningkatkan harga diri, sosialisasi, meningkatkan fungsi kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi perilaku. Therapy reminiscence juga dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Kejadian yang traumatik di masa lalu klien tentunya akan menjadikan penggunaan terapi ini menjadi kurang efektif, sebaiknya memilih menggunakan terapi lain. Jika memang ingin menggunakan terapi ini, sebaiknya dilakukan dengan seseorang yang ahli dalam melakukan reminiscence dan tentunya dilakukan dengan berhati-hati.
"


Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Note

Blog ini digunakan sebagai media ekspresi dosen, informasi dan komunikasi, sarana pembelajaran untuk interaksi antara Dosen Pembimbing dan Mahasiswa. Blog ini juga dapat digunakan untuk khalayak umum pemerhati masalah kesehatan dan keperawatan, Terimakasih.

Greetings

Terimakasih, Selamat bergabung dengan Blog Kami, Yusuf, Departemen Keperawatan Jiwa & Komunitas, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga Surabaya.

Pengunjung

561375