23 August 2017

RPS KPJ 606

Mata ajar ini berisi tentang berbagai teori stress, penyebab, tanda dan gejala, manifestasi terhadap tubuh manusia, cara mengkaji dan alternatif solusi dalam mengelola stress. Setelah mengikuti mata ajar ini, diharapkan mahasiswa mampu memberikan kontribusi berupa publikasi ilmiah tentang stress pada berbagai kasus dan penatalaksanaannya.

Aoabila ada umpan balik atau ingin berdiskusi tentang mata kuliah ini... silahkan tulis di komentar dibawah.

RPS secara lengkap silahkan download disini.....


Komentar (31)

Galih Noor Alivian29 October 2017

NIM 131614153081
Manajemen Stres

Autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik merupakan salah satu contoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri (Stetter, 2002).
Menurut Aryanti (2007) dalam Pratiwi (2012), relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Widyastuti (2004) menambahkan bahwa relaksasi autogenik membantu individu untuk dapat mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah. Luthe (1969) dalam Kang et al (2009) mendefinisikan relaksasi autogenik sebagai teknik atau usaha yang disengaja diarahkan pada kehidupan individu baik psikologis maupun somatik menyebabkan perubahan dalam kesadaran melalui autosugesti sehingga tercapailah keadaan rileks.
Relaksasi autogenik akan membantu tubuh untuk membawa perintah melalui autosugesti untuk rileks sehingga dapat mengendalikan pernafasan, tekanan darah, denyut jantung serta suhu tubuh. Imajinasi visual dan mantra-mantra verbal yang membuat tubuh merasa hangat, berat dan santai merupakan standar latihan relaksasi autogenik (Varvogli, 2011). Sensasi tenang, ringan dan hangat yang menyebar ke seluruh tubuh merupakan efek yang bisa dirasakan dari relaksasi autogenik. Tubuh merasakan kehangatan, merupakan akibat dari arteri perifer yang mengalami vasodilatasi, sedangkan ketegangan otot tubuh yang menurun mengakibatkan munculnya sensasi ringan. Perubahan33 perubahan yang terjadi selama maupun setelah relaksasi mempengaruhi kerja saraf otonom. Respon emosi dan efek menenangkan yang ditimbulkan oleh relaksasi ini mengubah fisiologi dominan simpatis menjadi dominan sistem parasimpatis (Oberg, 2009).
Pada kasus pre operasi, terapi telaksasi autigenik ini dilakukan oleh terapis atau perawat yang sudah menguasai teknik relaksasi autogenik, pasien di atur posisi tubuh setelah itu Konsentrasi dan kewaspadaan, pernapasan dalam sambil dihitung 1 hingga 7 dilakukan guna meyakinkan. Ada lima langkah dalam relaksasi autogenik yaitu perasaan berat, perasaan hangat, ketenangan dan kehangatan pada jantung, perasaan dingin di dahi, dan ketenangan pernafasan.

Diana Pefbrianti30 October 2017

Nama : Diana Pefbrianti
NIM : 131614153014
Kelas : M9 (KMB)
Fasilitator : Dr. Ah. Yusuf., S.Kp., M.Kes
Tugas : Relaksasi Autogenik pada Pasien Pre Operasi yang Mengalami Stres

1. Apakah autogenik itu?
Relaksasi adalah suatu keadaan dimana seseorang merasakan bebas mental dan fisik dari ketegangan dan stres. Teknik relaksasi bertujuan agar individu dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa ketegangan dan stres yang membuat individu merasa dalam kondisi yang tertekan (Potter & Perry, 2005). Relaksasi psikologis memiliki manfaat bagi kesehatan yang memungkinkan tubuh menyalurkan energi untuk perbaikan dan pemulihan, serta memberikan kelonggaran bagi ketegangan akibat pola-pola kebiasaan (Goldbert, 2007).
Autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik adalah salah satu contoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri (Stetter, 2002). Menurut Aryanti (2007) dalam Pratiwi (2012), relaksasi autogenik merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran menjadi tenang. Widyastuti (2004) menambahkan bahwa relaksasi autogenik membantu individu untuk dapat mengendalikan beberapa fungsi tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah. Luthe (1969) dalam Kang et al(2009) mendefinisikan relaksasi autogenik sebagai teknik atau usaha yang disengaja diarahkan pada kehidupan individu baik psikologis maupun somatik menyebabkan perubahan dalam kesadaran melalui autosugesti sehingga tercapailah keadaan rileks.
2.Bagaimana relaksasi autogenik dapat menurunkan stres pada pasien pre operasi?
Hasil penelitian tim dokter dan ahli psikologis mengenai penyebab pasien pre operasi melakukan penundaan perawatan operasi dan medis, menyimpulkan sebanyak 42% dari 200 pasien yang diamati melakukan penundaan operasi karena faktor-faktor psikologis, psikodinamis dan emosional sebelum operasi. Adapun Yulanda (2003) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa sebanyak 91,43% pasien pre operasi mengalami kecemasan.
Menurut Jong (2008) mengungkapkan bahwa dalam keadaan cemas, tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan yang akan meningkatkan tekanan darah, sesak dan emosi tidak stabil. Akibat dari kecemasan pasien preoperasi yang sangat hebat maka ada kemungkinan operasi tidak bisa dilaksanakan karena pada pasien yang mengalami kecemasan sebelum operasi akan muncul kelainan seperti tekanan darah yang meningkat, sehingga apabila tetap dilakukan operasi akan dapat mengakibatkan penyulit terutama dalam menghentikan perdarahan, dan bahkan setelah operasipun akan mengganggu proses penyembuhan. Menurut National Safety Council (2004), untuk mengembalikan tubuh kekondisi yang tenang atau hemostasis harus dilakukan sesuatu agar dapat menurunkan rangsangan yang ditangkap oleh pancaindra melalui penggunan tehnik relaksasi, salah satu bentuk tehnik relaksasi yang dapat digunakan adalah tehnik relaksasi autogenik.
Beech dkk (dalam Subandi, 2002), menyebutkan relaksasi berusaha mengaktifkan kerja syaraf parasimpatetis. Keadaan rileks menurunkan aktivitas amygdala, mengendurkan otot, dan melatih individu mengaktifkan kerja sistem syaraf parasimpatetis sebagai counter aktivitas sistem syaraf simpatetis. Relaksasi selama ini telah terbukti dapat mengurangi kecemasan. Pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap penurunan tingkat kecemasan, stress & kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di PERSADIA Unit RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Subjek penelitian sebanyak 20 orang dengan membagi menjadi dua kelompok, yaitu kontrol dan eksperimen. Hasil menyatakan bahwa pelatihan teknik relaksasi progresif dapat menurunnkan tingkat stres dan kadar gula.
3.Bagaimana relaksasi pada pasien pre operasi, bagaimana mobilisasinya dan cara melakukannya?
Perawat dapat memberikan informasi pre operasi yang detail dan dapat juga melakukan terapi berupa teknik-teknik yang bertujuan untuk merileksasikan pasien sebelum menjalani operasi salah satunya ialah teknik relaksasi autogenik. Pada awalnya perawat mengajarkan untuk prosedur melakukan relaksasi autogenik kemudian selanjutnya pasien sendiri yang akan melakukannya.

DAFTAR PUSTAKA
Aryanti, NP. 2007. Terapi Modalitas Keperawatan. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Beck, A.T. 2001. Coqnitive Therapy and Emotional Disorders. New York : International Universities Press.

Kang, E., Park, J., Chung C., Yu, B. 2009. Effect of Biofeedback Assissted Autogenic Training on Headache Activity and Mood States in Korean Female Migraine Patients. Journal Korean Medicine Sciences. Vol. 24: 936-40.
National Safety Council, T.C Gilchrest. 2004. Manajemen Stres. Jakarta: EGC.

Potter, PA, Perry AG. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4 Vol. 2. Jakarta: EGC

Pratiwi. 2012. Penurunan Intensitas Nyeri Akibat Luka Post Sectio Caesarea Setelah Dilakukan Latihan Teknik Relaksasi Pernapasan Menggunakan Aroma Terapi Lavender di rumah Sakit Al Islam Bandung. Skripsi, FIK Unpad.

Stetter. 2002. Autogenic Training : A Meta Analysis of Clinical Outcome Studies. 27 (1) Germany: Plenum Publishing Corporation.

Subandi. 2002. Psikoterapi Pendekatan Konvensional dan Kontemporer. Yogyakarta: Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM

IFA NOFALIA NIM 30 October 2017

1. Apa bedanya life review therapi dan reminiscence therapi?
Therapy reminiscence adalah suatu terapi yang ditujukan untuk memulihkan depresi perasaan stress pada pasien. Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963). Terapi ini pada dasarnya menekankan individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang kembali memori masa lalu. Melalui refleksi ini individu untuk menyelesaikan konflik, mengatasi pengalaman masa lalu yang menyakitkan sehingga individu tersebut mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi saat ini. Life review menurut Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) adalah suatu proses “melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini. Wheeler (2008) secara terperinci memberikan perbedaan therapy reminiscence dan life review yang disajikan berikut :
a. Sifat
1) Live review: Dilakukan antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1, Proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan, Daya ingat (recall) harus berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang, dan Mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang.
2) Reminiscence therapy: Interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori, Melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan, Tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan, Berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman masa lalu bukan kejadian-kejadian sekarang.
b. Kejadian yang diingat kembali
1) Live review: Waktu bahagia dan sedih
2) Reminiscence therapy: Waktu bahagia dan sedih
c. Batasan Waktu
1) Live review: Biasanya menggunakan 4-6 minggu
2) Reminiscence therapy: Tidak ada alokasi waktu yang spesifik
d. Tujuan
1) Live review: Integritas, Meningkatkan harga diri, Menurunkan depresi, Meningkatkan kepuasan hidup, dan Kedamaian
2) Reminiscence therapy: Menurunkan isolasi, Meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, Meningkatkan harga diri, dan Meningkatan kepuasan hidup.
e. Karakteristik Pasien
1) Live review: Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan, Berfokus pada diri sendiri, dan Biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup.
2) Reminiscence therapy: Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang, Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok, Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati.
Dari perbedaan yang dikemukan Wheeler diatas, life review hanya dapat dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Secara khusus terapi ini belum memberikan kesempatan pada penderita untuk meningkatkan interaksi dengan orang lain, sehingga penyelesaian masalah isolasi sosial belum tentu dapat tercapai secara optimal. Untuk membedakan terapi ini dari reminiscence, Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) juga mengatakan bahwa life review merupakan suatu tipe dari therapy reminiscence. Frazer, Christensen dan Griffiths (2005) menyatakan bahwa life review serupa dengan reminiscence. Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan therapy life review lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu.
Therapy reminiscence merupakan salah satu intervensi keperawatan spesialis yang dapat dilaksanakan secara individu maupun kelompok. Terapi ini lebih utama ditujukan pada penderita yang mengalami depresi. Therapy reminiscence yang dilakukan secara kelompok akan lebih memberikan kesempatan kepada sesama pasien untuk saling berbagi pengalaman masa lalu untuk mencapai integritas diri.
2. Teori keperawatan apa yang cocok/berkaitan?
Teori Betty Newman:
Alasannya, Betty Neuman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka. Bagi Neuman manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis, fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dan disesuaikan oleh lingkungan yang digambarkan sebagai stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Dengan menggunakan perspektif sistem ini, maka kliennya bisa meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau kumpulan agregat lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan.
Tujuan ideal dari model ini adalah untuk mencapai stabilitas sistem secara optimal. Apabila stabilitas tercapai maka akan terjadi revitalisasi dan sebagai sistem terbuka maka klien selalu berupaya untuk memperoleh, meningkatkan, dan mempertahankan keseimbangan diantara berbagai faktor, baik didalam maupun diluar sistem yang berupaya untuk mengusahakannya. Neuman menyebut gangguan-gangguan tersebut sebagai stressor yang memiliki dampak negatif atau positif. Reaksi terhadap stressor bisa potensial atau aktual melalui respon dan gejala yang dapat diidentifikasi. Neuman menggunakan sejumlah orang untuk melakukan pendekatan. Yang termasuk dalam konsep mayor menurutnya adalah: Tekanan (intrapersonal, interpersonal dan ekstra personal), Struktur Pokok Sumber Energi, Tingkat Ketahanan, Garis Normal Pertahanan, Gangguan Pertahanan, Tingkat Reaksi
Intervensi, Tingkat-Tingkat Pencegahan (primer, sekunder dan tersier), dan Penyesuaian Kembali.
Model konseptual dari Neuman memberikan penekanan pada penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan terfokus pada empat intervensi yaitu : Intervensi yang bersifat promosi, Intervensi yang bersifat preventif, Intervensi yang bersifat kuratif, dan Intervensi yang bersifat rehabilitative.
Model Sistem Neuman (1982) dapat digunakan untuk menjelaskan kerangka konsep duka cita. Variabel yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem klien, yaitu : fisiologis, psikilogis, rohani, perkembangan, dan sosial budaya, dapat digunakan untuk menguraikan atribut dari duka cita. Kehilangan di masa lalu dapat dijelaskan sebagai sebuah stressor, dan akibat dari duka cita diartikan sebagai suatu proses yang serupa dengan konsep Neuman yaitu rekonstitusi. Intervensi untuk membantu klien dalam menghadapi pengalaman duka cita dapat dikatagerikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Reed, 2003).
Penggunaan terminologi dari teori Neuman untuk menguraikan konsep duka cita dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam terminologi Neuman, kejadian di masa lalu merupakan stressor, dan dalam kasus duka cita, stressor adalah perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan mugkin bersifat intra-personal (misalnya : kehilangan salah satu anggota badan. Kehilangan peran atau fungsi), interpersonal (misalnya : berpisah dengan pasangannya, anak, atau orangtua), atau ekstra-personal (misalnya : hilangnya pekerjaan, rumah, atau hilangnya limgkungan yang dikenal).Neuman (1995) menyatakan bahwa dampak dari stressor dapat didasarkan pada dua hal, yaitu : kekuatan stressor dan banyaknya stressor.
Modifikasi terhadap respon duka cita diidentifikasi sebagai kombinasi dari beberapa pengalaman yang bersifat individual dan dipengaruhi oleh banyak faktor yang terdiri dari hubungan antara orang yang berduka dengan objek yang hilang, sifat alami dari kehilangan, dan kehadiran sistem pendukung (support system). Faktor-faktor lain memiliki efek yang kuat pada perasaan duka cita, seeperti pengalaman individu yang sama sebelumnya, kepercayaan spiritual dan budaya yang dianut. Penjelasan mengenai modofikasi respon duka cita sama halnya dengan gagasan Neuman mengenai interaksi antar variabel (fisik, psikologis, sosial budaya, perkembangan , dan rohani). Kombinasi beberapa variabel yang unik pada diri seseorang (pengalaman sebelumnya dengan duka cita, nilai-nilai, kepercayaan spiritual, status fisiologis, batasan sosial budaya, dan yang lainnya) dapat dibandingkan dengan variabel-variabel yang menyusun garis pertahanan normal (normal lines of defense) dan garis perlawanan. Masing-masing garis pertahanan dan garis perlawanan memodifikasi pada tingkatan tertentu dimana stressor mempumyai efek yang negatif pada diri seseorang. Garis pertahanan normal membantu sistem klien untuk menyesuaikan dengan stres akibat kehilangan ; garis perlawanan bertindak sebagai kekuatan untuk membantu klien kembali ke kondisi yang stabil. Faktor yang lain, seperti pengalaman individu sebelumnya dengan perasaan kehilangan dan duka cita, budaya, dan kepercayaan religius menjadi bagian dari struktur dasar individu. Garis pertahanan dan perlawanan melindungi struktur dasar dari gangguan stres yang menimpa individu (Reed, 1993).
Analisis konsep keperawatan menurut Neuman bahwa keperawatan memperhatikan semua hal dan stressor-stressor pontensial kaitannya dengan penggunaan pengaruh dan potensial dampak stressor lingkungan. Tujuan keperawatan adalah menjaga stabilitas system klien, membantu klien untuk mengurus diri yang mana hal – hal sebagai persyaratan untuk mencapai tahap kesehatan yang optimum. Memfasilitasi kesehatan yang optimum untuk pasien melalui memperkuat atau memelihara stabilitas system klien. Sehat adalah keadaan baik. Saat semua bagian pada klien berada dalam keadaan harmonis atau seimbang ketika semua dibutuhkan untuk bertemu, kesehatan optimal tercapai. kesehatan adalah juga energi. Manusia terdiri dari Fisiologi, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Diwakili untuk struktur sentral, garis pertahanan dan garis perlawanan. Klien adalah manusia yang diancam atau diserang oleh stressor lingkungan. Lingkungan adalah semua faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi klien dan system klien. Tiga type lingkungan yang telah diidentifikasi ; internal, eksternal dan , lingkungan yang diciptakan. Stressor adalah bagian dari lingkungan, lingkungan internal berisi dalam batas system klien. Lingkungan eksternal berisi kekuatan-kekuatan diluar system klien. Lingkungan yang diciptakan merupakan mobilisasi yang tidak disadari klien terdiri dari struktur komponen-komponen sebagai faktor energi, stabilitas dan integritas. Masalah keperawatan merupakan kesehatan system klien yang terancam atau manifestasi aktual respon terhadap stressor.
3. Kalau masa lalu seseorang buruk, efektif atau tidak terapi ini?
Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan membantu individu mencapai kesadaran diri dan memahami diri, beradaptasi terhadap stress dan melihat bagian dirinya dalam konteks sejarah dan budaya. Sedangkan menurut Nussbaum, Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher, 2003) therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok dan meningkatkan keintiman sosial. Frisch dan Frisch (2006) juga menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan sosialisasi. Tujuan lain dilakukannya therapy reminiscence adalah untuk meningkatkan fungsi kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi perilaku (RIPFA, 2006). Boyd dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et all., 2005) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Terapi kelompok reminiscence mempunyai potensi untuk menurunkan isolasi sosial, memperbaiki fungsi kognitif dan depresi dan meningkatkan harga diri, perasaan berharga, keterampilan sosial dan kepuasan hidup (Chao, et al., 2006; Lin, et al., 2003), dalam Parese, Simon & Ryan, 2008). Tetapi, jika seseorang mempunyai banyak kejadian traumatik maka melakukan reminiscence therapy harus berhati-hati karena mungkin lebih sulit, dan kefektifannya masih diperdebatkan.

Nurul Hikmatul Qowi01 November 2017

Stress pada mahasiswa keperawatan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: sosial ekonomi yang rendah, tekanan agar menjadi sukses dari keluarga karena satu-satunya anggota keluarga yang bisa menempuh pendidikan di universitas, koping mahasiswa yang rendah, dan praktek klinik (Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon, 2015). Berdasarkan hasil review artikel, dapat diketahui bahwa mindfulness dapa digunakan pada mahasiswa yang mengalami stres karena kegiatan akademik (Song & Lindquist, 2015), praktik klinik (Song & Lindquist, 2015; Kang, Choi, dan Ryu, 2009).
Menurut Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon (2015) mindfulnesss yang dapat menurunkan stres dilakukan selama 7 minggu. Mindfulnesss-based stress reduction (MBSR) efektif dilakukan selama dua jam perminggu selama 8 minggu (Song & Lindquist (2015) atau 90 menit setiap sesi selama 8 minggu (Kang, Choi, dan Ryu, 2009).

Mindfulness merupakan kemampuan seorang manusia untuk sepenuhnya menyadari keberadaannya, dimana seseorang berada, apa yang dilakukannya, dan tidak bereaksi berlebihan terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Pada dasarnya terdapat dua macam mindfulness, yaitu formal dan nonformal. Menurut saya pribadi, jenis mindfulness mana yang lebih efektif dalam mengurangi stres pada mahasiswa adalah tergantung pada karakter mahasiswa itu sendiri. pada mahasiswa dengan pola hidup yang sudah tertata rapi, maka alangkah baiknya memakai mindfulness yang formal, yaitu melakukan mindfulness secara terprogram, baik dilakukan mandiri maupun mengikuti meditasi, yoga secara berkelompok. Bagi mahasiswa dengan banyak aktivitas atau dengan hobi-hobi tertentu, maka dapat memilih mindfulness informal, yang mana mindfulness dapat dilakukan melalui aktivitas sehari-hari atau hobi tersebut.Apapun jenis mindfulness yang digunakan, yang paling penting adalah kemampuan seseorang tersebut dalam mengelola pikirannya selama proses mindfulness berlangsung. Dengan pengelolaan pikiran yang baik, maka hasil yang diharapkan untuk mengurangi stres juga akan lebih baik.
Apabia seseorang masih terpapar stressor, maka stres pasti akan tetap terjadi, dengan adanya manajemen stres yang dilakukan, paling tidak, dapat mengurangi stres yang dirasakan.

Amita Audilla01 November 2017

1. Apa bedanya life review therapi dan reminiscence therapi?
Wheeler (2008) secara terperinci memberikan perbedaan therapy reminiscence dan life review yang disajikan berikut :
1) Sifat
a. Life Review Therapy :
- Dilakukan antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1.
- Proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan, daya ingat (recall)
- Berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang
- Mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang
b. Reminiscence therapy :
- Interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori,
- Melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan,
- Tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan
- Berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman masa lalu bukan masa sekarang.

2) Kejadian yang diingat
a. Life Review Therapy : Waktu bahagia dan sedih
b. Reminiscence therapy : Waktu bahagia dan sedih
3) Batasan waktu
a. Life Review Therapy :
- Biasanya menggunakan 4-6 minggu
b. Reminiscence therapy :
- Tidak ada alokasi waktu yang spesifik

4) Tujuan
a. Life Review Therapy :
Integritas, meningkatkan harga diri, menurunkan depresi, meningkatkan kepuasan hidup, dan kedamaian
b. Reminiscence therapy :
Menurunkan isolasi, meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, meningkatkan harga diri, dan meningkatan kepuasan hidup

5) Karakteristik Pasien
a. Life Review Therapy :
- Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan
- Berfokus pada diri sendiri, dan biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup
b. Reminiscence therapy :
- Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang.
- Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok.
- Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati

Dari perbedaan yang dikemukan Wheeler diatas, Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan life review therapy lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu. Life review therapy hanya dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Sedangkan terapi reminiscence dapat dilakukan secara berkelompok maupun secara individu. Therapy reminiscence yang dilakukan secara kelompok dapat memberikan kesempatan kepada sesama pasien untuk saling berbagi pengalaman masa lalu untuk mencapai integritas diri.

2. Teori keperawatan apa yang cocok dengan kasus tersebut?
Teori Betty Newman:
Betty Neuman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka. Bagi Neuman manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis, fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dan disesuaikan oleh lingkungan yang digambarkan sebagai stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Dengan menggunakan perspektif sistem ini, maka kliennya bisa meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau kumpulan agregat lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan.
Model Sistem Neuman (1982) dapat digunakan untuk menjelaskan kerangka konsep duka cita. Variabel yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem klien, yaitu : fisiologis, psikilogis, rohani, perkembangan, dan sosial budaya, dapat digunakan untuk menguraikan atribut dari duka cita. Kehilangan di masa lalu dapat dijelaskan sebagai sebuah stressor, dan akibat dari duka cita diartikan sebagai suatu proses yang serupa dengan konsep Neuman yaitu rekonstitusi. Intervensi untuk membantu klien dalam menghadapi pengalaman duka cita dapat dikatagerikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Reed, 2003).
Penggunaan terminologi dari teori Neuman untuk menguraikan konsep duka cita dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam terminologi Neuman, kejadian di masa lalu merupakan stressor, dan dalam kasus duka cita, stressor adalah perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan mugkin bersifat intra-personal (misalnya : kehilangan salah satu anggota badan. Kehilangan peran atau fungsi), interpersonal (misalnya : berpisah dengan pasangannya, anak, atau orangtua), atau ekstra-personal (misalnya : hilangnya pekerjaan, rumah, atau hilangnya limgkungan yang dikenal).Neuman (1995) menyatakan bahwa dampak dari stressor dapat didasarkan pada dua hal, yaitu : kekuatan stressor dan banyaknya stressor.

3. Jika masa lalu seseorang buruk, apakah terapi reminiscence dapat dikatakan efektif atau tidak?
Menurut Nussbaum, Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher, 2003) therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok dan meningkatkan keintiman social. Boyd dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et all., 2005) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Reminiscence therapy merupakan terapi mengingat memori masa lalu baik itu kenangan yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, sehingga dalam pelaksanaannya harus diperhatikan betul tentang masa lalu klien apakah lebih banyak pengalaman buruk atau baik. Jika klien lebih banyak mengalami kejadian yang buruk, maka sebagai perawat harus lebih berhati-hati dalam pelaksanaannya. Pemilihan terapi lainnya dapat dilakukan, hal ini bertujuan untuk menghindari dampak yang ditimbulkan apabila kenangan buruk klien nantinya justru dapat memperburuk keadaan klien.

Irwina Angelia Silvanasari06 November 2017

1. Apa perbedaan reminiscence therapy dan life review therapy?
Reminiscence therapy pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiatrik ternama yaitu Robert Butler pada tahun 1960. Reminiscence therapy digunakan dengan tepat seperti menggunakan photo, musik atau benda-benda yang sangat familiar pada masa lalunya, untuk mendorong pasien untuk berbicara mengenai memori mereka sebelumnya. Menurut Bluck dan Levine (1998, dalam Collings, 2006) reminiscence adalah proses yang dikehendaki atau tidak dikehendaki untuk mengumpulkan kembali memori-memori seseorang pada masa lalu. Memori tersebut dapat merupakan suatu peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan atau peristiwa yang sudah terlupakan yang dialami langsung oleh individu, kemudian memori tersebut dapat sebagai kumpulan pengalaman pribadi atau “disharingkan” dengan orang lain. Life review menurut Butler (1963, dlam Wheeler, 2008) adalah suatu proses “melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini.
Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963). Terapi ini pada dasarnya menekankan individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang kembali memori masa lalu. Melalui refleksi ini individu untuk menyelesaikan konflik, mengatasi pengalaman masa lalu yang menyakitkan sehingga individu tersebut mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi saat ini. Perbedaan therapy reminiscence dan life review yaitu:
a. Sifat
1) Life review: dilakukan per individu (antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1); proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan,; daya ingat (recall) harus berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang; dan mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang.
2) Reminiscence therapy: interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori; melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan;,tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan; berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman masa lalu bukan kejadian-kejadian sekarang.
b. Batasan Waktu
1) Life review: Biasanya menggunakan 4-6 minggu
2) Reminiscence therapy: Tidak ada alokasi waktu yang spesifik
c. Tujuan
1) Life review: Integritas, Meningkatkan harga diri, Menurunkan depresi, Meningkatkan kepuasan hidup, dan Kedamaian
2) Reminiscence therapy: Menurunkan isolasi, Meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, Meningkatkan harga diri, dan Meningkatan kepuasan hidup.
d. Karakteristik Pasien
1) Life review: Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan, Berfokus pada diri sendiri, dan Biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup.
2) Reminiscence therapy: Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang, Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok, Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati.

Dari perbedaan tersebut dapat disimpulkan bahwa, life review hanya dapat dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Terapi ini belum memberikan kesempatan pada penderita untuk meningkatkan interaksi dengan orang lain, sehingga penyelesaian masalah isolasi sosial belum tentu dapat tercapai secara optimal. Dalam membedakan terapi ini dari reminiscence, Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) juga mengatakan bahwa life review merupakan suatu tipe dari therapy reminiscence. Frazer, Christensen dan Griffiths (2005) menyatakan bahwa life review serupa dengan reminiscence. Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan therapy life review lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu.

2. Teori keperawatan apa yang cocok/berkaitan dengan reminiscence therapy?
Teori yang cocok untuk digunakan adalah Model Health Care System dari Betty Newman. Model Health Care System dari Betty Neuman berkaitan dengan penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri yang bersifat fleksibel, normal, dan resisten. Asumsi yang dikemukakan Neuman tentang 4 konsep utama dari paradigma keperawatan adalah manusia, lingkungan, sehat, dan keperawatan.
Neuman menjelaskan bahwa manusia merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari keseimbangan dari harmoni dan merupakan satu kesatuan dari variabel-variabel yaitufisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Lingkungan didefinisikan yaitu meliputi semua faktor internal dan eksternal atau pengaruh-pengaruh dari sekitar klien atau sitem klien. Sehat yaitu suatu kondisi terbebasnya dari ganguan pemenuhan kebutuhan. Sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan menghindari / mengatasi stressor. Sehat menurut Model Neuman adalah suatu keseimbangan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal, dan resisten. Keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus pada empat intervensi yaitu intervensi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative. Intervensi keperawatan bertujuan untuk menurunkan stressor melalui pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pemberian reminiscence therapy dapat digunakan sebagai bentuk intervensi keperawatan sesuai dengan model Neuman. Penggunaannya diharapkan dapat menyeimbangkan harmoni klien berdasarkan stressor yang mengarah pada gangguan dalam garis pertahanan klien.



3. Apabila masa lalu seseorang buruk, apakah penggunaan reminiscence terapi efektif atau tidak untuk diberikan?
Therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok, meningkatkan keintiman sosial, meningkatkan harga diri, sosialisasi, meningkatkan fungsi kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi perilaku. Therapy reminiscence juga dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Kejadian yang traumatik di masa lalu klien tentunya akan menjadikan penggunaan terapi ini menjadi kurang efektif, sebaiknya memilih menggunakan terapi lain. Jika memang ingin menggunakan terapi ini, sebaiknya dilakukan dengan seseorang yang ahli dalam melakukan reminiscence dan tentunya dilakukan dengan berhati-hati.

Luluk Fauziyah J18 November 2017

1. Apa bedanya life review therapi dan reminiscence therapi?
.Life review menurut Butler (1963, dalam Wheeler, 2008) adalah suatu proses “melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini. Therapy reminiscence adalah suatu terapi yang ditujukan untuk memulihkan depresi perasaan stress pada pasien. Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963). Terapi ini pada dasarnya menekankan individu untuk merefleksikan kehidupan mereka kembali atau mengulang kembali memori masa lalu. Melalui refleksi ini individu untuk menyelesaikan konflik, mengatasi pengalaman masa lalu
Menurut Wheeler (2008) perbedaan therapy reminiscence dan life review yang disajikan berikut :
a. Sifat
1) Live review: Dilakukan antara terapi dan penderita yaitu 1 : 1, Proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup secara berurutan, Daya ingat (recall) harus berisi suatu evaluasi atau analisa komponen untuk persiapan waktu yang akan datang, dan Mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman masa lalu atau sekarang.
2) Reminiscence therapy: Interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori, Melibatkan ingatan secara cepat (kilat) dan interaksi yang spontan atau diskusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan, Tidak ada evaluasi kehidupan, berfokus pada memori yang menyenangkan, Berfokus pada kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman masa lalu bukan kejadian-kejadian sekarang.
b. Kejadian yang diingat kembali
1) Live review: Waktu bahagia dan sedih
2) Reminiscence therapy: Waktu bahagia dan sedih
c. Batasan Waktu
1) Live review: Biasanya menggunakan 4-6 minggu
2) Reminiscence therapy: Tidak ada alokasi waktu yang spesifik
d. Tujuan
1) Live review: Integritas, Meningkatkan harga diri, Menurunkan depresi, Meningkatkan kepuasan hidup, dan Kedamaian
2) Reminiscence therapy: Menurunkan isolasi, Meningkatkan sosialisasi, hubungan dan persahabatan, Meningkatkan harga diri, dan Meningkatan kepuasan hidup.
e. Karakteristik Pasien
1) Live review: Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan, Berfokus pada diri sendiri, dan Biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup.
2) Reminiscence therapy: Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang, Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok, Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati.

2. Teori keperawatan apa yang cocok/berkaitan?
Teori Betty Newman:
Alasannya, Betty Neuman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka. Bagi Neuman manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis, fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dan disesuaikan oleh lingkungan yang digambarkan sebagai stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal.
Tujuan ideal dari model ini adalah untuk mencapai stabilitas sistem secara optimal. Apabila stabilitas tercapai maka akan terjadi revitalisasi dan sebagai sistem terbuka maka klien selalu berupaya untuk memperoleh, meningkatkan, dan mempertahankan keseimbangan diantara berbagai faktor, baik didalam maupun diluar sistem yang berupaya untuk mengusahakannya. Neuman menyebut gangguan-gangguan tersebut sebagai stressor yang memiliki dampak negatif atau positif. Reaksi terhadap stressor bisa potensial atau aktual melalui respon dan gejala yang dapat diidentifikasi. Neuman menggunakan sejumlah orang untuk melakukan pendekatan. Yang termasuk dalam konsep mayor menurutnya adalah: Tekanan (intrapersonal, interpersonal dan ekstra personal), Struktur Pokok Sumber Energi, Tingkat Ketahanan, Garis Normal Pertahanan, Gangguan Pertahanan, Tingkat Reaksi
Intervensi, Tingkat-Tingkat Pencegahan (primer, sekunder dan tersier), dan Penyesuaian Kembali.
Model konseptual dari Neuman memberikan penekanan pada penurunan stress dengan cara memperkuat garis pertahanan diri keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan terfokus pada empat intervensi yaitu : Intervensi yang bersifat promosi, Intervensi yang bersifat preventif, Intervensi yang bersifat kuratif, dan Intervensi yang bersifat rehabilitative.
Model Sistem Neuman (1982) dapat digunakan untuk menjelaskan kerangka konsep duka cita. Variabel yang tidak bisa dipisahkan dalam sistem klien, yaitu : fisiologis, psikilogis, rohani, perkembangan, dan sosial budaya, dapat digunakan untuk menguraikan atribut dari duka cita. Kehilangan di masa lalu dapat dijelaskan sebagai sebuah stressor, dan akibat dari duka cita diartikan sebagai suatu proses yang serupa dengan konsep Neuman yaitu rekonstitusi. Intervensi untuk membantu klien dalam menghadapi pengalaman duka cita dapat dikatagerikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Reed, 2003).
3. Kalau masa lalu seseorang buruk, efektif atau tidak terapi ini?
Menurut Fontaine dan Fletcher (2003) therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan membantu individu mencapai kesadaran diri dan memahami diri, beradaptasi terhadap stress dan melihat bagian dirinya dalam konteks sejarah dan budaya. Sedangkan menurut Nussbaum, Pecchioni, Robinson dan Thompson (2000, dalam Fontaine & Fletcher, 2003) therapy reminiscence bertujuan untuk menciptakan kebersamaan kelompok dan meningkatkan keintiman sosial. Frisch dan Frisch (2006) juga menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri dan sosialisasi. Tujuan lain dilakukannya therapy reminiscence adalah untuk meningkatkan fungsi kognitif, kemampuan berkomunikasi dan fungsi perilaku (RIPFA, 2006). Boyd dan Nihart (1998) dan Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et all., 2005) menyatakan bahwa therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Terapi kelompok reminiscence mempunyai potensi untuk menurunkan isolasi sosial, memperbaiki fungsi kognitif dan depresi dan meningkatkan harga diri, perasaan berharga, keterampilan sosial dan kepuasan hidup (Chao, et al., 2006; Lin, et al., 2003), dalam Parese, Simon & Ryan, 2008). Tetapi, jika seseorang mempunyai banyak kejadian traumatik maka melakukan reminiscence therapy harus berhati-hati karena mungkin lebih sulit, dan kefektifannya masih diperdebatkan.

Gusti Pandi Liputo05 December 2017

Bagaimana caring bisa menrunkan kecemasan?

Watson (1979)mendifinisikan caring sebagai proses yang dilkukan oleh perawat yang meliputi pengetahuan, tindakan, dan dideskripsikan sebagai 10 faktor karatif yang digunakan dalam praktek keperawatan. 10 faktor karatif tersebut adalah membentuk dan menghargai sistem nilai humanistik dan altruistik, menanamkan sikap penuh penghargaan, menanamkan sensitifitas atau kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain, mengmbangkan hubungan saling percaya dan saling membantu, meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif, menggunakan metode sistematis dalam menyelesaikan masalah caring untuk pengambilan keputusan secara kreatif dan individualistik, meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal, menciptakan lingkungan fisik, mental, sosial dan spiritual yang suportif, protektf, dan korektif, memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan penuh penghargaan dalam rangka mempertahankan keutuhan dan martabat manusia, mengijinkan untuk terbuka pada eksistensial-fenomenologikal dan dimensi spiritual caring serta penyembuhan yang tidak dapat dijelaskan secara utuh dan ilmiah melalui pemikiran masyarakat modern.

Perawat yang berperilaku caring terhadap pasien berarti perawat tersebut sudah mampu memberikan pelayanan yang baik kepada pasien. Sikap caring berarti perawat bersikap empati, memberi dukungan, simpati, serta perlindungan kepada pasien (Mulyaningsi, 2011). Perawat yang memberikan asuhan keperawatan kepada pasien hendaknya berperilaku caring. Karena caring merupakan suatu sikap yang peduli dengan kondisi pasien sehingga mendorong perawat untuk membantu pasien dalam memenuhi kebutuhanya (Mulyaningsih, 2011).

Perawat sebagai tenaga medis yang memiliki peran utama dalam perawatan anak harus mengembangkan atau memiliki perilaku caring, perawat yang berperilaku caring berarti perawat tersebut mampu mengurangi stres ataupun trauma pasien ketika menjalani hospitalisasi

semakin baik perilaku caring perawat akan berdampak baik pada penurunan kecemasan.

perawat harus mengembangkan atau memiliki perilaku yang caring saat menjalankan tugasnya (memberikan asuhan keperawatan)

Nur hidayati06 December 2017

Assalamualaikum Pak Yusuf, saya mau tanya, bila kita melakukan intervensi mindfulness meditation, bagaimana kita bisa mengevaluasi bahwa mindfulness meditation tersebut efektif untuk seseorang,,apakah menunggu sampai semua sesi kegiatan selesai ataukah setiap sesi? dan apakah untuk menilai tersebut harus menggunakan alat bantu tertentu misalnya instrumen HARS atau cukup dengan interview kepada responden yang dilakukan intervensi? terima kasih sebelumnya pak.
Assalamualaikum

Yusuf06 December 2017

@ Sdr Nur Hayati
Iya, harus ditunggu sampai semua sesi selesai.
jangan lupa secara teoritis, variabel dependent yg Anda amati itu akan berubah dalam jangka waktu berapa lama (maka masa observasi anda harus mnimal sesuai itu).
meskipun demikian Anda bisa mengevaluasi respon pasien setiap kegiatan ini dilaksanakan... jadi ada semacam time series (bisa diuji secara keseluruhan) atau cukup pre post... shg yg perkembangan harian dicatat pada lampiran untuk pembahasan

Bagus Sholeh Apriyanto06 December 2017

A. Apakah perbedaan reminiscence therapy dengan life review therapy?
Life review menurut Butler 1963, dlam Wheeler, 2008 adalah suatu proses
“melihat masa lalu” individu dan diobservasi nilai terapeutiknya yang direfleksikan dengan segera pada saat itu juga dan dijadikan sebagai cara penyelesaian masalah saat ini. Therapy reminiscence adalah suatu terapi yang ditujukan untuk memulihkan depresi perasaan stress pada pasien. Therapy reminiscence merupakan hasil langsung dari hipotesis teori life review (Butler, 1963)
Perbedaan therapy reminiscence dan life review, menurut Wheeler 2008
1. Sifat
a. Reminiscence terapi:
• Interaksi verbal antara 2 orang atau lebih yang menimbulkan memori
• Melibatkan ingatan secara cepat dan interaksi yang spontan atau diksusi kelompok dengan tema yang telah difokuskan
• Tidak ada evaluasi kehidupan berfokus pada memori yang menyenangkan
• Berfokus pada kejadian- kejadian atau pengalaman-
pengalaman masa lalu bukan kejadian-kejadian sekarang
b. Life review terapi:
• Dilakukan antara terapi dan penderita yaitu dengan perbandingan satu banding satu
• Proses mengingat kembali seluruh kejadian semasa hidup
secara berurutan
• Daya ingat recall harus berisi suatu evaluasi atau analisa
komponen untuk persiapan waktu yang akan datang
• Mengingat kembali kejadian-kejadian dan pengalaman- pengalaman masa lalu atau sekarang
2. Kejadian yang diingat kembali
a. Reminiscence terapi:
• Waktu bahagia dan sedih
b. Life review terapi:
• Waktu bahagia dan sedih
3. Batasan waktu
a. Reminiscence terapi:
• Tidak ada alokasi waktu yang spesifik
b. Life review terapi:
• Biasanya menggunakan 4-6 minggu
4. Tujuan
a. Reminiscence terapi:
• Menurunkan isolasi
• Meningkatakan sosialisasi, hubungan dan persahabatan
• Meningkatkan harga diri
• Meningkatkan kepuasan hidup
b. Life review terapi:
• Integritas
• Meningkatkan harga diri
• Menurunkan depresi
• Meningkatkan kepuasan hidup
• Kedamaian
5. Karakteristik pasien
a. Reminiscence terapi:
• Lansia dengan kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan dan sedang
• Dapat berfokus pada diri sendiri dan pada orang lain dalam kelompok
• Mungkin lebih sulit dalam kelompok reminiscence jika pasien mempunyai banyak kejadian traumatik harus berhati-hati
b. Life review terapi:
• Kognitif yang baik dan kerusakan kognitif tingkat ringan
• Berfokus pada diri sendiri, dan biasanya pengalaman yang mencetuskan kejadian dalam hidup
Dari perbedaan yang dikemukan Wheeler diatas, life review hanya dapat dilakukan secara individu, penderita harus mempunyai kemampuan untuk menilai atau menganalisa kejadian hidupnya dan tujuan yang dicapai adalah meningkatkan harga diri dan menurunkan depresi dan stress. Frazer, Christensen dan Griffiths 2005 menyatakan bahwa life review serupa dengan reminiscence. Reminiscence lebih mengarah pada kegiatan mengingat kembali kejadian spontan pada masa lalu yang menyenangkan sedangkan therapy life review lebih terstruktur dan melibatkan evaluasi tentang kehidupan individu.
B. Teori keperawatan apa yang cocok dengan kasus tersebut?
Menrut kami teori yang sesui adalah teori Betty Neuman, pada teori Betty Neuman mendefinisikan manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistik dan pendekatan sistem terbuka. Bagi Neuman manusia merupakan makhluk dengan kombinasi kompleks yang dinamis, fisiologis, sosiokultural dan variabel perkembangan yang berfungsi sebagai sistem terbuka. Sebagai sistem terbuka manusia berinteraksi, beradaptasi dan disesuaikan oleh lingkungan yang digambarkan sebagai stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Dengan menggunakan perspektif sistem ini, maka kliennya bisa meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau kumpulan agregat lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan.
Penggunaan terminologi dari teori Neuman untuk menguraikan konsep duka cita dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang muncul sebelumnya. Dalam terminologi Neuman, kejadian di masa lalu merupakan stressor, dan dalam kasus duka cita, stressor adalah perasaan kehilangan. Perasaan kehilangan mugkin bersifat intra-personal (misalnya : kehilangan salah satu anggota badan. Kehilangan peran atau fungsi), interpersonal (misalnya : berpisah dengan pasangannya, anak, atau orangtua), atau ekstra-personal (misalnya : hilangnya pekerjaan, rumah, atau hilangnya limgkungan yang dikenal).Neuman (1995) menyatakan bahwa dampak dari stressor dapat didasarkan pada dua hal, yaitu : kekuatan stressor dan banyaknya stressor.

C. Jika masa lalu seseorang buruk, apakah terapi reminiscence dapat dikatakan efektif atau tidak?
Therapy reminiscence bertujuan tidak hanya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan sosialisasi dan hubungan dengan orang lain, memberikan stimulasi kognitif, meningkatkan komunikasi dan dapat menjadi suatu terapi yang efektif untuk gejala depresi. Reminiscence therapy merupakan terapi mengingat memori masa lalu baik itu kenangan yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, sehingga dalam pelaksanaannya harus diperhatikan betul tentang masa lalu klien apakah lebih banyak pengalaman buruk atau baik. Jika klien lebih banyak mengalami kejadian yang buruk, maka sebagai perawat harus lebih berhati-hati dalam pelaksanaannya. Pemilihan terapi lainnya dapat dilakukan, hal ini bertujuan untuk menghindari dampak yang ditimbulkan apabila kenangan buruk klien nantinya justru dapat memperburuk keadaan klien.

Wildan Akasyah06 December 2017

Nama : Wildan Akasyah
Nim : 131614153034
Minat : M9 Jiwa
Matkul : Manajemen stres.

Pertanyaan : Apakah SEFT bisa digunakan pada kasus lain? Kasus apa? dan berapa persen tingkat keberhasilannya?
Jawab :
Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) termasuk teknik relaksasi yang penggabungan teknik sistem tubuh dan terapi spiritual menggunakan menekan pada titik-titik tertentu pada tubuh.
Kasus :
1. SEFT terhadap penurunan intensitas nyeri pasien paska-operasi Sectio Caesaria.
Hasil penelitian diperoleh bahwa mean rank nyeri sebelum intervensi pada kelompok kontrol 20,78 dan pada kelompok perlakuan 16,22. Pada uji Mann-Whitney nilai p value kedua kelompok sebelum intervensi yaitu 0,178 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan bermakna intensitas nyeri sebelum intervensi. Mean rank nyeri setelah intervensi pada kelompok kontrol 27,06 dan pada kelompok perlakuan 9,94 sehingga tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah intervensi (p=0,000).
Wijiyanti, Fajar (2010) Efektivitas Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Paska-operasi Sectio Caesaria. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.

2. Mukhamad Rajin (2012) SEFT Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Pasca Operasi di Rumah sakit.
Terapi SEFT dilakukan selama 5 menit satu kali sehari, kualitas tidur pasien dievalusi menggunakan skala analog visual closs. Analisis Statistik menggunakan uji Anova dengan signifikansi P ≤ 0.05. Hasil uji statistik one way Anova pada hari pertama didapatkan nilai P= 0.009 dan pada hari ketiga nilai P= 0.000. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi SEFT dapat meningkatkan kualitas tidur pasien dengan signifikan
3. Lucia Purwaningsih, Elsye Rosa (2016). Respon Adaptasi Fisiologis Dan Psikologis Pasien Luka Bakar Yang Diberikan Kombinasi Alternative Moisture Balance Dressing Dan Seft Terapi Di Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 responden (Maret - Juni 2014). Sebagian besar dari 75% pria berusia antara 17-51 tahun, memiliki luka yang luas antara TBSA 6-55%, 37,5% tahap II, stadium III 62,5%. Respons adaptasi psikologis dengan indikator penyembuhan luka rata-rata 42,37 (36-49) menunjukkan bahwa respon adaptasi fisiologis bersifat adaptif, lama sembuh dengan derajat kedua rata-rata 17,6 hari (7-36 hari), rata-rata kelas III 28, 8 hari (20-40 hari). Respons adaptasi psikologis dengan skor penerimaan rata-rata 44,5 (40-50) dan didukung oleh hasil wawancara semua menunjukkan respons adaptif terhadap adaptasi psikologis.

4. Hendri Fajri Rofacky, Faridah Aini (2015). Pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi
15 responden sebagai kelompok intervensi dan 15 responden sebagai kelompok kontrol. Instrumen data yang digunakan sphygmomanometer merkuri, stetoskop dan lembar observasi. Hasil analisis dengan menggunakan t-test independen menemukan bahwa nilai p 0,000 (sistole) dan nilai p dari 0,019 (diastole), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna sebelum dan setelah terapi SEFT. Terapi spiritual teknik kebebasan emosional (SEFT) dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif yang tepat dan praktis pada pasien hipertensi.


Wildan Akasyah06 December 2017

Nama : Wildan Akasyah
Nim : 131614153034
Minat : M9 Jiwa
Matkul : Manajemen stres.

Pertanyaan : Apakah SEFT bisa digunakan pada kasus lain? Kasus apa? dan berapa persen tingkat keberhasilannya?
Jawab :
Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) termasuk teknik relaksasi yang penggabungan teknik sistem tubuh dan terapi spiritual menggunakan menekan pada titik-titik tertentu pada tubuh.
Kasus :
1. SEFT terhadap penurunan intensitas nyeri pasien paska-operasi Sectio Caesaria.
Hasil penelitian diperoleh bahwa mean rank nyeri sebelum intervensi pada kelompok kontrol 20,78 dan pada kelompok perlakuan 16,22. Pada uji Mann-Whitney nilai p value kedua kelompok sebelum intervensi yaitu 0,178 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan bermakna intensitas nyeri sebelum intervensi. Mean rank nyeri setelah intervensi pada kelompok kontrol 27,06 dan pada kelompok perlakuan 9,94 sehingga tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah intervensi (p=0,000).
Wijiyanti, Fajar (2010) Efektivitas Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Paska-operasi Sectio Caesaria. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.

2. Mukhamad Rajin (2012) SEFT Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Pasca Operasi di Rumah sakit.
Terapi SEFT dilakukan selama 5 menit satu kali sehari, kualitas tidur pasien dievalusi menggunakan skala analog visual closs. Analisis Statistik menggunakan uji Anova dengan signifikansi P ≤ 0.05. Hasil uji statistik one way Anova pada hari pertama didapatkan nilai P= 0.009 dan pada hari ketiga nilai P= 0.000. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi SEFT dapat meningkatkan kualitas tidur pasien dengan signifikan
3. Lucia Purwaningsih, Elsye Rosa (2016). Respon Adaptasi Fisiologis Dan Psikologis Pasien Luka Bakar Yang Diberikan Kombinasi Alternative Moisture Balance Dressing Dan Seft Terapi Di Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 responden (Maret - Juni 2014). Sebagian besar dari 75% pria berusia antara 17-51 tahun, memiliki luka yang luas antara TBSA 6-55%, 37,5% tahap II, stadium III 62,5%. Respons adaptasi psikologis dengan indikator penyembuhan luka rata-rata 42,37 (36-49) menunjukkan bahwa respon adaptasi fisiologis bersifat adaptif, lama sembuh dengan derajat kedua rata-rata 17,6 hari (7-36 hari), rata-rata kelas III 28, 8 hari (20-40 hari). Respons adaptasi psikologis dengan skor penerimaan rata-rata 44,5 (40-50) dan didukung oleh hasil wawancara semua menunjukkan respons adaptif terhadap adaptasi psikologis.

4. Hendri Fajri Rofacky, Faridah Aini (2015). Pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi
15 responden sebagai kelompok intervensi dan 15 responden sebagai kelompok kontrol. Instrumen data yang digunakan sphygmomanometer merkuri, stetoskop dan lembar observasi. Hasil analisis dengan menggunakan t-test independen menemukan bahwa nilai p 0,000 (sistole) dan nilai p dari 0,019 (diastole), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna sebelum dan setelah terapi SEFT. Terapi spiritual teknik kebebasan emosional (SEFT) dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif yang tepat dan praktis pada pasien hipertensi.


SETYO KURNIAWAN06 December 2017

Assalamualaikum Pak yusuf ijin menjawab tentang relaksasi autogenik.
Autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik adalah salah satu contoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri (Stetter, 2002)
Dengan kata lain relaksasi autogenik adalah upaya mengoptimalkan apa yg dimiliki oleh individual untuk merubah sisi negatif menjadi sisi positif atau bisa juga merubah mindset negatif Dan menggantinya dengan mindset positif yang membangun. Sehingga respon tubuh secara keseluruhan dapat lebih menjadi adaptif terhadap segala sesuatu yang sedang di hadapi.

Tapi ada pertanyaan yang sedikit mengganjal Pak yusuf, bagaimana cara efektif dalam menerapkan relaksasi autogenik pada Penderita penyakit akut yang Mana masih terdapat denial dalam persepsinya. Terima kasih

Wildan Akasyah07 December 2017

Kelompok SEFT :
Matkul : Manajemen stres.
1. Wildan Akasyah
2. Made Mahaguna Putra
3. Sismulyanto
4. Hyan Oktodia Basuki
5. Novian Mahayu
Pertanyaan : Apakah SEFT bisa digunakan pada kasus lain? Kasus apa? dan berapa persen tingkat keberhasilannya?
Jawab :
SEFT adalah penyembuhan yang memadukan energi psikologi dengan kekuatan do’a dan spiritualitas. Energi psikologi adalah ilmu yang menerapkan berbagai prinsip dan tehnik, berdasarkan konsep system energi tubuh untuk memperbaiki kondisi pikiran, emosi dan perilaku seseorang. Konsep energi tubuh bisa dianalogikan dengan energi elektromagnetik pada pesawat televisi. Seseorang tidak dapat melihat dan merasakanya, tetapi keberadaannya dapat diketahui dari akibat yang ditimbulkan, yaitu berupa gambar hidup acara televisi yang terlihat, gangguan kecil pada aliran system energi TV akan menimbulkan kacaunya proses siaran televisi. Begitu juga dengan tubuh manusia, setiap sel, system saraf dan organ dalam tubuh kita mengandung energi elektromagnetik, maka sebagaimana system tubuh manusia akan menjadi pemicu utama segala macam gangguan emosi negatif seperti stress, cemas dan depresi, dan gangguan emosi dapat termanifestasi dalam berbagai penyakit fisikSpiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) termasuk teknik relaksasi yang penggabungan teknik sistem tubuh dan terapi spiritual menggunakan menekan pada titik-titik tertentu pada tubuh.
Selain pada kasus HIV teknik SEFT terdapat daam beberapa kasus berikut:
1. SEFT terhadap penurunan intensitas nyeri pasien paska-operasi Sectio Caesaria.
Hasil penelitian diperoleh bahwa mean rank nyeri sebelum intervensi pada kelompok kontrol 20,78 dan pada kelompok perlakuan 16,22. Pada uji Mann-Whitney nilai p value kedua kelompok sebelum intervensi yaitu 0,178 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan bermakna intensitas nyeri sebelum intervensi. Mean rank nyeri setelah intervensi pada kelompok kontrol 27,06 dan pada kelompok perlakuan 9,94 sehingga tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah intervensi (p=0,000).
Wijiyanti, Fajar (2010) Efektivitas Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Paska-operasi Sectio Caesaria. Undergraduate thesis, Universitas Diponegoro.

2. Mukhamad Rajin (2012) SEFT Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Pasca Operasi di Rumah sakit.
Terapi SEFT dilakukan selama 5 menit satu kali sehari, kualitas tidur pasien dievalusi menggunakan skala analog visual closs. Analisis Statistik menggunakan uji Anova dengan signifikansi P ≤ 0.05. Hasil uji statistik one way Anova pada hari pertama didapatkan nilai P= 0.009 dan pada hari ketiga nilai P= 0.000. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terapi SEFT dapat meningkatkan kualitas tidur pasien dengan signifikan
3. Lucia Purwaningsih, Elsye Rosa (2016). Respon Adaptasi Fisiologis Dan Psikologis Pasien Luka Bakar Yang Diberikan Kombinasi Alternative Moisture Balance Dressing Dan Seft Terapi Di Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 responden (Maret - Juni 2014). Sebagian besar dari 75% pria berusia antara 17-51 tahun, memiliki luka yang luas antara TBSA 6-55%, 37,5% tahap II, stadium III 62,5%. Respons adaptasi psikologis dengan indikator penyembuhan luka rata-rata 42,37 (36-49) menunjukkan bahwa respon adaptasi fisiologis bersifat adaptif, lama sembuh dengan derajat kedua rata-rata 17,6 hari (7-36 hari), rata-rata kelas III 28, 8 hari (20-40 hari). Respons adaptasi psikologis dengan skor penerimaan rata-rata 44,5 (40-50) dan didukung oleh hasil wawancara semua menunjukkan respons adaptif terhadap adaptasi psikologis.

4. Hendri Fajri Rofacky, Faridah Aini (2015). Pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi
15 responden sebagai kelompok intervensi dan 15 responden sebagai kelompok kontrol. Instrumen data yang digunakan sphygmomanometer merkuri, stetoskop dan lembar observasi. Hasil analisis dengan menggunakan t-test independen menemukan bahwa nilai p 0,000 (sistole) dan nilai p dari 0,019 (diastole), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna sebelum dan setelah terapi SEFT. Terapi spiritual teknik kebebasan emosional (SEFT) dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif yang tepat dan praktis pada pasien hipertensi.


Novian Mahayu Adiutama07 December 2017

NAMA: NOVIAN MAHAYU ADIUTAMA
NIM: 131614153047

SEFT dapat digunakan dalam semua kasus selama keadaan atau situasinya memungkinkan, terutama pada kasus yang mempunyai gejala nyeri ringan hingga sedang. Banyak intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat membantu dalam menghilangkan nyeri. Seperti yang diketahui bahwa terapi nonfarmakologis tidak memiliki efek samping yang berbahaya bagi fisik sehingga baik digunakan untuk membantu menurunkan respon negatif tubuh klien. Salah satunya kombinasi terapi nonfarmakologis dan obat analgetik yang merupakan cara paling efektif untuk menghilangkan nyeri. Saat ini juga banyak tuntutan pasien untuk diperlakukan sebagai manusia utuh, dan keperawatan memberikan solusinya yaitu menawarkan model keperawatan holistic.
Spiritual Emotional Freedom Technique. Dan (SEFT) merupakan teknik nonfarmakologis yang holistik dalam penanganan nyeri.

Made Mahaguna Putra07 December 2017

Emotional Freedom Technique (EFT) sebagai teknik terapeutik baru dalam psikologi energi memiliki efek positif pada gejala psikologis dan fisiologis, dan kualitas hidup. Dalam penelitian (Babamahmoodi et al., 2015) mempelajari pengaruh pengobatan ini terhadap faktor imunologi. Penelitian ini menguji apakah kelompok sesi EFT 8 minggu (dibandingkan dengan kelompok kontrol ) dengan penekanan pada masalah pernafasan, psikologis, dan imunologi pasien pada veteran cedera paru secara kimia (N = 28) dapat mempengaruhi faktor imunologis dan psikologis. Model linier efek campuran menunjukkan bahwa EFT memperbaiki kesehatan mental (F = 79,24, p = 0) dan kualitas hidup terkait kesehatan (F = 13,89, p = 0,001), menurunkan gejala somatik (F = 5,81, p = 0,02), kecemasan / insomnia (F = 24,03, p

Wahyu Darnanik08 December 2017

Bentuk stres pada perawat yang bekerja di RS terutama pada perawat IGD. Ada 5 gejala stres perawat saat bekerja di RS meliputi mudah marah, nyeri otot atau ketegangan otot, sulit berkonsentrasi pada pekerjaan, merasa lelah dan malas bekerja. Adapun yang menyebabkan stres itu terjadi adalah penyebab fisik (kebisingan, kelelahan, penggeseran kerja, jet-lag, suhu dan kelembaban), beban kerja, sifat pekerjaan, kebebasan dan kesulitan.
Faktor yang mempengaruhi stres kerja perawat IGD adalah kelebihan beban kerja, jumlah dan tingkat ketergantungan pasien, tuntutan pelayanan menjadi perawat profesional, tingkat pendidikan, pengalaman sebelumnya dengan stres, kepribadian perawat dan mekanisme koping, serta beban kerja akan menjadi stressor bagi perawat, dimana semakin berat beban kerja maka akan semakin besar stres yang dialami perawat.
Cara mencegah dan tehnik pengurangan stres meliputi relaksasi otot, relaksasi, bio feedback, meditasi, dan restrukturisasi kognitif. Beberapa kiat mengurangi stres ditempat kerja yaitu sediakan waktu rileks, bersikap lebih asertif, bekerja lebih efisien, tingkatkan energi dengan tidur, atur lingkungan kerja, kembangkan pola hidup sehat, tingkatkan keterampilan, lupakan pekerjaan saat libur dan pekerjaan bukan segalanya.
Strategi manajemen stres meliputi taktik bersifat personal (melakukan perubahan reaksi perilaku/ kognitif, melakukan relaksasi dan meditasi, melakukan diet dan fitnes), strategi berdasarkan organisasi (melakukan perubahan fungsi dan struktur organisasi, melakukan perubahan pada pekerjaan tertentu, melakukan program kesegaran jasmani bersama) dan strategi dukungan sosial.

hamdan hariawan08 December 2017

relaksasi autogenik bisa diartikan sebagai suatu usaha untuk membuat kondisi rileks pada diri sendiri dan diatur oleh diri sendiri. relaksasi autogenik ini dapat menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi. Relaksasi autogenik akan membantu tubuh untuk membawa perintah melalui autosugesti untuk rileks sehingga dapat mengendalikan pernafasan, tekanan darah, denyut jantung serta suhu tubuh. Imajinasi visual dan dan kalimat sugestif yang diucapkan dapat membuat tubuh merasa hangat, berat dan santai merupakan standar latihan relaksasi autogenik (Varvogli, 2011). stabilnya tanda-tanda vital dan rileksnya tubuh yang dihasilkan relaksasi autogenik dapat menurunkan tingkat kecemasan pasa pasien yang akan menjalani operasi. dan diharapkan dengan menurunnya kecemasan pada pasien tersebut, tidak akan terjadi komplikasi pada intra dan post operasi. karena kecemasaan akan dapat meningkatkan kortisol yang memberikan efek terhadap lama penyembuhan luka post operasi.

Nur Melizza08 December 2017

"Resum Manajemen Stress"
NAMA : NUR MELIZZA
NIM : 131614153018
M9 KEPERAWATAN KOMUNITAS
TUGAS RESUME MATA KULIAH MANAJEMEN STRESS

TERAPI PSIKODRAMA PADA REMAJA KORBAN BULLYING
Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang (Soeharto Heerdjan,1987).Penyebab Stress pada seseorang diawali dengan adanya stimuli. Faktor yang mempengaruhi terjadinya stress diantaranya :
- Faktor biologis, herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik dan neurohormonal.
- Faktor sosio kultural, perkembangan kepribadian, pengalaman dan kondisi lain yang mempengaruhi.Macam-macam stressor yaitu stressor internal & stressor eksternal.
Dampak stressor dipengaruhi oleh:
- Sifat stressor
- Jumlah stressor
- Lama stressor
- Pengalaman masa lalu
- Tingkat perkembangan.
Tahapan stress adalah sebagai berikut:
a. Stress tahap pertama (paling ringan)
Stress yang disertai dengan perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki dan penglihatan menjadi tajam.
b. Stress tahap kedua
Stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi badan tidak tersasa segar dan merasa letih, lekas capek pada saat menjelang sore hari, lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar, otot tengkuk dan punggung menjadi tegang. Hal ini disebabkan karena cadangan tenaga yang tidak memadai.
c. Stress tahap ketiga
Tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi yang tidak teratur, otot semakin tegang, emosional, imsomnia, mudah terjaga dan sulit untuk tidur kembali, bangun terlalu pagi, koordinasi tubuh terganggu dan mau jatuh pingsan.
d. Stress tahap keempat
Tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terlalu sulit dan menjenuhkan, kegiatan rutin terganggu dan gangguan pada pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta dapat menimbulkan ketakutan serta kecemasan.
e. Stress tahap kelima
Tahapan stress yang disertai dengan kelelahan secara fisik dan mental, ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
f. Stress tahap keenam
Tahapan stress dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak nafas, badan gemetar, dingin dan keluar banyak keringat.
Penggolongan Stress
Apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990), dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Stress fisik
b. Stress kimiawi
c. Stress mikrobiologik
d. Stress fisiologik
e. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan
f. Stress psikis atau emosional
Bullying
Bullying sendiri diartikan sebagai tindakan menyakiti secara fisik dan psikis secara terantara oleh pihak yang merasa lebih berkuasa terhadap yang lemah (Kompas, 2007) Bullying diartikan sebagai penggunaan penguasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya. (Suryanto, 2007)
Bullying ada 3 karakter yaitu pelaku yang melakukan bullying, seorang atau sekelompok orang yang melihat perilaku bullying namun tidak melakukan tindak bullying, dan pihak yang tertindas. Bentuk Bullying Bullying verbal, Bullying rasional, Bullying fisik.
Houghton, dkk (2012) dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa melakukan bullying karena :
a. Untuk memperoleh kekuasaan atas orang lain.
b. Reputasi di atas dalam interaksi sosial.
Selain itu, Marrison (2004, dalam Astuti, 2008) menyatakan bahwa bullying yang dilakukan oleh remaja penindas (the bully) karena : Dendam atau iri hati, Tradisi senoritas, Situasi sekolah yang diskriminatif, Masalah dalam keluarga.
Dampak Bullying Priatna (2010) dalam bukunya menyebutkan bahwa ada beberapa dampak negatif bullying pada korban, yaitu kecemasan, depresi, penarikan sosial, merasa kesepian, dapat menyebabkan bunuh diri, penurunan prestasi akademik, serta penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa. Berbagai penelitian juga menunjukkan hubungan antara bullying dengan meningkatnya depresi dan agresi
Tehnik Manajemen Stress “Terapi Psikodrama”
Psikodrama merupakan upaya pemecahan masalah melalui drama, dimana masalah yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami oleh individu (Utama, 2010 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Terapi psikodrama diciptakan oleh Jacob Moreno, seorang dokter psikiatri dari Vienna. Terapi psikodrama bermanfaat terutama bagi individu yang sulit menyatakan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal (Kurniadi, 2002 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011) dan lansia yang mengalami depresi.
Tehnik Terapi Psikodrama yaitu terdiri dari Premis - premis dalam kelompok psikodrama meliputi :
1) Manusia dalam masyarakat terus - menerus berkembang dan sadar terhadap kejadian yang menyentuh kehidupan pada suatu tahap perkembangan;
2) Hati psikodrama adalah pertemuan, konsep eksistensialisme yang melibatkan kontak psikologis, fisik yang menyeluruh antara indivudu atas dasar kesempurnan, konkret, serta intensitas dalam here and now;
3) Spontanitas adalah respons seseorang yang berisi tingkat ketepatan pada situasi baru atau tingkat kejujuran pada situasi lama;
4) Situasi dititikberatkan pada saat sekarang sehingga memunculkan hambatan waktu yang alami, serta ruang dan keadaan eksistensi yang hilang;
5) Telekomunikasi keseluruhan perasaan sebagai pemersatu kelompok secara bersama diantara individu, misalnya empati;
6) Katarsis dan pemahaman merupakan produk akhir dari spontanitas dan telekomunikasi.
Praktik psikodrama berlangsung secara multidimensional. Faktor - faktor personal dan fisik yang harus dipertimbangan antara lain :
1) Panggung (the stage) merupakan tempat berlangsungnya perbuatan yang mungkin berbentuk flat resmi, bagian kamar, dan sebagainya;
2) Protagonis adalah seorang pelaku yang memerankan perilaku jelas psikodrama dan dapat memainkan banyak bagian - di satu saat memainkan bagian berbeda dari dirinya sendiri, di saat lain keluar dari babak dan mengobservasi. Unsur kunci pada protagonis adalah spontanitas;
3) Aktor merupakan orang yang memainkan bagian objek atau tokoh penting lainnya dalam permainan;
4) Sutradara atau konselor adalah seorang yang mengarahkan;
5) Penonton adalah istilah yang di pakai untuk menerangkan orang lain yang mungkin hadir selama psikodrama serta bertujuan memberi umpan balik menanggapi apa yang dilihat, didengar dan dirasakan selama psikodrama.
Tehnik yang dipakai dalam psikodrama bergantung pada banyak variabel. Variabel penting yang mempengaruhi penggunaan tehnik adalah situasi protagonis, keterampilan sutradara, kemampuan perolehan aktor, besarnya penonton (audience), tujuan sesi, dan fase pelaksanaan psikodrama. Proses psikodrama umumnya berlangsung melalui tiga fase berikut:
1) Fase pemanasan
2) Fase tindakan
3) Fase integrasi
Tehnik utama psikodrama sebagai berikut :
1) Creative imagery.
Tehnik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan babak dan objek yang menyenangkan serta netral. Ide tehnik membantu klien spontan.
2) The magic shop.
Tehnik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang ragu tentang nilai dan tujuan klien.
3) Sculpting.
Konseling kelompok menggunakan metode nonverbal untuk menyusun orang lain dalam kelompok konfigurasi seperti kelompok orang yang signifikan sesuai dengan orang dalam keluarganya. Penyusunan melibatkan postur tubuh dan membantu konseling melihat, mengetahui persepsi klien tentang orang lain yang signifikan dengan cara yang lebih dinamis.
4) Tehnik berbicara
Protagonis memberi suatu monolog tentang situasi. Yang terdiri atas:
a. Monodrama (autodrama).
b. Tehnik ganda dan multipel ganda.
c. Pembalik peran.
d. Tehnik cermin.
Konselor dalam psikodrama berperan sebagai sutradara memiliki banyak peran. Sutradara membangun keterampilan dalam tiga bidang :
1) Pengetahuan tentang metode, prinsip, dan tehnik;
2) Pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi hidup;
3) Pemetangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri.
Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan, mendorong pengembangan kepercayaan dan spontanitas, menetapkan struktur, mengarahkan protagonis agar dapat mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok - pokok pikiran yang signifikan dalam hidup klien , melindungi konseling dari pengaruh orang lain, serta menghentikan sesi kelompok. Secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu kreativitas, dorongan, dan karisma.
Hasil dari Konseling Kelompok Psikodrama dapat dikemukanan seperti penciptaan katarsis, pemahaman, dan resolusi emosional. Melalui psikodrama, individu harus mampu melewati atau bekerja melalui kejadian yang sedang diantisipasi saat ini dan yang menyebabkan tertekan di masa lalu. Ketika telah memperoleh pemahaman kognifif dan emosional dengan mengatasi kesulitan, individu akan mencapai tahap kesadaran diri, penyesuaian kembali, integrasi, penemuan, kontrol, serta pencegahan terhadap kesulitan tersebut. Hasil dari psikodrama adalah pembelajaran yang terjadi ketika seorang bukan protagonis utama. Ada pengaruh pemindahan dari pendekatan yang membantu dan memprihatinkan karakter orang, terutama dalam mencapai resolusi pada persoalan penting.




Dyah Pitaloka08 December 2017

"Resum Managemen Stress"

NAMA : DYAH PITALOKA
NIM : 131614153030
M9 KEPERAWATAN KOMUNITAS
TUGAS RESUME MATA KULIAH MANAJEMEN STRESS

TERAPI PSIKODRAMA PADA REMAJA KORBAN BULLYING
 Konsep Stres
Menurut Hans Selye, “stress adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya” (Pusdikes,Dep.Kes.1989) ‘Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” Dadang Hawari.2001. Jadi secara umum yang dimaksud stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang dapat menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi dan lain-lain. Penyebab Stress pada seseorang diawali dengan adanya stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan yang disebut dengan stressor faktor yang mempengaruhi terjadinya stress diantaranya, Faktor biologis, herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik dan neurohormonal, Faktor sosio kultural, perkembangan kepribadian, pengalaman dan kondisi lain yang mempengaruhi.Macam-macam stressor yaitu stressor internal & stressor eksternal. Dampak stressor dipengaruhi oleh: Sifat stressor, Jumlah stressor, Lama stressor, Pengalaman masa lalu, Tingkat perkembangan. Sumber penyebab stress psikologis : Frustasi, Koflik, Tekanan, Krisis. Penggolongan Stress: Stress fisik, Stress kimiawi, Stress mikrobiologik, Stress fisiologik, Stress proses pertumbuhan dan perkembangan, Stress psikis atau emosional.
Tahapan stress adalah sebagai berikut:
a. Stress tahap pertama (paling ringan)
Stress yang disertai dengan perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki dan penglihatan menjadi tajam.
b. Stress tahap kedua
Stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi badan tidak tersasa segar dan merasa letih, lekas capek pada saat menjelang sore hari, lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar, otot tengkuk dan punggung menjadi tegang. Hal ini disebabkan karena cadangan tenaga yang tidak memadai.
c. Stress tahap ketiga
Tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi yang tidak teratur, otot semakin tegang, emosional, imsomnia, mudah terjaga dan sulit untuk tidur kembali, bangun terlalu pagi, koordinasi tubuh terganggu dan mau jatuh pingsan.
d. Stress tahap keempat
Tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terlalu sulit dan menjenuhkan, kegiatan rutin terganggu dan gangguan pada pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta dapat menimbulkan ketakutan serta kecemasan.
e. Stress tahap kelima
Tahapan stress yang disertai dengan kelelahan secara fisik dan mental, ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
f. Stress tahap keenam
Tahapan stress dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak nafas, badan gemetar, dingin dan keluar banyak keringat.
 Bullying
Bullying didefinisikan sebagai serangan fisik, verbal atau psikologis atau intimidasi yang dimaksudkan untuk menyebabkan rasa takut, tertekan atau merugikan korban(Olweus, 1993, dalam Georgiou, 2007). Bullying melibatkan 3 karakter yaitu pelaku yang melakukan bullying, seorang atau sekelompok orang yang melihat perilaku bullying namun tidak melakukan tindak bullying, dan pihak yang tertindas. Bentuk Bullying Bullying verbal, Bullying rasional, Bullying fisik.
Houghton, dkk (2012) dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa melakukan bullying karena :
a. Untuk memperoleh kekuasaan atas orang lain.
b. Reputasi di atas dalam interaksi sosial.
Selain itu, Marrison (2004, dalam Astuti, 2008) menyatakan bahwa bullying yang dilakukan oleh remaja penindas (the bully) karena : Dendam atau iri hati, Tradisi senoritas, Situasi sekolah yang diskriminatif, Masalah dalam keluarga.
Dampak Bullying Priatna (2010) dalam bukunya menyebutkan bahwa ada beberapa dampak negatif bullying pada korban, yaitu kecemasan, depresi, penarikan sosial, merasa kesepian, dapat menyebabkan bunuh diri, penurunan prestasi akademik, serta penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa. Berbagai penelitian juga menunjukkan hubungan antara bullying dengan meningkatnya depresi dan agresi
 Tehnik Manajemen Stress “Terapi Psikodrama”
Psikodrama merupakan upaya pemecahan masalah melalui drama, dimana masalah yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami oleh individu (Utama, 2010 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Terapi psikodrama diciptakan oleh Jacob Moreno, seorang dokter psikiatri dari Vienna. Terapi psikodrama bermanfaat terutama bagi individu yang sulit menyatakan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal (Kurniadi, 2002 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011) dan lansia yang mengalami depresi.
Tehnik Terapi Psikodrama yaitu terdiri dari Premis - premis dalam kelompok psikodrama meliputi :
1) Manusia dalam masyarakat terus - menerus berkembang dan sadar terhadap kejadian yang menyentuh kehidupan pada suatu tahap perkembangan;
2) Hati psikodrama adalah pertemuan, konsep eksistensialisme yang melibatkan kontak psikologis, fisik yang menyeluruh antara indivudu atas dasar kesempurnan, konkret, serta intensitas dalam here and now;
3) Spontanitas adalah respons seseorang yang berisi tingkat ketepatan pada situasi baru atau tingkat kejujuran pada situasi lama;
4) Situasi dititikberatkan pada saat sekarang sehingga memunculkan hambatan waktu yang alami, serta ruang dan keadaan eksistensi yang hilang;
5) Telekomunikasi keseluruhan perasaan sebagai pemersatu kelompok secara bersama diantara individu, misalnya empati;
6) Katarsis dan pemahaman merupakan produk akhir dari spontanitas dan telekomunikasi.
Praktik psikodrama berlangsung secara multidimensional. Faktor - faktor personal dan fisik yang harus dipertimbangan antara lain :
1) Panggung (the stage) merupakan tempat berlangsungnya perbuatan yang mungkin berbentuk flat resmi, bagian kamar, dan sebagainya;
2) Protagonis adalah seorang pelaku yang memerankan perilaku jelas psikodrama dan dapat memainkan banyak bagian - di satu saat memainkan bagian berbeda dari dirinya sendiri, di saat lain keluar dari babak dan mengobservasi. Unsur kunci pada protagonis adalah spontanitas;
3) Aktor merupakan orang yang memainkan bagian objek atau tokoh penting lainnya dalam permainan;
4) Sutradara atau konselor adalah seorang yang mengarahkan;
5) Penonton adalah istilah yang di pakai untuk menerangkan orang lain yang mungkin hadir selama psikodrama serta bertujuan memberi umpan balik menanggapi apa yang dilihat, didengar dan dirasakan selama psikodrama.
Tehnik yang dipakai dalam psikodrama bergantung pada banyak variabel. Variabel penting yang mempengaruhi penggunaan tehnik adalah situasi protagonis, keterampilan sutradara, kemampuan perolehan aktor, besarnya penonton (audience), tujuan sesi, dan fase pelaksanaan psikodrama. Proses psikodrama umumnya berlangsung melalui tiga fase berikut:
1) Fase pemanasan
Ditandai dengan penentuan sutradara yang siap memimpin kelompok dan konseling. Proses ini melibatkan aktivitas verbal dan nonverbal. Fase ini harus mempersiapkan segala sesuatu untuk masuk pada fase tindakan
2) Fase tindakan
Melibatkan tindakan yang jelas keperdulian - keperdulian protagonis. Hal terpenting dalam fase ini adalah bahwa protagonis mengekspresikan emosi - emosi - emosi tertekan dan menemukan cara baru yang efektif untuk bertidak.
3) Fase integrasi
Melibatkan diskusi dan penutupan (closure). Umpan balik sangat penting agar tindakan yang jelas (enactment) perubahan dan integrasi tercipta.
Tehnik utama psikodrama sebagai berikut :
1) Creative imagery.
Tehnik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan babak dan objek yang menyenangkan serta netral. Ide tehnik membantu klien spontan.
2) The magic shop.
Tehnik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang ragu tentang nilai dan tujuan klien.
3) Sculpting.
Konseling kelompok menggunakan metode nonverbal untuk menyusun orang lain dalam kelompok konfigurasi seperti kelompok orang yang signifikan sesuai dengan orang dalam keluarganya. Penyusunan melibatkan postur tubuh dan membantu konseling melihat, mengetahui persepsi klien tentang orang lain yang signifikan dengan cara yang lebih dinamis.
4) Tehnik berbicara
Protagonis memberi suatu monolog tentang situasi. Yang terdiri atas:
a. Monodrama (autodrama).
b. Tehnik ganda dan multipel ganda.
c. Pembalik peran.
d. Tehnik cermin.
Konselor dalam psikodrama berperan sebagai sutradara memiliki banyak peran. Sutradara membangun keterampilan dalam tiga bidang :
1) Pengetahuan tentang metode, prinsip, dan tehnik;
2) Pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi hidup;
3) Pemetangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri.
Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan, mendorong pengembangan kepercayaan dan spontanitas, menetapkan struktur, mengarahkan protagonis agar dapat mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok - pokok pikiran yang signifikan dalam hidup klien , melindungi konseling dari pengaruh orang lain, serta menghentikan sesi kelompok. Secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu kreativitas, dorongan, dan karisma.
Hasil dari Konseling Kelompok Psikodrama dapat dikemukanan seperti penciptaan katarsis, pemahaman, dan resolusi emosional. Melalui psikodrama, individu harus mampu melewati atau bekerja melalui kejadian yang sedang diantisipasi saat ini dan yang menyebabkan tertekan di masa lalu. Ketika telah memperoleh pemahaman kognifif dan emosional dengan mengatasi kesulitan, individu akan mencapai tahap kesadaran diri, penyesuaian kembali, integrasi, penemuan, kontrol, serta pencegahan terhadap kesulitan tersebut. Hasil dari psikodrama adalah pembelajaran yang terjadi ketika seorang bukan protagonis utama. Ada pengaruh pemindahan dari pendekatan yang membantu dan memprihatinkan karakter orang, terutama dalam mencapai resolusi pada persoalan penting.


FITRI FIRRANDA NURMALISYAH08 December 2017

"RESUME MANAGEMEN STRESS"

NAMA : FITRI FIRANDA NURMALISYAH
NIM : 131614153042
M9 KEPERAWATAN KOMUNITAS
TUGAS RESUME MATA KULIAH MANAJEMEN STRESS

TERAPI PSIKODRAMA PADA REMAJA KORBAN BULLYING
1. Konsep Stres
‘Stress adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” Dadang Hawari.2001. Menurut Hans Selye, “stress adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya” (Pusdikes,Dep.Kes.1989) kesimpulannya stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang dapat menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi dan lain-lain.
Penyebab Stress : dengan adanya stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan yang disebut dengan stressor faktor yang mempengaruhi terjadinya stress diantaranya, Faktor biologis, & Faktor sosio kultural. Macam stressor : stressor internal & stressor eksternal. Dampak stressor yaitu : Sifat stressor, Jumlah stressor, Lama stressor, Pengalaman masa lalu, Tingkat perkembangan. Sumber penyebab stress psikologis : Frustasi, Koflik, Tekanan, Krisis. Penggolongan Stress: Stress fisik, Stress kimiawi, Stress mikrobiologik, Stress fisiologik, Stress proses pertumbuhan dan perkembangan, Stress psikis atau emosional. Tahapan stress adalah sebagai berikut:
a. Stress tahap pertama (paling ringan)
Stress yang disertai dengan perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki dan penglihatan menjadi tajam.
b. Stress tahap kedua
Stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi badan tidak tersasa segar dan merasa letih, lekas capek pada saat menjelang sore hari, lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar, otot tengkuk dan punggung menjadi tegang. Hal ini disebabkan karena cadangan tenaga yang tidak memadai.
c. Stress tahap ketiga
Tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi yang tidak teratur, otot semakin tegang, emosional, imsomnia, mudah terjaga dan sulit untuk tidur kembali, bangun terlalu pagi, koordinasi tubuh terganggu dan mau jatuh pingsan.
d. Stress tahap keempat
Tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu bekerja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan terlalu sulit dan menjenuhkan, kegiatan rutin terganggu dan gangguan pada pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta dapat menimbulkan ketakutan serta kecemasan.
e. Stress tahap kelima
Tahapan stress yang disertai dengan kelelahan secara fisik dan mental, ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
f. Stress tahap keenam
Tahapan stress dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak nafas, badan gemetar, dingin dan keluar banyak keringat.

2. Bullying
Bullying didefinisikan sebagai serangan fisik, verbal atau psikologis atau intimidasi yang dimaksudkan untuk menyebabkan rasa takut, tertekan atau merugikan korban(Olweus, 1993, dalam Georgiou, 2007). Bentuk Bullying yaitu Bullying verbal, Bullying rasional, Bullying fisik. Melakukan bullying karena : Untuk memperoleh kekuasaan atas orang lain, Reputasi di atas dalam interaksi sosial. Selain itu, Marrison (2004, dalam Astuti, 2008) menyatakan bahwa bullying yang dilakukan oleh remaja penindas (the bully) karena : Dendam atau iri hati, Tradisi senoritas, Situasi sekolah yang diskriminatif, Masalah dalam keluarga. Dampak Bullying : bahwa ada beberapa dampak negatif bullying pada korban, yaitu kecemasan, depresi, penarikan sosial, merasa kesepian, dapat menyebabkan bunuh diri, penurunan prestasi akademik, serta penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa.
Bentuk- bentuk bullying:
a. Bullying verbal adalah digunakannya kata-kata atau lisan untuk menindas dan/atau menyakiti korban berupa kritikan kejam, nama julukan, ejekan atau penghinaan.
b. Bullying rasional adalah digunakannya upaya-upaya untuk melemahkan harga diri korban melalui pengucilan, pengabaian, pengecualian atau penghindaran secara sistematis.
c. Bullying fisik adalah digunakannya kekerasan fisik untuk menindas atau melukai korbannya.
Dampak bullying adalah Bullying yang dilakukan oleh penindas (the bully) kepada korban memiliki dampak yang negatif. Priatna (2010) dalam bukunya menyebutkan bahwa ada beberapa dampak negatif bullying pada korban, yaitu kecemasan, depresi, penarikan sosial, merasa kesepian, dapat menyebabkan bunuh diri, penurunan prestasi akademik, serta penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Penelitian dan literatur tersebut menunjukkan bahwa bullying berdampak negatif pada korbannya, tetapi mengapa bullying tetap dilakukan oleh remaja penindas (the bully).




3. Tehnik Manajemen Stress “Terapi Psikodrama”
Psikodrama merupakan upaya pemecahan masalah melalui drama, dimana masalah yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami oleh individu (Utama, 2010 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Terapi psikodrama diciptakan oleh Jacob Moreno, seorang dokter psikiatri dari Vienna. Terapi psikodrama bermanfaat terutama bagi individu yang sulit menyatakan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal (Kurniadi, 2002 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011) dan lansia yang mengalami depresi.
Tehnik Terapi Psikodrama yaitu terdiri dari Premis - premis dalam kelompok psikodrama meliputi :
a. Manusia dalam masyarakat terus - menerus berkembang dan sadar terhadap kejadian yang menyentuh kehidupan pada suatu tahap perkembangan;
b. Hati psikodrama adalah pertemuan, konsep eksistensialisme yang melibatkan kontak psikologis, fisik yang menyeluruh antara indivudu atas dasar kesempurnan, konkret, serta intensitas dalam here and now;
c. Spontanitas adalah respons seseorang yang berisi tingkat ketepatan pada situasi baru atau tingkat kejujuran pada situasi lama;
d. Situasi dititikberatkan pada saat sekarang sehingga memunculkan hambatan waktu yang alami, serta ruang dan keadaan eksistensi yang hilang;
e. Telekomunikasi keseluruhan perasaan sebagai pemersatu kelompok secara bersama diantara individu, misalnya empati;
f. Katarsis dan pemahaman merupakan produk akhir dari spontanitas dan telekomunikasi.
Praktik psikodrama berlangsung secara multidimensional. Faktor - faktor personal dan fisik yang harus dipertimbangan antara lain :
a. Panggung (the stage) merupakan tempat berlangsungnya perbuatan yang mungkin berbentuk flat resmi, bagian kamar, dan sebagainya;
b. Protagonis adalah seorang pelaku yang memerankan perilaku jelas psikodrama dan dapat memainkan banyak bagian - di satu saat memainkan bagian berbeda dari dirinya sendiri, di saat lain keluar dari babak dan mengobservasi. Unsur kunci pada protagonis adalah spontanitas;
c. Aktor merupakan orang yang memainkan bagian objek atau tokoh penting lainnya dalam permainan;
d. Sutradara atau konselor adalah seorang yang mengarahkan;
e. Penonton adalah istilah yang di pakai untuk menerangkan orang lain yang mungkin hadir selama psikodrama serta bertujuan memberi umpan balik menanggapi apa yang dilihat, didengar dan dirasakan selama psikodrama.
Tehnik yang dipakai dalam psikodrama bergantung pada banyak variabel. Variabel penting yang mempengaruhi penggunaan tehnik adalah situasi protagonis, keterampilan sutradara, kemampuan perolehan aktor, besarnya penonton (audience), tujuan sesi, dan fase pelaksanaan psikodrama. Proses psikodrama umumnya berlangsung melalui tiga fase berikut:
a. Fase pemanasan: Ditandai dengan penentuan sutradara yang siap memimpin kelompok dan konseling. Proses ini melibatkan aktivitas verbal dan nonverbal.
b. Fase tindakan: Melibatkan tindakan yang jelas keperdulian protagonis. Hal terpenting dalam fase ini adalah bahwa protagonis mengekspresikan emosi , tertekan dan menemukan cara baru yang efektif untuk bertidak.
c. Fase integrasi :Melibatkan diskusi dan penutupan (closure). Tehnik utama psikodrama sebagai berikut :
1) Creative imagery.
Tehnik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan babak dan objek yang menyenangkan serta netral. Ide tehnik ini membantu klien menjadi lebih spontan.
2) The magic shop.
Tehnik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang ragu tentang nilai dan tujuan klien.

3) Sculpting.
Konseling kelompok menggunakan metode nonverbal untuk menyusun orang lain dalam kelompok konfigurasi seperti kelompok orang yang signifikan yang sesuai dengan orang - orang dalam keluarganya. Penyusunan ini melibatkan postur tubuh dan membantu konseling melihat, mengetahui persepsi klien tentang orang lain yang signifikan dengan cara yang lebih dinamis.
4) Tehnik berbicara
Protagonis memberi suatu monolog tentang situasi. Tehnik berbicara terdiri atas sebagai berikut.
a) Monodrama (autodrama).
Bentuk inti terapi Gestalt. Dalam tehnik ini, protagonis memainkan semua bagian tindakan yang jelas dan tindakan menggunakan ego (peran) pembantu.
b) Tehnik ganda dan multipel ganda.
Pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu protagonis mengekspresikan perasaan sesungguhnyasecara lebih jelas. Jika protagonis memiliki perasaan ragu, maka tehnik multipel ganda dapat digunakan.
c) Pembalik peran.
Protagonis bertukar peran (ego) dengan orang lain pada tahap psikodrama dan memainkan bagian orang tersebut. Konseling kelompok berbuat bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh klien sehingga klien dapat melihat dari sisi berbeda.
d) Tehnik cermin.
Protagonis memperlihatkan dari luar tahap, sementara seorang ego pembantu mencerminkan kata - kata, mimik, dan postur protagonis. Tehnik ini dipakai pada fase tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat.

Konselor dalam psikodrama berperan sebagai sutradara memiliki banyak peran. Sutradara membangun keterampilan dalam tiga bidang :
a. Pengetahuan tentang metode, prinsip, dan tehnik;
b. Pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi hidup;
c. Pemetangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri.
Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas - tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan, mendorong pengembangan kepercayaan dan spontanitas, menetapkan struktur, mengarahkan protagonis agar dapat mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok - pokok pikiran yang signifikan dalam hidup klien , melindungi konseling dari pengaruh orang lain, serta menghentikan sesi kelompok. Secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu kreativitas, dorongan, dan karisma.
Konseling Kelompok Psikodrama dapat mempengaruhi penciptaan katarsis, pemahaman, dan resolusi emosional. Melalui psikodrama, individu harus mampu melewati atau bekerja melalui kejadian yang sedang diantisipasi saat ini dan yang menyebabkan tertekan di masa lalu. Ketika telah memperoleh pemahaman kognifif dan emosional dengan mengatasi kesulitan, individu akan mencapai tahap kesadaran diri, penyesuaian kembali, integrasi, penemuan, kontrol, serta pencegahan terhadap kesulitan tersebut. Hasil dari psikodrama adalah pembelajaran yang terjadi ketika seorang bukan protagonis utama. Ada pengaruh pemindahan dari pendekatan yang membantu dan memprihatinkan karakter orang, terutama dalam mencapai resolusi pada persoalan penting.


ULUM MABRUROH08 December 2017

"Resume Managemen Stress"

NAMA : ULUM MABRUROH
NIM : 131614153038
M9 KEPERAWATAN KOMUNITAS
TUGAS RESUME MATA KULIAH MANAJEMEN STRESS

TERAPI PSIKODRAMA PADA REMAJA KORBAN BULLYING
 Konsep Stres
Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brect (2000) bahwa yang dimaksud stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam lingkungan tersebut. Menurut Hans Selye, “stress adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya” (Pusdikes,Dep.Kes.1989).
Penyebab Stress : Timbulnya stress pada seseorang diawali dengan adanya stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan yang disebut dengan stressor. Stressor menunjukan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan fisiologis psikologis sosial, lingkungan, perkembangan spiritual atau kebutuhan kulturan (Potter & Perry,1997). Penggolongan stress adalah sebagai berikut:
Apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990), dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Stress fisik
Disebabkan oleh adanya suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang atau tersengat arus listrik.
b. Stress kimiawiDisebabkan oleh asam basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon atau gas.
c. Stress mikrobiologik
Disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang dapat menimbulkan penyakit.
d. Stress fisiologik
Disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
e. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan
Disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
f. Stress psikis atau emosional
Disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya atau keagamaan.
 Bullying
Bullying didefinisikan sebagai serangan fisik, verbal atau psikologis atau intimidasi yang dimaksudkan untuk menyebabkan rasa takut, tertekan atau merugikan korban(Olweus, 1993, dalam Georgiou, 2007). Bentuk Bullying yaitu Bullying verbal, Bullying rasional, Bullying fisik. Melakukan bullying karena : Untuk memperoleh kekuasaan atas orang lain, Reputasi di atas dalam interaksi sosial. Selain itu, Marrison (2004, dalam Astuti, 2008) menyatakan bahwa bullying yang dilakukan oleh remaja penindas (the bully) karena : Dendam atau iri hati, Tradisi senoritas, Situasi sekolah yang diskriminatif, Masalah dalam keluarga. Dampak Bullying : bahwa ada beberapa dampak negatif bullying pada korban, yaitu kecemasan, depresi, penarikan sosial, merasa kesepian, dapat menyebabkan bunuh diri, penurunan prestasi akademik, serta penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa.
 Tehnik Manajemen Stress “Terapi Psikodrama”
Psikodrama merupakan upaya pemecahan masalah melalui drama, dimana masalah yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami oleh individu (Utama, 2010 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Terapi psikodrama diciptakan oleh Jacob Moreno, seorang dokter psikiatri dari Vienna. Terapi psikodrama bermanfaat terutama bagi individu yang sulit menyatakan suatu peristiwa atau perasaan secara verbal (Kurniadi, 2002 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011) dan lansia yang mengalami depresi.
Tehnik Terapi Psikodrama yaitu terdiri dari Premis - premis dalam kelompok psikodrama meliputi :
1) Manusia dalam masyarakat terus - menerus berkembang dan sadar terhadap kejadian yang menyentuh kehidupan pada suatu tahap perkembangan;
2) Hati psikodrama adalah pertemuan, konsep eksistensialisme yang melibatkan kontak psikologis, fisik yang menyeluruh antara indivudu atas dasar kesempurnan, konkret, serta intensitas dalam here and now;
3) Spontanitas adalah respons seseorang yang berisi tingkat ketepatan pada situasi baru atau tingkat kejujuran pada situasi lama;
4) Situasi dititikberatkan pada saat sekarang sehingga memunculkan hambatan waktu yang alami, serta ruang dan keadaan eksistensi yang hilang;

5) Telekomunikasi keseluruhan perasaan sebagai pemersatu kelompok secara bersama diantara individu, misalnya empati;
6) Katarsis dan pemahaman merupakan produk akhir dari spontanitas dan telekomunikasi.
Praktik psikodrama berlangsung secara multidimensional. Faktor - faktor personal dan fisik yang harus dipertimbangan antara lain :
1) Panggung (the stage) merupakan tempat berlangsungnya perbuatan yang mungkin berbentuk flat resmi, bagian kamar, dan sebagainya;
2) Protagonis adalah seorang pelaku yang memerankan perilaku jelas psikodrama dan dapat memainkan banyak bagian - di satu saat memainkan bagian berbeda dari dirinya sendiri, di saat lain keluar dari babak dan mengobservasi. Unsur kunci pada protagonis adalah spontanitas;
3) Aktor merupakan orang yang memainkan bagian objek atau tokoh penting lainnya dalam permainan;
4) Sutradara atau konselor adalah seorang yang mengarahkan;
5) Penonton adalah istilah yang di pakai untuk menerangkan orang lain yang mungkin hadir selama psikodrama serta bertujuan memberi umpan balik menanggapi apa yang dilihat, didengar dan dirasakan selama psikodrama.
Tehnik yang dipakai dalam psikodrama bergantung pada banyak variabel. Variabel penting yang mempengaruhi penggunaan tehnik adalah situasi protagonis, keterampilan sutradara, kemampuan perolehan aktor, besarnya penonton (audience), tujuan sesi, dan fase pelaksanaan psikodrama. Proses psikodrama umumnya berlangsung melalui tiga fase berikut:
1. Fase pemanasan: Ditandai dengan penentuan sutradara yang siap memimpin kelompok dan konseling. Proses ini melibatkan aktivitas verbal dan nonverbal.
2. Fase tindakan: Melibatkan tindakan yang jelas keperdulian protagonis. Hal terpenting dalam fase ini adalah bahwa protagonis mengekspresikan emosi , tertekan dan menemukan cara baru yang efektif untuk bertidak.
3. Fase integrasi :Melibatkan diskusi dan penutupan (closure). Tehnik utama psikodrama sebagai berikut :
1) Creative imagery.
Tehnik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan babak dan objek yang menyenangkan serta netral. Ide tehnik ini membantu klien menjadi lebih spontan.
2) The magic shop.
Tehnik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang ragu tentang nilai dan tujuan klien.
3) Sculpting.
Konseling kelompok menggunakan metode nonverbal untuk menyusun orang lain dalam kelompok konfigurasi seperti kelompok orang yang signifikan yang sesuai dengan orang - orang dalam keluarganya. Penyusunan ini melibatkan postur tubuh dan membantu konseling melihat, mengetahui persepsi klien tentang orang lain yang signifikan dengan cara yang lebih dinamis.
4) Tehnik berbicara
Protagonis memberi suatu monolog tentang situasi. Tehnik berbicara terdiri atas sebagai berikut.
a. Monodrama (autodrama).
Bentuk inti terapi Gestalt. Dalam tehnik ini, protagonis memainkan semua bagian tindakan yang jelas dan tindakan menggunakan ego (peran) pembantu.
b. Tehnik ganda dan multipel ganda.
Pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu protagonis mengekspresikan perasaan sesungguhnyasecara lebih jelas. Jika protagonis memiliki perasaan ragu, maka tehnik multipel ganda dapat digunakan.
c. Pembalik peran.
Protagonis bertukar peran (ego) dengan orang lain pada tahap psikodrama dan memainkan bagian orang tersebut. Konseling kelompok berbuat bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh klien sehingga klien dapat melihat dari sisi berbeda.
d. Tehnik cermin.
Protagonis memperlihatkan dari luar tahap, sementara seorang ego pembantu mencerminkan kata - kata, mimik, dan postur protagonis. Tehnik ini dipakai pada fase tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat.
Konselor dalam psikodrama berperan sebagai sutradara memiliki banyak peran. Sutradara membangun keterampilan dalam tiga bidang :
1) Pengetahuan tentang metode, prinsip, dan tehnik;
2) Pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi hidup;
3) Pemetangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri.
Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas - tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan, mendorong pengembangan kepercayaan dan spontanitas, menetapkan struktur, mengarahkan protagonis agar dapat mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok - pokok pikiran yang signifikan dalam hidup klien , melindungi konseling dari pengaruh orang lain, serta menghentikan sesi kelompok. Secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu kreativitas, dorongan, dan karisma.
Hasil dari Konseling Kelompok Psikodrama dapat dikemukanan seperti penciptaan katarsis, pemahaman, dan resolusi emosional. Melalui psikodrama, individu harus mampu melewati atau bekerja melalui kejadian yang sedang diantisipasi saat ini dan yang menyebabkan tertekan di masa lalu. Ketika telah memperoleh pemahaman kognifif dan emosional dengan mengatasi kesulitan, individu akan mencapai tahap kesadaran diri, penyesuaian kembali, integrasi, penemuan, kontrol, serta pencegahan terhadap kesulitan tersebut. Hasil dari psikodrama adalah pembelajaran yang terjadi ketika seorang bukan protagonis utama. Ada pengaruh pemindahan dari pendekatan yang membantu dan memprihatinkan karakter orang, terutama dalam mencapai resolusi pada persoalan penting.


Ayudiyah Uprianingsih08 December 2017

Nama : Ayudiah Uprianingsih
NIM : 131614153080
M9 KEPERAWATAN KOMUNITAS
TUGAS RESUME MATA KULIAH MANAJEMEN STRESS

TERAPI PSIKODRAMA PADA REMAJA KORBAN BULLYING
Konsep Stres
Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brect (2000) bahwa yang dimaksud stress adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu didalam lingkungan tersebut. Penyebab Stress timbulnya stress pada seseorang diawali dengan adanya stimuli. Stressor menunjukan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa saja kebutuhan fisiologis psikologis sosial, lingkungan, perkembangan spiritual atau kebutuhan kulturan (Potter & Perry,1997). Penggolongan stress adalah sebagai berikut:
a. Stress fisik
Disebabkan oleh adanya suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang atau tersengat arus listrik.
b. Stress kimiawiDisebabkan oleh asam basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon atau gas.
c. Stress mikrobiologik
Disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang dapat menimbulkan penyakit.
d. Stress fisiologik
Disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
e. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan
Disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
f. Stress psikis atau emosional
Disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya atau keagamaan.
Bullying
Bullying didefinisikan sebagai serangan fisik, verbal atau psikologis atau intimidasi yang dimaksudkan untuk menyebabkan rasa takut, tertekan atau merugikan korban(Olweus, 1993, dalam Georgiou, 2007). Bentuk Bullying yaitu Bullying verbal, Bullying rasional, Bullying fisik. Melakukan bullying karena : Untuk memperoleh kekuasaan atas orang lain, Reputasi di atas dalam interaksi sosial. Dampak Bullying adalah bahwa ada beberapa dampak negatif bullying pada korban, yaitu kecemasan, depresi, penarikan sosial, merasa kesepian, dapat menyebabkan bunuh diri, penurunan prestasi akademik, serta penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Hal tersebut kemudan mulai mempengaruhi prestasi akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh lagi ke dalam pengasingan. Dampak negatif bullying juga tampak pada penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa.
Tehnik Manajemen Stress “Terapi Psikodrama”
Psikodrama merupakan upaya pemecahan masalah melalui drama, dimana masalah yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami oleh individu (Utama, 2010 dalam Setyoadi & Kushariyadi, 2011). Tehnik Terapi Psikodrama yaitu terdiri dari Premis - premis dalam kelompok psikodrama meliputi :
1) Manusia dalam masyarakat terus - menerus berkembang dan sadar terhadap kejadian yang menyentuh kehidupan pada suatu tahap perkembangan;
2) Hati psikodrama adalah pertemuan, konsep eksistensialisme yang melibatkan kontak psikologis, fisik yang menyeluruh antara indivudu atas dasar kesempurnan, konkret, serta intensitas dalam here and now;
3) Spontanitas adalah respons seseorang yang berisi tingkat ketepatan pada situasi baru atau tingkat kejujuran pada situasi lama;
4) Situasi dititikberatkan pada saat sekarang sehingga memunculkan hambatan waktu yang alami, serta ruang dan keadaan eksistensi yang hilang;
5) Telekomunikasi keseluruhan perasaan sebagai pemersatu kelompok secara bersama diantara individu, misalnya empati;
6) Katarsis dan pemahaman merupakan produk akhir dari spontanitas dan telekomunikasi.
Praktik psikodrama berlangsung secara multidimensional. Faktor - faktor personal dan fisik yang harus dipertimbangan antara lain :
1) Panggung (the stage) merupakan tempat berlangsungnya perbuatan yang mungkin berbentuk flat resmi, bagian kamar, dan sebagainya;
2) Protagonis adalah seorang pelaku yang memerankan perilaku jelas psikodrama dan dapat memainkan banyak bagian - di satu saat memainkan bagian berbeda dari dirinya sendiri, di saat lain keluar dari babak dan mengobservasi. Unsur kunci pada protagonis adalah spontanitas;
3) Aktor merupakan orang yang memainkan bagian objek atau tokoh penting lainnya dalam permainan;
4) Sutradara atau konselor adalah seorang yang mengarahkan;
5) Penonton adalah istilah yang di pakai untuk menerangkan orang lain yang mungkin hadir selama psikodrama serta bertujuan memberi umpan balik menanggapi apa yang dilihat, didengar dan dirasakan selama psikodrama.
Tehnik yang dipakai dalam psikodrama bergantung pada banyak variabel. Variabel penting yang mempengaruhi penggunaan tehnik adalah situasi protagonis, keterampilan sutradara, kemampuan perolehan aktor, besarnya penonton (audience), tujuan sesi, dan fase pelaksanaan psikodrama. Proses psikodrama umumnya berlangsung melalui tiga fase berikut:
1. Fase pemanasan
2. Fase tindakan
3. Fase integrasi
Tehnik utama psikodrama sebagai berikut :
1) Creative imagery.
Tehnik pemanasan untuk mengundang peserta psikodrama membayangkan babak dan objek yang menyenangkan serta netral. Ide tehnik ini membantu klien menjadi lebih spontan.
2) The magic shop.
Tehnik pemanasan yang berguna bagi protagonis yang ragu tentang nilai dan tujuan klien.
3) Sculpting.
Konseling kelompok menggunakan metode nonverbal untuk menyusun orang lain dalam kelompok konfigurasi seperti kelompok orang yang signifikan yang sesuai dengan orang - orang dalam keluarganya. Penyusunan ini melibatkan postur tubuh dan membantu konseling melihat, mengetahui persepsi klien tentang orang lain yang signifikan dengan cara yang lebih dinamis.
4) Tehnik berbicara
Protagonis memberi suatu monolog tentang situasi. Tehnik berbicara terdiri atas sebagai berikut.
a. Monodrama (autodrama).
Bentuk inti terapi Gestalt. Dalam tehnik ini, protagonis memainkan semua bagian tindakan yang jelas dan tindakan menggunakan ego (peran) pembantu.
b. Tehnik ganda dan multipel ganda.
Pengambilan peran aktor dari ego protagonis dan membantu protagonis mengekspresikan perasaan sesungguhnyasecara lebih jelas. Jika protagonis memiliki perasaan ragu, maka tehnik multipel ganda dapat digunakan.
c. Pembalik peran.
Protagonis bertukar peran (ego) dengan orang lain pada tahap psikodrama dan memainkan bagian orang tersebut. Konseling kelompok berbuat bertentangan dengan apa yang dirasakan oleh klien sehingga klien dapat melihat dari sisi berbeda.
d. Tehnik cermin.
Protagonis memperlihatkan dari luar tahap, sementara seorang ego pembantu mencerminkan kata - kata, mimik, dan postur protagonis. Tehnik ini dipakai pada fase tindakan untuk membantu protagonis melihat dirinya secara lebih akurat.
Konselor dalam psikodrama berperan sebagai sutradara memiliki banyak peran. Sutradara membangun keterampilan dalam tiga bidang :
1) Pengetahuan tentang metode, prinsip, dan tehnik;
2) Pemahaman tentang teori kepribadian dan hubungannya dengan pengembangan pembentukan filosofi hidup;
3) Pemetangan dan perkembangan kepribadiannya sendiri.
Sutradara berfungsi untuk menyelenggarakan tugas - tugas seperti memimpin pengalaman pemanasan, mendorong pengembangan kepercayaan dan spontanitas, menetapkan struktur, mengarahkan protagonis agar dapat mengidentifikasi dan bekerja berdasarkan pokok - pokok pikiran yang signifikan dalam hidup klien , melindungi konseling dari pengaruh orang lain, serta menghentikan sesi kelompok. Secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa sutradara kelompok yang efektif memiliki tiga kualitas, yaitu kreativitas, dorongan, dan karisma.
Hasil dari Konseling Kelompok Psikodrama dapat dikemukanan seperti penciptaan katarsis, pemahaman, dan resolusi emosional. Melalui psikodrama, individu harus mampu melewati atau bekerja melalui kejadian yang sedang diantisipasi saat ini dan yang menyebabkan tertekan di masa lalu. Ketika telah memperoleh pemahaman kognifif dan emosional dengan mengatasi kesulitan, individu akan mencapai tahap kesadaran diri, penyesuaian kembali, integrasi, penemuan, kontrol, serta pencegahan terhadap kesulitan tersebut. Hasil dari psikodrama adalah pembelajaran yang terjadi ketika seorang bukan protagonis utama. Ada pengaruh pemindahan dari pendekatan yang membantu dan memprihatinkan karakter orang, terutama dalam mencapai resolusi pada persoalan penting.

DESY SISWI ANJAR SARI08 December 2017

"MANAJEMEN STRES"
DESY SISWI ANJAR SARI
NIM; 131614153039
FASILITATOR : Dr. Ah. Yusuf., S.Kp., M.Kes
“RESUM MANAJEMEN STRES PERAWAT DI RS”
1. DEFINISI STRES
Sarafino (2008) mendefinisikan stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres adalah tekanan internal maupun eksternal serta kondisi bermasalah lainnya dalam kehidupan (aninternal and eksternal pressure and other troublesome condition in life). Ardani (2007) mendefinisikan stress merupakan suatu keadaan tertekan baik itu secara fisik maupun psikologis.
2. TEORI STRES
Teori stres terus berkembang dari masa ke masa, tetapi secara funda-mental teori stres hanya digolongkan atas tiga pendekatan. Tiga pendekatan teori stres tersebut adalah: (1) stres model stimulus (rangsangan), (2) stres model response (respons), dan (3) stres model transactional (transaksional) (Bartlett, 1998; Lyon, 2012).
Lazarus (1976) berpendapat Stress terjadi jika seseorang mengalami tuntutan yang melampaui sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan penyesuaian diri, hal ini berarti bahwa kodisi stress terjadi jika terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan.. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam 2 bentuk, yakni :
1. Tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan biologis. Berupa kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan kepuasan yang ada pada diri individu
2. Tuntutan eksternal yang muncul dalam bentuk fisik dan sosial. Tuntutan eksternal dapat merefleksikan aspek-aspek yang berbeda dari pekerjaan seseorang, seperti tugas-tugas yang diberikan dan bagaimana cara menyelesaikan tugas tersebut, lingkungan fisik, lingkungan psikososial dan kegiatan-kegiatan di luar lingkungan kerja.

3. PSIKOPATOLOGI STRES
Respon Psikologis Stres
Reaksi psikologis terhadap stres dapat meliputi, (Sarafino, 1994) :
1. Kognisi
Stres dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif. Stresor berupa kebisingan dapat menyebabkan defisit kognitif pada anak-anak. Kognisi juga dapat berpengaruh dalam stres.
2. Emosi
Emosi cenderung terkait dengan stres. Individu sering menggunakan keadaan emosionalnya untuk mengevaluasi stres. Proses penilaian kognitif dapat mempengaruhi stres dan pengalaman emosional. Reaksi emosional terhadap stres yaitu rasa takut, fobia, kecemasan, depresi, perasaan sedih dan rasa marah.
3. Perilaku Sosial
Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Individu dapat berperilaku menjadi positif maupun negatif. Bencana alam dapat membuat individu berperilaku lebih kooperatif, dalam situasi lain, individu dapat mengembangkan sikap bermusuhan. Stres yang diikuti dengan rasa
GEJALA PSIKOPATOLOGI
Apabila seseorang mengalami stress,akan memberikan gejala :
1. Gejala Fisik : Ketegangan otot terutama leher dan pundak, sakit kepala, sakit perut, mual, muntah, diare atau konstipasi, lelah atau sulit tidut, detak jantung cepat, berkeringat banyak, kehilangan atau kelebihan berat badan, mengatupkan gigi, mengigit gigi, perubahan pernafasan, keinginan seks berkurang.
2. Gejala perilaku : penyalahgunaan alcohol,obat atau zat lainny, masalah perkawinan, pesta makan dan perilaku melukai diri sendiri.
3. Gejala emosi : Frustasi, kemarahan, depresi atau kecemasan, gugup, bosan dan apatis
4. Gejala Kognitif : mudah lupa, preokupasi dan kesulitan konsentrasi, ragu-ragu, kehilangan produktivitas, khawatir yang berlebihan, kehilangan kreativitas dan kehilangan selera humor.
KASUS :
Berdasarkan wawancara peneliti kepada beberapa perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan, mereka sering mengalami beberapa gejala stres merasa kerja yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka seperti: mudah marah, sulit berkonsentrasi pada pekerjaan, merasa lelah dan malas bekerja. Kebanyakan perawat IRD mengalami stres karena memberikan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera yang memberikan pelayanan 24 jam. Hal ini didukung dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, beban kerja perawat yang tinggi, jam kerja yang minimal, tuntutan pelayanan menjadi perawat professional, sedangkan jumlah perawat pada setiap shifnya sangat minimal. Hal ini disebabkan karena profesi perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling tinggi intensitas interaksinya dengan pasien dan sering berhadapan dengan situasi yang dapat menyebabkan terjadinya stres kerja.
4. PENYEBAB STRES PERAWAT DI RS
Setiap orang mempunyai reaksi dan cara yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi yang sama. Berikut ini akan dijelaskan beberapa penyebab umum stres:
1. Penyebab Fisik
a) Kebisingan. Kebisingan yang terus-menerus dapat menjadi sumber stres bagi banyak orang. Namun perlu diketahui bahwa terlalu tenang juga dapat menyebabkan hal yang sama.
b) Kelelahan. Masalah kelelahan ini dapat menyebabkan stres karena kemampuan untuk bekerja menurun. Kemampuan bekerja menurun menyebabkan prestasi menurun dan tanpa disadari menimbulkan stres.
c) Penggeseran kerja. Mengubah pola kerja yang terus-menerus dapat menimbulkan stress. Hal ini disebabkan karena seorang karyawan sudah terbiasa dengan pola kerja yang lama dan sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan lama.
d) Jet-lag. Jet-lag adalah jenis kelelahan khusus yang disebabkan oleh perubahan waktu sehingga mempengaruhi irama tubuh seseorang.
e) Suhu dan kelembaban. Bekerja dalam ruangan yang suhunya terlalu tinggi dapat mempengaruhi tingkat prestasi karyawan. Suhu yang tinggi harus dapat ditoleransi dengan kelembaban yang rendah.
2. Beban Kerja
Beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabkan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres. Hal ini bisa disebabkan oleh tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan kerja mungkin terlalu tinggi, volume kerja mungkin terlalu banyak dan sebagainya.
3. Sifat Pekerjaan
a) Situasi baru dan asing. Menghadapi situasi baru dan asing dalam pekerjaan atau organisasi, seseorang akan merasa sangat tertekan sehingga dapat menimbulkan stres.
b) Ancaman pribadi. Suatu tingkat kontrol (pengawasan) yang terlalu ketat dari atasan menyebabkan seseorang merasa terancam kebebasannya.
c) Percepatan. Stres bisa terjadi apabila ketidakmampuan seseorang untuk memacu pekerjaan.
d) Ambiguitas. Kurangnya kejelasan terhadap apa yang harus dikerjakan (dwi arti), akan menimbulkan kebingungan dan keraguan bagi seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
e) Umpan balik. Standar kerja yang tidak jelas dapat membuat karyawan tidak puas karena mereka tidak pernah tahu prestasi mereka. Disamping itu, standar kerja tidak jelas juga dapat dipergunakan untuk menekan karyawan.
4. Kebebasan
Kebebasan yang diberikan kepada karyawan belum tentu merupakan hal yang menyenangkan. Ada sebagian karyawan justru dengan adanya kebebasan membuat mereka merasa ketidakpastian dan ketidakmampuan dalam bertindak. Hal ini dapat merupakan sumber stres bagi seseorang.
5. Kesulitan
Kesulitan-kesulitan yang dialami dirumah, seperti ketidakcocokan suami-istri, masalah keuangan, perceraian dapat mempengaruhi prestasi seseorang dan merupakan sumber stres bagi seseorang.
Berdasarkan penelitian Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005) bahwa terdapat 78,8% perawat melaksanakan tugas kebersihan, 63,6% melakukan tugas administrasi dan lebih dari 90% melakukan tugas non keperawatan misalnya membuat resep, menetapkan diagnose penyakit dan melakukan tindakan pengobatan dan hanya 50% yang melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsinya. Survey di Perancis (Levin, 2004) ditemukan bahwa persentase kejadian stres sekitar 74% dialami perawat.Perawat mengeluh terhadap lingkungan kerjanya yang menuntut kekuatan fisik danketrampilan. Sedangkan di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Persatuan Perawat Indonesia (2006) perawat mengalami stres kerja menyatakan keluhan sering merasa pusing, lelah, tidak ada istirahat, yang antara lain dikarenakan beban kerja yang terlalu tinggi dan pekerjaan yang menyita waktu.
5. CARA MENCEGAH DAN TEKNIK PENGURANGAN STRES
1. Relaksasi Otot
Sebutan persamaan yang umum dari berbagai teknik relaksasi otot adalah pernafasan yang lambat dan dalam suatu usaha yang sadar untuk memulihkan ketegangan otot.Diantara berbagai teknik yang tersedia, relaksasi progresif kontinjensi adalah yang paling sering digunakan.Tehnik ini terdiri atas menenangkan dan mengendurkan otot secara berulang-ulang yang diawali dari kaki dan terus meningkat ke muka.Relaksasi dicapai dengan berkonsentrasi pada kehangatan dan ketenangan yang berkaitan dengan otot yang dirileksasikan.
2. Bio feedback
Dalam bio feedback, perubahan kecil yang muncul dalam tubuh atau otak di deteksi, di perkuat dan di tunjukkan kepada orang tersebut. Peran potensial dari biofeedback sebagai teknik manajemen stress individu dapat di lihat dari fungsi tubuh hingga tekanan tertentu yang di kendalikan secara sukarela atau sadar. Potensi biofeedback adalah kemampuannya untuk membantu relaksasi dan mempertahankan fungsi tubuh pada keadaan nonstress. Salah satu keunggulan tehnik biofeedback di bandingkan dengan tehnik nonbiofeedback adalah bahwa tehnik ini memberikan data yang tepat mengenai fungsi tubuh. Pelatihan biofeedback telah bermanfaat dalam mengurangi kegelisahan, menurunkan keasaman lambung, mengendalikan tekanan dan migren, dan secara umum mengurangi manifestasi fisiologis negative dari stress.
3. Meditasi
Meditasi mengaktifkan suatu respons relaksasi dengan mengarahkan ulang pemikiran seseorang jauh dari dirinya sendiri. Respon relaksasi adalah kebalikan fisiologis dan psikologis dari respons stress berperang atau lari. Herbert benson menganalisis banyak program meditasi dan mendapatkan suatu respons relaksasi empat langkah. Keempat langkah tersebut adalah :
· Menemukan suatu lingkungan yang tenang.
· Menggunakan suatu perangkat mental seperti suatu kata tang penuh dengan kesan yang menyenangkan untuk mengubah fikiran dari pikiran yang berorientasi secara eksternal.
· Mengabaikan pemikiran yang mengganggu dengan bersandar pada suatu sikap yang pasif.
· Mengasumsikan suatu posisi yang nyaman
Maharishi Mahes Yogi mendefinisikan meditasi transcendental sebagai mengalihkan perhatian ke tingkat pemikiran yang lebih dalam hingga masuk ke tingkat pemikiran yang paling dalam dan mencapai sumber dari pemikiran. Tidak semua orang yang bermeditasi mengalami hasil yang positif, akan tetapi sejumlah besar orang melaporkan meditasi sebagai hal yang efektif dalam mengelola stress.
4. Restrukturisasi kognitif
restrukturisasi kognitif, adalah respons seseorang terhadap stressor menggunakan sarana proses kognitif, atau pemikiran. Asumsi dasar dari teknik ini adalah bahwa pikiran orang dalam bentuk ekspektasi, keyakinan dan asumsi merupakan label yang mereka terapkan pada situasi, dan label ini menimbulkan respons emosional terhadap situasi.
Selain teknik pengurangan stres di atas ada beberapa kiat lagi yang dapat digunakan. Agar stres tidak berkelanjutan, adapun beberapa kiat yang di kemukakan oleh Alex:
1) Sediakan waktu rileks
2) Bersikap lebih asertif
3) Bekerja lebih efisie
4) Tingkatkan energi dengan tidur
5) Atur lingkungan kerja
6) Kembangkan pola hidup sehat
7) Tingkatkan ketrampilan
8) Lupakan pekerjaan saat libur
9) Pekerjaan bukan segalanya

6. STRATEGI MANAJEMEN STRES
Manajemen stres lebih dari pada sekadar mengatasinya, yakni belajar menanggu langinya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Memanajemen stres berarti membuat perubahan dalam cara anda berpikir dan merasa, dalam cara anda berperilaku d an sangat mungkin dalam lingkungan anda. Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi:
1. Taktik yang bersifat personal, yakni strategi yang dikembangkan secara pribadi atau individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
a. Melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif.
Artinya, jika seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para karyawan tersebut seharusnya time out terlebih dahulu. Cara time out ini bisa macam-macam, seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja; keluar ke ruang istirahat (jika menyediakan); pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh muka dengan air dingin atau berwudhu bagi orang Islam; dan sebagainya. Atau, melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa mengendorkan ketegangan, seperti bercanda dengan teman sekerja, mendengarkan musik, nonton televisi.
b. Melakukan relaksasi dan meditasi.
Kegiatan relaksasi dan meditasi ini bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari-hari libur kerja. Dengan melakukan relaksasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan begitu, karyawan yang melakukan relaksasi diharapkan dapat mentransfer kemampuan dalam membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Lebih jauh, jika para karyawan sudah mampu mentransfer perasaan rileks ke situasi stres di perusahaan, mereka mampu beradaptasi dengan perasaan-perasaan semacam itu. Dengan melakukan meditasi, para karyawan dapat memanfaatkan media meditasi itu untuk mendapatkan posisi yang pas dan enak. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang mengganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa atau mantra yang dipercayai. Perlu diingat, dalam meditasi, posisi atau postur tubuh tertentu sangat diperlukan agar diperoleh kenyamanan dan memudahkan melakukan hubungan transendental.
c. Melakukan diet dan fitnes
Beberapa cara yang bisa ditempuh adalah mengurangi masukan atau konsumsi garam dan makanan mengandung lemak; memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, dan semacamnya; dan banyak melakukan olah raga, seperti lari secara rutin, tenis, bulu tangkis, dan sebagainya (Baron dan Greenberg, 1997).
2. Strategi berdasarkan organisasi
Manajemen stres melalui strategi organisasi dapat dilakukan dengan:
a. Melakukan perubahan fungsi dan struktur organisasi, seperti melakukan desentralisasi. Desentralisasi ini dapat mengurangi stres pada pegawai karena para pegawai dapat berpartisipasi lebih banyak dan secara aktif dalam proses pengambilan atau pembuatan keputusan, khususnya keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan bidang mereka.
b. Melakukan perubahan pada pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sifat bisa bersumber dari perasaan bosan karena melakukan pekerjaan berulang-ulang. Karyawan yang melakukan pekerjaan yang sama dalam waktu lama akan bosan dan merasa tidak ada tantangan baru. Untuk itu, perlu perubahan pekerjaan, misalnya melakukan pengayaan pekerjaan (usaha untuk mengembangkan/memperbanyak skope pekerjaan) atau melakukan pembatasan perpindahan kerja ke tempat-tempat yang tidak disukai karyawan.
c. Melakukan program kesegaran jasmani bersama, tentu saja yang dikelola secara resmi oleh pihak perusahaan, seperti lari bersama, dan sebagainya.
3. Strategi dukungan sosial
Untuk mengurangi stres kerja, dibutuhkan dukungan sosial terutama orang terdekat, seperti keluarga, teman sekerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh seperti dikat akan Landy (1999:625-627) dan Lieberman (Goldberger dan Breznitz, 1994:764 -783). Karyawan dapat mengajak berbicara orang lain tentang masalah yang dihadapi, atau setidaknya ada tempat mengadu atas keluh kesahnya (Minner, 1992:163).
REFERENSI
Boswick, A, J. (2012).Perawatan GawatDarurat. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Cohen, S. (2015). Dr. Cohen’s Scales.(Online). Tersedia: http://www.psy.cmu.edu/~scohen/scales.html (8 Desember 2017 pukul 09.55 WIB).
Dadang Hawari, Manajemen Stres, Cemas dan Depresi, Gaya Baru, Jakarta, 2006. Depnakertrans.(2010). Workshop ASEANOSHNET untuk Keselamatan dan KesehatanKerja.(http://menteri.depnakertrans.go.id/?show=news&news_id=497. Diakses tanggal 12 Desember 2014).
Kasmarani, Murni. (2012). Pengaruh beban kerjs fisik dan mental terhadap stres kerja perawat di Instalasi gawat darurat RSUP.Cianjur.Jurnal kesehatanmasyarakat volume 1, Nomer 2,Tahun 2012, hal 767-776.Diponogoro : Fakultas kesehatanmasyarakat (http://ejournals1.undip.ac.id/indek.php/jkm diakses 2 September 2017).
Nature, types and sours of stres diunduh di http//www.onestopias.com/tutorials/psychology/stress. Pada hari senin tanggal 04 September 2017 jam 11.00.pada tanggal 1 September 2017)
Prihatini L, D. (2007). Anaslisa Hubungan Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat di Tiap Ruangan Rawat Inap RSUP.Sidikalang. MedanPSIK Universitas Sam-Ratulangi (2013).Panduan Penelitian Tugas Akhir Proposal dan Skripsi.
Rasmus.(2004). Stres, Koping dan Adaptasi teori dan pohon masalah keperawatan, Ed. Pertama.Jakarta :Sagung Seto.ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 3 Nomor 3 Agustus 2015
Revalicha, Selvia. (2013). Jurnal Perbedaan Stres Kerja ditinjau dari Shift Kerja pada Perawat di RSUP.Dr. Soetomo Surabaya(www.journal.unair.ac.id) Diakses pada tanggal 1 September 2017)
Supardi, (2007).Analisa Stres kerja Pada Kondisi Kerja dan Beban Kerja Perawat Dalam Klasifikasi pasien diRuang Rawat InapRUMKI TK IIPutri Hijau Kedam I / BB Medan.
Widyastuti, Palupi. (2007). Manajemen Stress Dengan Beban Kerja.Jakarta :EGC
Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.

DESY SISWI ANJAR SARI08 December 2017

"MANAJEMEN STRES"
DESY SISWI ANJAR SARI
NIM; 131614153039
FASILITATOR : Dr. Ah. Yusuf., S.Kp., M.Kes
“RESUM MANAJEMEN STRES PERAWAT DI RS”
1. DEFINISI STRES
Sarafino (2008) mendefinisikan stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres adalah tekanan internal maupun eksternal serta kondisi bermasalah lainnya dalam kehidupan (aninternal and eksternal pressure and other troublesome condition in life). Ardani (2007) mendefinisikan stress merupakan suatu keadaan tertekan baik itu secara fisik maupun psikologis.
2. TEORI STRES
Teori stres terus berkembang dari masa ke masa, tetapi secara funda-mental teori stres hanya digolongkan atas tiga pendekatan. Tiga pendekatan teori stres tersebut adalah: (1) stres model stimulus (rangsangan), (2) stres model response (respons), dan (3) stres model transactional (transaksional) (Bartlett, 1998; Lyon, 2012).
Lazarus (1976) berpendapat Stress terjadi jika seseorang mengalami tuntutan yang melampaui sumber daya yang dimilikinya untuk melakukan penyesuaian diri, hal ini berarti bahwa kodisi stress terjadi jika terdapat kesenjangan atau ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan.. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam 2 bentuk, yakni :
1. Tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan biologis. Berupa kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan kepuasan yang ada pada diri individu
2. Tuntutan eksternal yang muncul dalam bentuk fisik dan sosial. Tuntutan eksternal dapat merefleksikan aspek-aspek yang berbeda dari pekerjaan seseorang, seperti tugas-tugas yang diberikan dan bagaimana cara menyelesaikan tugas tersebut, lingkungan fisik, lingkungan psikososial dan kegiatan-kegiatan di luar lingkungan kerja.

3. PSIKOPATOLOGI STRES
Respon Psikologis Stres
Reaksi psikologis terhadap stres dapat meliputi, (Sarafino, 1994) :
1. Kognisi
Stres dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif. Stresor berupa kebisingan dapat menyebabkan defisit kognitif pada anak-anak. Kognisi juga dapat berpengaruh dalam stres.
2. Emosi
Emosi cenderung terkait dengan stres. Individu sering menggunakan keadaan emosionalnya untuk mengevaluasi stres. Proses penilaian kognitif dapat mempengaruhi stres dan pengalaman emosional. Reaksi emosional terhadap stres yaitu rasa takut, fobia, kecemasan, depresi, perasaan sedih dan rasa marah.
3. Perilaku Sosial
Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Individu dapat berperilaku menjadi positif maupun negatif. Bencana alam dapat membuat individu berperilaku lebih kooperatif, dalam situasi lain, individu dapat mengembangkan sikap bermusuhan. Stres yang diikuti dengan rasa
GEJALA PSIKOPATOLOGI
Apabila seseorang mengalami stress,akan memberikan gejala :
1. Gejala Fisik : Ketegangan otot terutama leher dan pundak, sakit kepala, sakit perut, mual, muntah, diare atau konstipasi, lelah atau sulit tidut, detak jantung cepat, berkeringat banyak, kehilangan atau kelebihan berat badan, mengatupkan gigi, mengigit gigi, perubahan pernafasan, keinginan seks berkurang.
2. Gejala perilaku : penyalahgunaan alcohol,obat atau zat lainny, masalah perkawinan, pesta makan dan perilaku melukai diri sendiri.
3. Gejala emosi : Frustasi, kemarahan, depresi atau kecemasan, gugup, bosan dan apatis
4. Gejala Kognitif : mudah lupa, preokupasi dan kesulitan konsentrasi, ragu-ragu, kehilangan produktivitas, khawatir yang berlebihan, kehilangan kreativitas dan kehilangan selera humor.
KASUS :
Berdasarkan wawancara peneliti kepada beberapa perawat yang bekerja di Instalasi Rawat Darurat RSUD dr. Sayidiman Magetan, mereka sering mengalami beberapa gejala stres merasa kerja yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka seperti: mudah marah, sulit berkonsentrasi pada pekerjaan, merasa lelah dan malas bekerja. Kebanyakan perawat IRD mengalami stres karena memberikan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera yang memberikan pelayanan 24 jam. Hal ini didukung dengan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, beban kerja perawat yang tinggi, jam kerja yang minimal, tuntutan pelayanan menjadi perawat professional, sedangkan jumlah perawat pada setiap shifnya sangat minimal. Hal ini disebabkan karena profesi perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling tinggi intensitas interaksinya dengan pasien dan sering berhadapan dengan situasi yang dapat menyebabkan terjadinya stres kerja.
4. PENYEBAB STRES PERAWAT DI RS
Setiap orang mempunyai reaksi dan cara yang berbeda dalam menghadapi suatu situasi yang sama. Berikut ini akan dijelaskan beberapa penyebab umum stres:
1. Penyebab Fisik
a) Kebisingan. Kebisingan yang terus-menerus dapat menjadi sumber stres bagi banyak orang. Namun perlu diketahui bahwa terlalu tenang juga dapat menyebabkan hal yang sama.
b) Kelelahan. Masalah kelelahan ini dapat menyebabkan stres karena kemampuan untuk bekerja menurun. Kemampuan bekerja menurun menyebabkan prestasi menurun dan tanpa disadari menimbulkan stres.
c) Penggeseran kerja. Mengubah pola kerja yang terus-menerus dapat menimbulkan stress. Hal ini disebabkan karena seorang karyawan sudah terbiasa dengan pola kerja yang lama dan sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan lama.
d) Jet-lag. Jet-lag adalah jenis kelelahan khusus yang disebabkan oleh perubahan waktu sehingga mempengaruhi irama tubuh seseorang.
e) Suhu dan kelembaban. Bekerja dalam ruangan yang suhunya terlalu tinggi dapat mempengaruhi tingkat prestasi karyawan. Suhu yang tinggi harus dapat ditoleransi dengan kelembaban yang rendah.
2. Beban Kerja
Beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabkan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres. Hal ini bisa disebabkan oleh tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan kerja mungkin terlalu tinggi, volume kerja mungkin terlalu banyak dan sebagainya.
3. Sifat Pekerjaan
a) Situasi baru dan asing. Menghadapi situasi baru dan asing dalam pekerjaan atau organisasi, seseorang akan merasa sangat tertekan sehingga dapat menimbulkan stres.
b) Ancaman pribadi. Suatu tingkat kontrol (pengawasan) yang terlalu ketat dari atasan menyebabkan seseorang merasa terancam kebebasannya.
c) Percepatan. Stres bisa terjadi apabila ketidakmampuan seseorang untuk memacu pekerjaan.
d) Ambiguitas. Kurangnya kejelasan terhadap apa yang harus dikerjakan (dwi arti), akan menimbulkan kebingungan dan keraguan bagi seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
e) Umpan balik. Standar kerja yang tidak jelas dapat membuat karyawan tidak puas karena mereka tidak pernah tahu prestasi mereka. Disamping itu, standar kerja tidak jelas juga dapat dipergunakan untuk menekan karyawan.
4. Kebebasan
Kebebasan yang diberikan kepada karyawan belum tentu merupakan hal yang menyenangkan. Ada sebagian karyawan justru dengan adanya kebebasan membuat mereka merasa ketidakpastian dan ketidakmampuan dalam bertindak. Hal ini dapat merupakan sumber stres bagi seseorang.
5. Kesulitan
Kesulitan-kesulitan yang dialami dirumah, seperti ketidakcocokan suami-istri, masalah keuangan, perceraian dapat mempengaruhi prestasi seseorang dan merupakan sumber stres bagi seseorang.
Berdasarkan penelitian Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005) bahwa terdapat 78,8% perawat melaksanakan tugas kebersihan, 63,6% melakukan tugas administrasi dan lebih dari 90% melakukan tugas non keperawatan misalnya membuat resep, menetapkan diagnose penyakit dan melakukan tindakan pengobatan dan hanya 50% yang melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsinya. Survey di Perancis (Levin, 2004) ditemukan bahwa persentase kejadian stres sekitar 74% dialami perawat.Perawat mengeluh terhadap lingkungan kerjanya yang menuntut kekuatan fisik danketrampilan. Sedangkan di Indonesia menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Persatuan Perawat Indonesia (2006) perawat mengalami stres kerja menyatakan keluhan sering merasa pusing, lelah, tidak ada istirahat, yang antara lain dikarenakan beban kerja yang terlalu tinggi dan pekerjaan yang menyita waktu.
5. CARA MENCEGAH DAN TEKNIK PENGURANGAN STRES
1. Relaksasi Otot
Sebutan persamaan yang umum dari berbagai teknik relaksasi otot adalah pernafasan yang lambat dan dalam suatu usaha yang sadar untuk memulihkan ketegangan otot.Diantara berbagai teknik yang tersedia, relaksasi progresif kontinjensi adalah yang paling sering digunakan.Tehnik ini terdiri atas menenangkan dan mengendurkan otot secara berulang-ulang yang diawali dari kaki dan terus meningkat ke muka.Relaksasi dicapai dengan berkonsentrasi pada kehangatan dan ketenangan yang berkaitan dengan otot yang dirileksasikan.
2. Bio feedback
Dalam bio feedback, perubahan kecil yang muncul dalam tubuh atau otak di deteksi, di perkuat dan di tunjukkan kepada orang tersebut. Peran potensial dari biofeedback sebagai teknik manajemen stress individu dapat di lihat dari fungsi tubuh hingga tekanan tertentu yang di kendalikan secara sukarela atau sadar. Potensi biofeedback adalah kemampuannya untuk membantu relaksasi dan mempertahankan fungsi tubuh pada keadaan nonstress. Salah satu keunggulan tehnik biofeedback di bandingkan dengan tehnik nonbiofeedback adalah bahwa tehnik ini memberikan data yang tepat mengenai fungsi tubuh. Pelatihan biofeedback telah bermanfaat dalam mengurangi kegelisahan, menurunkan keasaman lambung, mengendalikan tekanan dan migren, dan secara umum mengurangi manifestasi fisiologis negative dari stress.
3. Meditasi
Meditasi mengaktifkan suatu respons relaksasi dengan mengarahkan ulang pemikiran seseorang jauh dari dirinya sendiri. Respon relaksasi adalah kebalikan fisiologis dan psikologis dari respons stress berperang atau lari. Herbert benson menganalisis banyak program meditasi dan mendapatkan suatu respons relaksasi empat langkah. Keempat langkah tersebut adalah :
· Menemukan suatu lingkungan yang tenang.
· Menggunakan suatu perangkat mental seperti suatu kata tang penuh dengan kesan yang menyenangkan untuk mengubah fikiran dari pikiran yang berorientasi secara eksternal.
· Mengabaikan pemikiran yang mengganggu dengan bersandar pada suatu sikap yang pasif.
· Mengasumsikan suatu posisi yang nyaman
Maharishi Mahes Yogi mendefinisikan meditasi transcendental sebagai mengalihkan perhatian ke tingkat pemikiran yang lebih dalam hingga masuk ke tingkat pemikiran yang paling dalam dan mencapai sumber dari pemikiran. Tidak semua orang yang bermeditasi mengalami hasil yang positif, akan tetapi sejumlah besar orang melaporkan meditasi sebagai hal yang efektif dalam mengelola stress.
4. Restrukturisasi kognitif
restrukturisasi kognitif, adalah respons seseorang terhadap stressor menggunakan sarana proses kognitif, atau pemikiran. Asumsi dasar dari teknik ini adalah bahwa pikiran orang dalam bentuk ekspektasi, keyakinan dan asumsi merupakan label yang mereka terapkan pada situasi, dan label ini menimbulkan respons emosional terhadap situasi.
Selain teknik pengurangan stres di atas ada beberapa kiat lagi yang dapat digunakan. Agar stres tidak berkelanjutan, adapun beberapa kiat yang di kemukakan oleh Alex:
1) Sediakan waktu rileks
2) Bersikap lebih asertif
3) Bekerja lebih efisie
4) Tingkatkan energi dengan tidur
5) Atur lingkungan kerja
6) Kembangkan pola hidup sehat
7) Tingkatkan ketrampilan
8) Lupakan pekerjaan saat libur
9) Pekerjaan bukan segalanya

6. STRATEGI MANAJEMEN STRES
Manajemen stres lebih dari pada sekadar mengatasinya, yakni belajar menanggu langinya secara adaptif dan efektif. Hampir sama pentingnya untuk mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dicoba. Memanajemen stres berarti membuat perubahan dalam cara anda berpikir dan merasa, dalam cara anda berperilaku d an sangat mungkin dalam lingkungan anda. Secara umum strategi manajemen stres kerja dapat dikelompokkan menjadi:
1. Taktik yang bersifat personal, yakni strategi yang dikembangkan secara pribadi atau individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
a. Melakukan perubahan reaksi perilaku atau perubahan reaksi kognitif.
Artinya, jika seorang karyawan merasa dirinya ada kenaikan ketegangan, para karyawan tersebut seharusnya time out terlebih dahulu. Cara time out ini bisa macam-macam, seperti istirahat sejenak namun masih dalam ruangan kerja; keluar ke ruang istirahat (jika menyediakan); pergi sebentar ke kamar kecil untuk membasuh muka dengan air dingin atau berwudhu bagi orang Islam; dan sebagainya. Atau, melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bisa mengendorkan ketegangan, seperti bercanda dengan teman sekerja, mendengarkan musik, nonton televisi.
b. Melakukan relaksasi dan meditasi.
Kegiatan relaksasi dan meditasi ini bisa dilakukan di rumah pada malam hari atau hari-hari libur kerja. Dengan melakukan relaksasi, karyawan dapat membangkitkan perasaan rileks dan nyaman. Dengan begitu, karyawan yang melakukan relaksasi diharapkan dapat mentransfer kemampuan dalam membangkitkan perasaan rileks ke dalam perusahaan di mana mereka mengalami situasi stres. Lebih jauh, jika para karyawan sudah mampu mentransfer perasaan rileks ke situasi stres di perusahaan, mereka mampu beradaptasi dengan perasaan-perasaan semacam itu. Dengan melakukan meditasi, para karyawan dapat memanfaatkan media meditasi itu untuk mendapatkan posisi yang pas dan enak. Beberapa cara meditasi yang biasa dilakukan adalah dengan menutup atau memejamkan mata, menghilangkan pikiran yang mengganggu, kemudian perlahan-lahan mengucapkan doa atau mantra yang dipercayai. Perlu diingat, dalam meditasi, posisi atau postur tubuh tertentu sangat diperlukan agar diperoleh kenyamanan dan memudahkan melakukan hubungan transendental.
c. Melakukan diet dan fitnes
Beberapa cara yang bisa ditempuh adalah mengurangi masukan atau konsumsi garam dan makanan mengandung lemak; memperbanyak konsumsi makanan yang bervitamin seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, dan semacamnya; dan banyak melakukan olah raga, seperti lari secara rutin, tenis, bulu tangkis, dan sebagainya (Baron dan Greenberg, 1997).
2. Strategi berdasarkan organisasi
Manajemen stres melalui strategi organisasi dapat dilakukan dengan:
a. Melakukan perubahan fungsi dan struktur organisasi, seperti melakukan desentralisasi. Desentralisasi ini dapat mengurangi stres pada pegawai karena para pegawai dapat berpartisipasi lebih banyak dan secara aktif dalam proses pengambilan atau pembuatan keputusan, khususnya keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan dan bidang mereka.
b. Melakukan perubahan pada pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sifat bisa bersumber dari perasaan bosan karena melakukan pekerjaan berulang-ulang. Karyawan yang melakukan pekerjaan yang sama dalam waktu lama akan bosan dan merasa tidak ada tantangan baru. Untuk itu, perlu perubahan pekerjaan, misalnya melakukan pengayaan pekerjaan (usaha untuk mengembangkan/memperbanyak skope pekerjaan) atau melakukan pembatasan perpindahan kerja ke tempat-tempat yang tidak disukai karyawan.
c. Melakukan program kesegaran jasmani bersama, tentu saja yang dikelola secara resmi oleh pihak perusahaan, seperti lari bersama, dan sebagainya.
3. Strategi dukungan sosial
Untuk mengurangi stres kerja, dibutuhkan dukungan sosial terutama orang terdekat, seperti keluarga, teman sekerja, pemimpin atau orang lain. Agar diperoleh dukungan maksimal, dibutuhkan komunikasi yang baik pada semua pihak, sehingga dukungan sosial dapat diperoleh seperti dikat akan Landy (1999:625-627) dan Lieberman (Goldberger dan Breznitz, 1994:764 -783). Karyawan dapat mengajak berbicara orang lain tentang masalah yang dihadapi, atau setidaknya ada tempat mengadu atas keluh kesahnya (Minner, 1992:163).
REFERENSI
Boswick, A, J. (2012).Perawatan GawatDarurat. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Cohen, S. (2015). Dr. Cohen’s Scales.(Online). Tersedia: http://www.psy.cmu.edu/~scohen/scales.html (8 Desember 2017 pukul 09.55 WIB).
Dadang Hawari, Manajemen Stres, Cemas dan Depresi, Gaya Baru, Jakarta, 2006. Depnakertrans.(2010). Workshop ASEANOSHNET untuk Keselamatan dan KesehatanKerja.(http://menteri.depnakertrans.go.id/?show=news&news_id=497. Diakses tanggal 12 Desember 2014).
Kasmarani, Murni. (2012). Pengaruh beban kerjs fisik dan mental terhadap stres kerja perawat di Instalasi gawat darurat RSUP.Cianjur.Jurnal kesehatanmasyarakat volume 1, Nomer 2,Tahun 2012, hal 767-776.Diponogoro : Fakultas kesehatanmasyarakat (http://ejournals1.undip.ac.id/indek.php/jkm diakses 2 September 2017).
Nature, types and sours of stres diunduh di http//www.onestopias.com/tutorials/psychology/stress. Pada hari senin tanggal 04 September 2017 jam 11.00.pada tanggal 1 September 2017)
Prihatini L, D. (2007). Anaslisa Hubungan Beban Kerja Dengan Stres Kerja Perawat di Tiap Ruangan Rawat Inap RSUP.Sidikalang. MedanPSIK Universitas Sam-Ratulangi (2013).Panduan Penelitian Tugas Akhir Proposal dan Skripsi.
Rasmus.(2004). Stres, Koping dan Adaptasi teori dan pohon masalah keperawatan, Ed. Pertama.Jakarta :Sagung Seto.ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 3 Nomor 3 Agustus 2015
Revalicha, Selvia. (2013). Jurnal Perbedaan Stres Kerja ditinjau dari Shift Kerja pada Perawat di RSUP.Dr. Soetomo Surabaya(www.journal.unair.ac.id) Diakses pada tanggal 1 September 2017)
Supardi, (2007).Analisa Stres kerja Pada Kondisi Kerja dan Beban Kerja Perawat Dalam Klasifikasi pasien diRuang Rawat InapRUMKI TK IIPutri Hijau Kedam I / BB Medan.
Widyastuti, Palupi. (2007). Manajemen Stress Dengan Beban Kerja.Jakarta :EGC
Yosep, I. (2009). Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.

soliha09 December 2017

Mahasiswa berada pada periode kritis dimana mereka akan memasuki masa dewasa. Mereka diharapkan menjadi contoh di dalam masyarakat. Jadi, mereka harus meningkatkan kemampuan manajemen stress mereka sehingga mereka siap untuk hidup sehat setelah memasuki masyaraka. Mastura (2007) dalam Kandasamy (2010) menyatakan bahwa mahasiswa merupakan golongan yang mudah terpapar stres dalam melaksanakan tangggung jawab dan peranan mereka di universitas. Faktor yang menyebabkan seorang mahasiswa mengalami stres seperti lingkungan, akademik, persaingan, hubungan interpersonal dan cara pemikiran juga bisa menyebabkan stres pada mahasiswa. Umumnya, stres pada mahasiswa dialami dalam berbagai keadaan seperti rasa kesunyian, kurang tidur, keresahan, kebimbangan yang tinggi serta gejala-gejala fisiologi yang ditunjukkan kesan daripada sesuatu peristiwa yang dialami (Wright, 1967 dalam Kandasamy, 2010). Oleh karena itu, stress bisa menyebabkan kehidupan dan pergaulan seharian seorang mahasiswa terjejas sehingga memberi dampak negatif terhadap tahap kesehatan, kepribadian, interaksi sosial dan pencapaian akademik. Mindfulless merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan stress pada mahasiswa. mindfulness berbeda dengan metode pengurangan stress yang lain. mindfulness melakukan pendekatan dengan cara menekankan pada pengalaman pribadi seseorang daripada teknik belajarnya. Program mindfulness telah dipelajari banyak kalangan, dan mindfulness memanfaatkan hubungan antara pikiran dan tubuh seseorang. Praktik mindfulness membuat seseorang akan meningkat kewaspadaannya, mengurangi rasa menghakimi terhadap peristiwa atau kejadian yang telah terjadi secara bertahap. Mindfulness meditation merupakan sebuah metode yang dapat memperbaiki kemampuan mengatasi masalah untuk meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi stress, dan memperbaiki mood pada mahasiswa keperawatan(Spadaro & Hunker, 2016).
Menurut pendapat saya mindffullness formal lebih efektif untuk di terapkan pada mahasiswa. Pada mindfullness ini mahasiswa di jadwalkan untuk mengikuti terapi mindfullness meditasi sesuai program baik secara mandiri ataupun berkelompok. Fase menjadi mahasiswa adalah tahapan yang memiliki kebutuhan sosial yang meningkat, sehingga jika tidak di jadwalkan maka mereka akan lebih banyak bergaul dengan teman-teman nya untuk kegiatan di luar akademik. Yang perlu diperhatikan adalah tingkat kemampuan individu tersebut untuk memusatkan perhatian atau berkonsentrasi dalam mengelola pikirannya tersebut selama proses meditasi. Semakin tinggi tingkat konsentrasi individu tersebut, maka hasil yang baik pun akan di dapatkan.

Aulia Rahman09 December 2017

Resume Materi Manajemen Stres
1. Pengertian Stres
Menurut Richard (2010) stres adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, ataupun membahayakan, dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif, dan perilaku. Peristiwa yang memunculkan stres dapat saja positif (misalnya: merencanakan perkawinan) atau negatif (contoh: kematian keluarga).
2. Teori Stres
a.Stres model stimulus (rangsangan)
b.Stres model response (respon)
c.Stres model transactional (transaksional) (Bartlett, 1998; Lyon, 2012).
3. Psikopatologi Stres
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah psikopatologi memiliki arti sebagai sesuatu bagian psikologi yang menjadikan gejala kejiwaan sebagai objeknya.
4.Klasifikasi Stres
a.Stres akut (Acute stress)
b.Stres kronis (Chronic stress)
5.Bentuk Stres
Menurut Selye dalam Griffin (2013):
a.Sindrom adaptasi umum
b.Distress dan Eustress
6.Penyebab Stres
a.Faktor predisposisi: biologi, psikologis, sosiokultural
b.Faktor presipitasi: stressfull dan ketegangan hidup

Komentar untuk SGD:
Metode psikodrama secara psikis pada individu yang di bullying?
Metode psikodrama merupakan permainan peranan yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep pada dirinya, menyatakan kebutuhannya-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya, menurut Corey (dalam Romlah, 2001).
Psikodrama merupakan upaya untuk menciptakan restrukturisasi internal disfungsional pola pikir dengan orang lain, dan menantang para peserta untuk menemukan jawaban baru untuk beberapa situasi dan menjadi lebih spontan dan mandiri (Wikipedia, 2009). Meskipun penerapan utama psikodrama secara tradisional sebagai bentuk psikoterapi kelompok, dan sering didapati bahwa psikodrama didefinisikan sebagai sebuah metode psikoterapi kelompok.
Psikodrama secara lebih akurat didefinisikan sebagai sebuah metode komunikasi di mana komunikator mengekspresikan dirinya sendiri dalam tindakan. Metode psikodramatis merupakan sumber penting dari permainan peran (role playing) banyak digunakan dalam bisnis dan industri. Psikodrama menawarkan pendekatan yang sangat kuat untuk mengajar dan belajar, serta hubungan timbal-balik pelatihan keterampilan. Teknik tindakan psikodrama juga menawarkan cara untuk menemukan dan mengkomunikasikan informasi tentang kegiatan dan situasi di mana komunikator telah terlibat (Wikipedia, 2009).
Tujuan dari psikodrama ini adalah membantu seorang individu atau sekelompok pasien untuk mengatasi masalah-masalah pribadi dengan cara menggunakan permainan peran, drama, atau terapi tindakan. Lewat cara ini individu di bantu untuk mengungkapkan perasaan tentang konflik, kemarahan, agresi, perasaan bersalah, dan kesedihan (Semiun, 2006).
Jacob Moreno berpendapat bahwa dalam teknik dramatik, manusia dapat berusaha menciptakan kembali suasana fisik dan emosional yang dikehendaki dan yang harus dipahami adalah bahwa keaktifan dalam psikodrama tidak dimonopoli oleh konselor atau terapis tetapi juga individunya sendiri. Sementara menurut Betary Maharani, Ada dua manfaat penting dalam psikodrama:
1.Manfaat kartasis atau melepaskan emosi.
2.Manfaat untuk bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
Dengan mendramatisasikan konflik-konflik batinnya, pasien dapat merasa sedikit lega dan dapat mengembangkan pemahaman (insight) baru yang memberinya kesanggupan untuk mengubah perannya dalam kehidupan yang nyata.

Terimakasih Pak Yusuf.

Nissa Aruming SIla09 December 2017

Nissa Aruming Sila
131614153007

Bagaimana Perawat dapat menurunkan stress dengan prilaku carring ?

berdasarkan diskusi kelompok kami : zaenal abidin, julvainda eka, alwan revai, gusti pandi liputo dan nissa aruming sila berikut paparan bagaimana menakanisme penurunan stress dengan caring perawat.


Caring merupakan suatu sikap yang peduli dengan kondisi pasien sehingga mendorong perawat untuk membantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya (Mulyaningsih, 2011).

Sikap perawat yang care akan membantu klien mengerti masalahnya sehingga dapat mengatasinya. Hal itu dilakukan dengan mengidentifikasi masalah dan penyebabnya bersama klien, menjelaskan kecenderungan yang terjadi, menjelaskan tujuan berbagai tindakan, dan bertanggung jawab atas asuhan klien. Sikap yan care juga meningkatkan kepercayaan klien dan mengurangi kecemasan klien. Kedua hal tersebut dapat memperkuat mekanisme koping klien sehingga memaksimalkan proses penyembuhan. Perawat yang caring juga akan menghargai klien dengan menunjukan komitemenya untuk mengerti, menerima klien, dan meningkatkan kemampuan klien untuk bertanggung jawab atas dirinya sehingga identitas diri klien meningkat.

Menurut teori Human Caring oleh Watson menegaskan bahwa caring merupakan intisari keperawatan dan mengandung arti responsive antara perawat dan klien.Caring dapat membantu seseorang lebih terkontrol, lebih berpengetahuan, dan dapat meningkatkan kesehatan (Asmadi, 2008).Perilaku caring terhadap pasien merupakan esensi keperawatan yang dapat memberi kontribusi positif terhadap kepuasan pasien dalam menerima pelayanan keperawatan (Abdul, 2010).

Watson melihat caring sebagai ideal dan etika keperawatan yang berdasarkan pada humanism dan hubungan interpersonal disamping menganggap caring suatu seni yang hidup, diekspresikan dan dikembangkan dalam tindakan caring (Yani, 2010). Transpersonal caring dinyatakan oleh Watson sebagai proses intersubjektif antara perawat dengan klien dimana caring sebagai interaktif dan intersubjektif yang terjadi antara pasien dengan perawat dimana mereka saling berbagi dan mengarahkan dalam suatu waktu (Yani, 2010).


Daftar Pustaka :
Asmadi., 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Rineka Cipta
Mulyaningsih., 2011. Hubungan Berpikir Kritis dengan Perilaku Caring Perawat Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Depok: Program Magister Ilmu Keperawatan FIK UI

Tantri Arini09 December 2017

1. Mindfulness pada mahasiswa
Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon (2015) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Manajemen stress dan program mindfulnesss yang dilakukan selama 7 minggu pada mahasiswa keperawatan dan kebidanan menunjukkan banyak manfaat dalam mengurangi stres. Online asynchronous mindfulnesss meditation selama 8 minggu dapat dijadikan sebagai upaya pengurangan stres pada mahasiswa keperawatan (Spadaro & Hunker, 2016). Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahu bahwa Mindfulness mempunyai pengaruh dalam menurunkan stres. Selain itu, mindfullnes dapat meningkatkan konsentrasi dan kejernihan pikiran, kebersamaan dan berkurangnya pikiran negatif (Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon, 2015). Pengaruh positif mindfulness terhadap kemampuan akademik terjadi melalui stabilitas mood, perbaikan kognisi, serta kemampuan untuk mengambil keputusan ketika kondisi menekan (Spadaro & Hunker, 2016). Mahasiswa merasakan dampak positif pada diri sendiri, akademis dan fungsi profesional meskipun mahasiswa tidak rutin mengikuti sesi mindfulnesss, dan mengerjakan penugasan (Riet, Rossiter, Kirby, Dluzewska, dan Harmon, 2015).

2. Efektifitas mindfulness formal dan informal
Mindfulness informal dilakukan dengan cara melakukan praktik meditasi (penerapan aktifitas sehari-hari yang dilakukan dengan keadaan sadar). Praktik mindfulness informal didesain agar seseorang bisa fokus pada aktifitas sehari-harinya. Aktifitas yang dilakukan hanya berkisar pada aktifitas sehari-hari dan hanya membutuhkan waktu yang singkat. Praktik mindfulness memberikan panduan dan cara agar seseorang bisa mengatasi keadaan yang tiba-tiba menimbulkan stress. Sedangkan mindfulness formal dilakukan dengan cara yang lebih rinci dan terjadwal, jadi seseorang membutuhkan waktu khusus dan buku catatan khusus untuk mengevaluai keberhasilan praktik mindfulness formal yang dilakukan. Efektifitas dari keduanya menunjukkan hal yang hampir sama, tergantung masing-masing individu yang memutuskan untuk memilih praktik mindfulness secara formal maupun informal, dan penggunaan kekuatan pikiran positif dari individu yang melakukan praktik mindfulness.
Kajian Pustaka
Riet, PVD; Rossiter, R; Kirby, D; Dluzewska, T; Harmon, C. (2015). Piloting a stress management and mindfulnesss program for undergraduate nursing students: Student feedback and lessons learned. Nurse Education Today 35 (2015) 44–49.
Spadaro, KC & Hunker, DF. (2016). Exploring The effects Of An online asynchronous mindfulnesss meditation intervention with nursing students On Stress, mood, And Cognition: A descriptive study. Nurse Education Today 39 (2016) 163–169

Esti Andarini13 December 2017

RESUME PERKULIAHAN MANAJEMEN STRESS
1.DEFINISI STRESS
Ivancevich (2001), mendefinisikan stres sebagai respon adaptif yang dimediasi oleh perbedaan individu dan proses psikologi yang merupakan konsekuensi dari keadaan eksternal, situasi atau kejadian yang berdampak pada keadaan fisik atau psikologis seseorang.
Wijono (2006), Stres adalah reaksi alami tubuh untuk mempertahankan diri dari tekanan secara psikis. Tubuh manusia dirancang khusus agar bisa merasakan dan merespon gangguan psikis ini. Tujuannya agar manusia tetap waspada dan siap untuk menghindari bahaya. Kondisi ini jika berlangsung lama akan menimbulkan perasaan cemas, takut dan tegang.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stres adalah suatu peristiwa atau pengalaman yang negatif sebagai sesuatu yang mengancam, ataupun membahayakan dan individu yang berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang.
2.TEORI STRESS
Teori stres terus berkembang dari masa ke masa, tetapi secara funda-mental teori stres hanya digolongkan atas tiga pendekatan. Tiga pendekatan teori stres tersebut adalah: (1) stres model stimulus (rangsangan), (2) stres model response (respons), dan (3) stres model transactional (transaksional) (Bartlett, 1998; Lyon, 2012).
3.KLASIFIKASI STRES
Jenis stres dibagi menjadi dua, yaitu:
1)Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
2)Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.
4.BENTUK STRES
Stres yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menyebabkan tingakt prestasi yang rendah (tidak optimum). Bagi seorang manajer tekanan-tekanan yang diberikan kepada seorang karyawan haruslah dikaitkan dengan apakah stres yang ditimbulkan oleh tekanan-tekanan tersebut masih dalam keadaan wajar. Stres yang berlebihan akan menyebabkan karyawan tersebut frustasi dan dapat menurunkan prestasinya, sebaliknya stes yang terlalu rendah menyebabkan karyawan tersebut tidak bermotivasi untuk berprestasi.
5.MANAJEMEN STRESS
Dalam mengatasi stres terdapat banyak teknik yang dapat dipergunakan untuk pengurangan stress yang terjadi. Empat pendekatan yang paling sering digunakan adalah relaksasi otot, biofeedback, meditasi dan restrukturisasi kognitif yang semuanya membantu para karyawan mengatasi stress yang berkaitan dengan pekerjaan.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Ah. Yusuf S., S.Kp., M.Kes.